
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membantah kabar pemangkasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di Bali hingga lebih dari 50 persen yang disebut menjadi penyebab kelangkaan dan antrean panjang kendaraan selama sepekan terakhir.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak mengurangi kuota Pertalite untuk wilayah Bali, melainkan menyiapkan penambahan pasokan dan penguatan cadangan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil setelah menggelar rapat koordinasi penanganan antrean BBM di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar, Bali, Senin, 19 Oktober 2026.
"Tidak, tidak ada pemangkasan kuota bahkan bisa ditambahkan," kata Bahlil Lahadalia.
Menurut Bahlil, antrean panjang kendaraan di sejumlah lokasi pengisian BBM di Bali terjadi akibat gangguan distribusi pasokan, bukan karena kebijakan pengurangan kuota Pertalite.
Gangguan tersebut dipicu kendala teknis pada bagian jangkar kapal pengangkut BBM ketika hendak bersandar di terminal sehingga proses pengiriman bahan bakar mengalami keterlambatan.
Akibat keterlambatan distribusi, cadangan Pertalite di Bali mengalami penurunan selama sekitar tiga hingga empat hari dan berdampak pada ketersediaan BBM di sejumlah lokasi pengisian.
Bahlil Ungkap Penyebab Kelangkaan Pertalite di Bali
Bahlil menjelaskan bahwa gangguan distribusi BBM di Bali bermula ketika kapal pengangkut bahan bakar mengalami kendala pada bagian jangkar saat hendak bersandar.
Permasalahan teknis tersebut menghambat proses pengiriman dan penyaluran pasokan BBM ke wilayah Bali.
Keterlambatan pengiriman kemudian menyebabkan cadangan Pertalite mengalami penurunan selama sekitar tiga hingga empat hari.
Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan bahan bakar dan memicu antrean panjang kendaraan masyarakat yang hendak mengisi Pertalite.
Bahlil menegaskan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan kelancaran distribusi, bukan pengurangan alokasi BBM bersubsidi oleh pemerintah.
Untuk mengatasi gangguan pasokan, pemerintah mengambil langkah memperkuat armada pengangkut BBM yang melayani distribusi ke Bali.
Jumlah kapal pengangkut BBM yang sebelumnya hanya tiga unit ditambah menjadi tujuh unit guna mempercepat pengiriman bahan bakar.
Ketujuh kapal tersebut diarahkan untuk mendukung distribusi melalui dermaga Terminal BBM Sanggaran di Denpasar dan Terminal BBM Manggis di Kabupaten Karangasem.
Penambahan armada diharapkan dapat mempercepat pemulihan pasokan setelah distribusi sebelumnya mengalami keterlambatan akibat kendala teknis kapal.
Pemerintah Tambah Kapal BBM dan Tingkatkan Cadangan Pertalite Jadi 15 Hari
Selain menambah jumlah kapal pengangkut, Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menginstruksikan peningkatan ketahanan cadangan Pertalite di Bali.
Instruksi tersebut disampaikan kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Bahlil meminta agar ketahanan cadangan Pertalite yang sebelumnya direncanakan mencukupi kebutuhan selama 11 hari ditingkatkan menjadi 15 hari.
Dengan kebijakan tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan ketahanan cadangan BBM selama empat hari dibandingkan rencana sebelumnya.
"Jadi bukan mengurangi (kuota), kami menambah," ucap Bahlil.
Peningkatan cadangan tersebut disiapkan untuk menjaga ketersediaan Pertalite sekaligus memperkuat ketahanan pasokan apabila kembali terjadi gangguan distribusi.
Bahlil memastikan pasokan Pertalite dengan target ketahanan cadangan selama 15 hari akan disalurkan secara berkelanjutan.
Meski demikian, pemerintah belum merinci tambahan volume Pertalite dalam satuan liter yang diperlukan untuk meningkatkan ketahanan cadangan dari 11 menjadi 15 hari.
Penambahan armada kapal dan peningkatan cadangan diharapkan dapat membantu mengurangi antrean kendaraan serta memulihkan kelancaran distribusi BBM di Bali.
Viral Kabar Kuota Pertalite Bali Dipangkas Lebih dari 50 Persen
Sebelumnya, beredar informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa kelangkaan Pertalite di Bali disebabkan oleh pemangkasan kuota BBM bersubsidi hingga lebih dari 50 persen.
Informasi tersebut mengaitkan antrean panjang kendaraan di sejumlah lokasi pengisian BBM dengan dugaan pengurangan alokasi Pertalite untuk Provinsi Bali.
Namun, Bahlil membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan pemangkasan kuota sebagaimana narasi yang beredar.
Menurutnya, pemerintah justru menyiapkan penambahan pasokan dan peningkatan cadangan untuk mengatasi gangguan distribusi bahan bakar.
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, kuota Pertalite untuk Provinsi Bali pada 2026 ditetapkan sebesar 764.106.000 liter.
Hingga September 2026, realisasi penyaluran Pertalite di Bali mencapai 560.869.000 liter atau sekitar 73,4 persen dari total kuota tahunan.
Dengan demikian, selisih antara kuota Pertalite sepanjang 2026 dan realisasi penyaluran hingga September tercatat sebesar 203.237.000 liter.
Angka tersebut merupakan selisih kuota tahunan dengan realisasi penyaluran, bukan jumlah stok fisik Pertalite yang tersedia di terminal penyimpanan BBM.
Kuota Solar Bali Capai 251,55 Juta Liter pada 2026
Selain Pertalite, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara juga mencatat realisasi penyaluran BBM jenis solar di Provinsi Bali.
Kuota solar untuk Bali pada 2026 ditetapkan sebesar 251.558.000 liter.
Hingga September 2026, realisasi penyaluran solar telah mencapai 183.175.000 liter atau sekitar 72,8 persen dari total kuota tahunan.
Berdasarkan data tersebut, selisih antara kuota solar sepanjang 2026 dan realisasi penyaluran hingga September mencapai 68.383.000 liter.
Data penyaluran Pertalite dan solar tersebut menggambarkan penggunaan BBM hingga September 2026 dibandingkan dengan kuota tahunan yang telah ditetapkan.
Namun, selisih antara kuota dan realisasi penyaluran tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan jumlah cadangan fisik BBM yang tersedia di terminal penyimpanan.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Migas, dan BPH Migas terus menyiapkan penguatan distribusi serta peningkatan ketahanan cadangan untuk menangani gangguan pasokan Pertalite di Bali.
Dengan penambahan kapal pengangkut dari tiga menjadi tujuh unit dan peningkatan target ketahanan cadangan dari 11 menjadi 15 hari, pemerintah berupaya memulihkan kelancaran distribusi sekaligus mencegah terulangnya gangguan pasokan.
Berdasarkan penjelasan Bahlil, penyebab utama antrean panjang BBM di Bali adalah keterlambatan distribusi akibat kendala teknis kapal pengangkut, bukan pemangkasan kuota Pertalite sebagaimana informasi yang beredar di media sosial.
- Penulis :
- Shila Glorya




