HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat ke 5.943,02 Berkat Aksi Borong Saham Murah, Sektor Teknologi Melonjak 2,76 Persen

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Menguat ke 5.943,02 Berkat Aksi Borong Saham Murah, Sektor Teknologi Melonjak 2,76 Persen
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 17,04 poin atau 0,29 persen ke posisi 5.943,02 pada perdagangan Rabu (14/10/2026), didorong aksi pembelian saham yang dinilai murah atau bargain hunting setelah pasar menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG mengalami pelemahan selama dua sesi perdagangan sebelumnya sehingga mendorong sebagian investor kembali membeli saham pada harga yang dianggap menarik.

Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan turut menguat 5,40 poin atau 0,92 persen ke posisi 594,59.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus atau Nico, mengatakan aksi pembelian saham murah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pemulihan IHSG.

“IHSG menguat setelah melemah selama dua sesi sebelumnya. Aksi beli pada saham-saham yang dinilai murah (bargain hunting) muncul setelah pasar menyentuh level terendah dalam tiga bulan,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

IHSG Bangkit Setelah Dua Hari Melemah, Investor Cermati Kebijakan The Fed

Nico menjelaskan bahwa aksi bargain hunting muncul ketika investor menilai harga sejumlah saham telah berada pada level yang relatif murah setelah mengalami penurunan.

Aktivitas pembelian tersebut membantu IHSG kembali bergerak di zona positif setelah sebelumnya mengalami tekanan selama dua sesi perdagangan berturut-turut.

Dari sisi sentimen global, pelaku pasar turut mencermati perkembangan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.

Menurut Nico, investor memperhatikan sinyal kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar atau dovish dari sejumlah pejabat The Fed sambil menunggu publikasi data inflasi terbaru AS.

Salah satu pernyataan yang menjadi perhatian pasar berasal dari Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengenai kemungkinan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Williams mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan masih memerlukan satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada 2026.

Namun, ia juga memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut kemungkinan tidak diperlukan pada 2027.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah suku bunga AS serta dampaknya terhadap pasar keuangan global.

Selain kebijakan moneter, perhatian investor juga tertuju pada rencana publikasi data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan mengalami peningkatan.

Inflasi AS secara tahunan atau year on year (yoy) diproyeksikan naik menjadi 3,6 persen dari angka sebelumnya sebesar 3,4 persen.

Dengan demikian, inflasi tahunan AS diperkirakan meningkat sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan periode sebelumnya.

Inflasi inti AS juga diproyeksikan meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan.

Inflasi inti merupakan indikator inflasi yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang cenderung mengalami fluktuasi.

Perkembangan data inflasi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap keputusan suku bunga The Fed pada periode berikutnya.

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1 Persen

Dari sisi domestik, pelaku pasar turut mencermati pembaruan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disampaikan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,0 persen.

Revisi tersebut menunjukkan peningkatan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,1 poin persentase.

Peningkatan perkiraan pertumbuhan tersebut didukung oleh upaya pemerintah dalam memperkuat daya beli masyarakat serta mendorong belanja pemerintah untuk menopang aktivitas perekonomian.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai prospek ekonomi Indonesia.

Sementara itu, IHSG mengawali perdagangan Rabu dengan bergerak di zona positif.

Penguatan indeks bertahan sepanjang sesi pertama perdagangan hingga penutupan sesi tersebut.

Memasuki sesi kedua, IHSG masih mampu mempertahankan pergerakan di zona hijau meskipun investor tetap mencermati berbagai sentimen domestik dan global.

Hingga penutupan perdagangan sore, IHSG berhasil mempertahankan penguatannya dan berakhir pada level 5.943,02.

Sektor Teknologi Pimpin Penguatan IHSG dengan Kenaikan 2,76 Persen

Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX Industrial Classification (IDX-IC), sebanyak delapan sektor saham mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu.

