HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melonjak 2,72 Persen ke Level 5.132, Kebijakan BEI Merespons MSCI Dorong Optimisme Pasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Melonjak 2,72 Persen ke Level 5.132, Kebijakan BEI Merespons MSCI Dorong Optimisme Pasar
Foto: (Sumber :Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurun di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026). Menyikapi penurunan tersebut, DPR meminta BEI melakukan perbaikan dengan mengakomodasi masukan dari lembaga pemeringkat internasional, seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 135,75 poin atau 2,72 persen ke level 5.132,36 pada perdagangan Selasa (20/10/2026) pukul 09.25 WIB, seiring respons pelaku pasar terhadap kebijakan otoritas pasar modal Indonesia dalam menindaklanjuti evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG sempat dibuka melemah pada awal perdagangan.

Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan naik 23,86 poin atau 4,88 persen ke posisi 512,32.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka apabila saham-saham berkapitalisasi besar mulai pulih dari tekanan jual.

"Jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, maka IHSG berpotensi untuk menguat di atas level 5.000 pada perdagangan Selasa," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

BEI Umumkan Dua Kebijakan Baru untuk Merespons Evaluasi MSCI

Penguatan IHSG berlangsung di tengah langkah otoritas pasar modal Indonesia melakukan sejumlah penyesuaian kebijakan.

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah perubahan batas penolakan otomatis bawah atau Auto Reject Bawah (ARB) menjadi 7 persen.

Meski tekanan jual masih berlangsung, sejumlah saham mulai bangkit dari batas ARB setelah beberapa emiten mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham.

Selain perubahan ARB, BEI mengumumkan dua inisiatif baru yang berkaitan dengan transparansi kepemilikan saham dan penyusunan indeks.

Kebijakan pertama berupa penambahan keterangan status afiliasi atau nonafiliasi dalam publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan sebesar 1 persen.

Kebijakan kedua adalah mengeluarkan seluruh saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya otoritas pasar modal merespons evaluasi MSCI.

Sebanyak 80 Saham HSC Akan Dikeluarkan dari IHSG

Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC.

Seluruh saham tersebut memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG.

Dengan bobot yang cukup besar, pengeluaran saham HSC dari indeks berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Ratna mengatakan kedua kebijakan baru BEI diharapkan dapat membantu memenuhi standar yang menjadi perhatian MSCI.

Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan tersebut belum menjamin MSCI akan memberikan respons positif.

“Kebijakan tersebut bertujuan membuat pergerakan IHSG mencerminkan kondisi pasar yang lebih wajar,” ujar Ratna.

Menurutnya, perubahan komposisi indeks berpotensi memicu penyesuaian harga karena sejumlah saham HSC memiliki kontribusi besar terhadap perhitungan IHSG.

“Proses penyesuaian ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, namun diharapkan mendukung pembentukan indeks yang lebih mencerminkan kondisi pasar dan likuiditas saham secara representatif,” ujar Ratna.

Saham Berkapitalisasi Besar Berpeluang Menopang IHSG

Ratna menilai pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor penting bagi arah IHSG pada perdagangan Selasa.

Pemulihan harga saham unggulan dapat membantu indeks bertahan di atas level psikologis 5.000.

Pada pukul 09.25 WIB, IHSG telah berada di posisi 5.132,36 setelah naik 2,72 persen.

Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45 yang meningkat 4,88 persen menjadi 512,32.

Meski demikian, pasar masih menghadapi potensi fluktuasi akibat penyesuaian kebijakan dan tekanan jual pada sejumlah saham.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan bursa global serta kondisi geopolitik yang memengaruhi sentimen investasi.

Wall Street Bergerak Variatif, Investor Tunggu Laporan Keuangan

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (19/10/2026).

  • Indeks S&P 500 menguat 0,41 persen ke posisi 7.690,73.
  • Indeks Nasdaq Composite naik 1,11 persen menjadi 26.430,89.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,07 persen ke level 51.966,03.

Pergerakan tersebut terjadi setelah tekanan jual tajam pada saham-saham sektor kecerdasan buatan atau AI pada pekan sebelumnya.

Ratna mengatakan perhatian investor mulai beralih kepada laporan laba kuartalan perusahaan yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini.

Selain kinerja perusahaan, pelaku pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

“Investor menantikan keputusan kebijakan Fed pekan depan, dimana para pejabat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah,” ujar Ratna.

Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pasar keuangan global juga dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi.

Investor mencermati meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk Persia serta serangan antara Ukraina dan Rusia yang menyasar infrastruktur energi.

Pada Minggu (18/10/2026), Ukraina dilaporkan menyerang terminal minyak di St Petersburg, Rusia.

Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Arab Saudi.

Ketegangan tersebut turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan menguat ke level 103 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent bertahan di sekitar 109 dolar AS per barel.

Harga kontrak minyak berjangka jangka panjang juga mulai meningkat seiring ekspektasi bahwa gangguan terhadap infrastruktur energi dapat berlanjut hingga 2027.

Bursa Eropa dan Asia Mayoritas Melemah

Berbeda dengan penguatan IHSG pada awal perdagangan Selasa, sejumlah bursa saham regional Asia bergerak melemah.

  • Indeks Nikkei Jepang turun 0,70 persen ke posisi 64.463,3.
  • Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,11 persen menjadi 23.918,72.
  • Indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 2,45 persen ke level 5.626,05.
  • Indeks Shanghai China turun 0,12 persen menjadi 3.726,48.

Sementara itu, indeks Straits Times Singapura menguat 0,35 ke posisi 5.392,99.

Tekanan juga terjadi pada mayoritas bursa saham Eropa dalam perdagangan Senin (19/10/2026).

Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,92 persen, FTSE 100 Inggris turun 1,08 persen, DAX Jerman terkoreksi 1,18 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 1,11 persen.

Di tengah pergerakan pasar global yang beragam, IHSG berhasil mencatat penguatan pada awal perdagangan Selasa setelah otoritas pasar modal Indonesia mengumumkan langkah penyesuaian kebijakan untuk merespons evaluasi MSCI.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026