HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS akibat Inflasi Amerika Tinggi, Bank Indonesia Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Nila

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS akibat Inflasi Amerika Tinggi, Bank Indonesia Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Nila
Foto: (Sumber :Arsip foto - Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea memaparkan materi dalam Taklimat Media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (30/9/2026). ANTARA/Rizka Khaerunnisa/pri.)

Pantau - Bank Indonesia (BI) memastikan terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi, menyusul tekanan global akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.903 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme perdagangan berjalan dengan baik.

“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Erwin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya tekanan terhadap mata uang negara berkembang akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Inflasi Amerika Serikat Capai 3,7 Persen, Tekanan terhadap Rupiah Meningkat

Erwin menjelaskan bahwa data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan global.

Inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada September 2026 tercatat mencapai 3,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan inflasi berada pada level 3,6 persen.

Sementara itu, inflasi inti AS juga meningkat menjadi 2,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen.

Kenaikan inflasi tersebut mendorong meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan mengambil kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Perkembangan ini turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan internasional, termasuk nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.

Menurut Erwin, ketidakpastian kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor yang terus dicermati Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.

BI Intervensi Pasar Valas dan Beli Surat Berharga Negara

Untuk menghadapi tekanan eksternal, Bank Indonesia menjalankan sejumlah langkah stabilisasi melalui instrumen moneter dan pasar keuangan.

Intervensi dilakukan melalui transaksi NDF di pasar luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

Selain itu, BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.

Bank Indonesia juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memastikan kecukupan likuiditas tetap terjaga.

Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus diperkuat untuk memantau perkembangan kondisi keuangan.

Langkah tersebut diarahkan agar mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tidak menyimpang dari fundamental perekonomian nasional.

Harga Minyak Dunia Tembus 105 Dolar AS per Barel

Selain tekanan inflasi Amerika Serikat, Bank Indonesia turut mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang masih diliputi ketidakpastian.

Erwin menjelaskan bahwa belum adanya kepastian penyelesaian konflik di kawasan tersebut mendorong harga minyak dunia bertahan pada level tinggi.

Harga minyak tercatat berada di atas 105 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Kondisi tersebut turut memperburuk sentimen pasar global dan meningkatkan kehati-hatian investor dalam menempatkan dana pada aset berisiko.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) sempat melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025.

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun juga sempat meningkat 12 basis poin menjadi 4,90 persen.

“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin.

Tekanan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

BI Sebut Pelemahan Rupiah Masih Terbatas, Cadangan Devisa Rp146,3 Miliar Dolar AS

Di tengah tekanan global, Bank Indonesia menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.

Erwin menyebutkan pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) tercatat terbatas sebesar 0,17 persen.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS.

Cadangan devisa tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global, termasuk arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan harga minyak dunia.

Melalui intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, serta koordinasi dengan pelaku pasar, BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026