Sektor teknologi menjadi sektor dengan kinerja terbaik setelah mencatatkan kenaikan sebesar 2,76 persen.

Penguatan sektor teknologi menjadi yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lain yang bergerak di zona positif.

Sektor properti menyusul dengan kenaikan sebesar 1,78 persen.

Sementara itu, sektor barang konsumen primer turut mencatatkan penguatan sebesar 0,41 persen.

Di sisi lain, terdapat tiga sektor saham yang mengalami pelemahan selama perdagangan berlangsung.

Sektor barang konsumen nonprimer mencatatkan penurunan terdalam sebesar 0,72 persen.

Sektor energi mengalami pelemahan sebesar 0,59 persen, sedangkan sektor infrastruktur turun sebesar 0,19 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG secara keseluruhan tidak diikuti oleh kenaikan seluruh sektor saham di BEI.

Saham TRON hingga PTSP Masuk Daftar Penguatan Terbesar

Dari sisi pergerakan saham individual, sejumlah emiten mencatatkan kenaikan harga terbesar selama perdagangan Rabu.

Saham yang masuk kelompok penguatan terbesar atau top gainers adalah TRON, SONA, BLTZ, BIKE, dan PTSP.

Kelima saham tersebut menjadi bagian dari emiten yang mencatatkan kenaikan harga tertinggi pada perdagangan tersebut.

Sementara itu, saham yang mengalami penurunan harga terbesar atau top losers adalah SOSS, PCAR, SBMA, VKTR, dan ALKA.

Kelima saham tersebut tercatat sebagai kelompok emiten dengan pelemahan harga paling besar pada perdagangan yang sama.

Dari sisi aktivitas transaksi, frekuensi perdagangan saham di BEI mencapai 1,47 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan tercatat sebanyak 30,05 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp11,22 triliun.

Berdasarkan pergerakan harga saham individual, sebanyak 291 saham mengalami kenaikan harga.

Sebanyak 342 saham mengalami penurunan, sedangkan 330 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau bergerak stagnan.

Dengan demikian, jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan saham yang menguat, dengan selisih mencapai 51 saham.

Secara keseluruhan, terdapat 963 saham yang tercatat dalam data pergerakan harga pada perdagangan tersebut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak selalu diikuti kenaikan harga mayoritas saham yang diperdagangkan.

IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Mayoritas Bursa Saham Asia

Sementara itu, pergerakan bursa saham regional Asia pada perdagangan Rabu sore menunjukkan hasil yang bervariasi dengan sebagian besar indeks utama mengalami pelemahan.

Indeks Nikkei Jepang menjadi salah satu indeks regional yang mencatatkan penguatan sebesar 0,10 persen ke posisi 67.848,00.

Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,44 persen ke posisi 6.008,81.

Indeks Shanghai China juga mengalami penurunan sebesar 0,89 persen ke posisi 3.767,13.

Pelemahan indeks Shanghai menjadi yang terdalam secara persentase di antara lima indeks regional Asia yang menjadi pembanding.

Indeks Hang Seng Hong Kong turut melemah sebesar 0,13 persen ke posisi 24.314,17.

Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 0,13 persen ke posisi 5.423,33.

Dari lima indeks regional tersebut, hanya Nikkei yang mencatatkan penguatan, sedangkan Kospi, Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times mengalami penurunan.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa IHSG berhasil mencatatkan kinerja positif di tengah pelemahan mayoritas bursa saham regional Asia.

Penguatan IHSG pada perdagangan Rabu terutama didukung oleh aksi pembelian saham yang dinilai murah setelah indeks mengalami penurunan selama dua sesi sebelumnya.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks berikutnya, terutama perkembangan inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta kondisi perekonomian domestik.

Dengan penutupan di posisi 5.943,02, IHSG berhasil kembali menguat, sementara indeks LQ45 mencatatkan kenaikan persentase lebih tinggi sebesar 0,92 persen yang mencerminkan penguatan kelompok saham unggulan pada perdagangan tersebut.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026