
Pantau - Pemerintah Indonesia terus memperkuat program hilirisasi mineral sebagai strategi meningkatkan investasi nasional, membangun industri dalam negeri, dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam, dengan kontribusi sektor hilirisasi mencapai sekitar 30 persen dari total investasi Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa nilai investasi dari sektor hilirisasi telah mencapai 61 miliar dolar AS atau sekitar 30 persen dari keseluruhan investasi nasional.
Nilai tersebut dilaporkan mengalami peningkatan sebesar 7,2 persen, yang menunjukkan peran hilirisasi dalam mendorong kegiatan penanaman modal di Indonesia.
Pemerintah kini mengarahkan pengembangan mineral strategis agar tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk industri dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Kebijakan tersebut mencakup pengembangan rantai produksi dari kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, manufaktur, hingga pemanfaatan teknologi dan energi bersih.
Rosan Roeslani Tegaskan Hilirisasi Jadi Pilar Ekonomi Indonesia
Rosan Roeslani menegaskan bahwa kekayaan mineral Indonesia menjadi salah satu modal utama dalam membangun industri nasional yang memiliki daya saing.
Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah cadangan mineral penting dunia, termasuk nikel, bauksit, tembaga, serta mineral kritis lainnya yang dibutuhkan berbagai sektor industri.
"Kita adalah rumah bagi beberapa cadangan paling penting di dunia untuk nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis strategis lainnya. Tujuan kita adalah membangun industri. Itulah sebabnya hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita," ujar Rosan dalam kegiatan Indonesia Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Rosan menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi Indonesia kini mulai berkembang dari pembangunan fasilitas pengolahan mineral menuju pembentukan ekosistem industri yang lebih terintegrasi.
Pengembangan tersebut bertujuan menghubungkan kegiatan pertambangan dengan industri pengolahan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi.
Melalui integrasi tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan manfaat ekonomi dari mineral yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan sebagai bahan mentah.
MIND ID Kembangkan Hilirisasi Nikel, Bauksit, Aluminium, dan Tembaga
Salah satu perusahaan yang menjalankan strategi pengembangan rantai nilai mineral nasional adalah Grup MIND ID.
Grup badan usaha milik negara di sektor pertambangan tersebut mengembangkan hilirisasi pada sejumlah komoditas strategis, terutama nikel, bauksit, alumina, aluminium, dan tembaga.
Pengembangan hilirisasi diarahkan agar pemanfaatan mineral tidak berhenti pada kegiatan pertambangan atau produksi bahan setengah jadi.
Melalui pengolahan lanjutan, komoditas mineral diharapkan dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri manufaktur di dalam negeri.
Pada sektor bauksit, MIND ID mengembangkan rantai produksi yang menghubungkan bahan tambang dengan pengolahan alumina hingga menghasilkan aluminium.
Produk aluminium tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan industri manufaktur nasional.
Sementara itu, hilirisasi tembaga diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan mineral strategis dalam industri kelistrikan, elektronik, dan manufaktur.
Grup MIND ID juga mempersiapkan pengembangan industri daur ulang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem industri sirkuler di Indonesia.
Hilirisasi Nikel Didorong untuk Perkuat Industri Baterai Kendaraan Listrik
Pengembangan hilirisasi nikel menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pemerintah memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Grup MIND ID berpartisipasi dalam pembangunan rantai pasok baterai kendaraan listrik yang menghubungkan sumber daya mineral dengan industri pengolahan dan manufaktur.
Pengembangan tersebut bertujuan agar nikel Indonesia tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi juga dimanfaatkan dalam produksi komponen baterai kendaraan listrik.
Rantai industri yang dibangun mencakup pengolahan mineral, produksi sel baterai, hingga pemanfaatannya dalam kendaraan listrik.
Rosan menyebut elektrifikasi sebagai salah satu bidang yang menonjol dalam pengembangan industri berbasis hilirisasi.
"Ada tiga bidang yang menonjol. Pertama, elektrifikasi (electrification). Mulai dari tambang hingga sel baterai (battery cells) hingga mobil listrik. Indonesia kini memproduksi sel baterai di dua pabrik besar bersama Hyundai dan juga dengan CATL serta IBC, perusahaan BUMN kita, yang mulai beroperasi secara bertahap pada bulan Agustus," jelas Rosan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus hilirisasi mineral nasional.
Pemerintah Bangun Ekosistem Industri Terintegrasi dari Tambang hingga Manufaktur
Pemerintah menempatkan pengembangan industri terintegrasi sebagai arah lanjutan kebijakan hilirisasi mineral.
Strategi tersebut dilakukan dengan menghubungkan sektor pertambangan, fasilitas pengolahan, industri manufaktur, teknologi, dan energi bersih dalam satu rantai nilai.
Pada sektor nikel, pengembangan diarahkan untuk mendukung industri baterai dan kendaraan listrik.
Pada komoditas bauksit, pengolahan dilanjutkan hingga menghasilkan alumina dan aluminium untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Sementara itu, tembaga dikembangkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri kelistrikan, elektronik, dan manufaktur.
Pengembangan industri daur ulang juga menjadi bagian dari strategi untuk mendukung pemanfaatan kembali material dalam kegiatan produksi.
Dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap total investasi nasional, hilirisasi mineral tetap menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memperkuat basis industri dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




