
Pantau - Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, akan mengevaluasi dan memeriksa kode QR yang terpasang di sejumlah stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setelah muncul laporan mengenai perbedaan tujuan saat kode tersebut dipindai menggunakan aplikasi yang berbeda.
Persoalan tersebut mencuat setelah sebuah stiker kode QR di stan UMKM mengarahkan pengguna aplikasi perbankan ke halaman pembayaran yang terhubung dengan bank asal Tiongkok.
Namun, ketika kode yang sama dipindai menggunakan Google Lens, pengguna justru diarahkan menuju halaman pengunduhan aplikasi Si-Boyo di Google Play Store.
Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya menjelaskan bahwa stiker tersebut merupakan sarana sosialisasi aplikasi Si-Boyo, bukan kode pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Peristiwa ini menjadi perhatian karena masyarakat semakin banyak menggunakan kode QR untuk pembayaran di tempat usaha, pasar, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas umum.
Pemkot Surabaya Jelaskan Fungsi Stiker Kode QR Si-Boyo
Dinkopumdag Surabaya menyatakan bahwa kode QR yang menjadi perhatian masyarakat digunakan untuk memperkenalkan aplikasi Si-Boyo.
Si-Boyo merupakan platform belanja digital yang mengintegrasikan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dengan pelaku UMKM.
Melalui stiker tersebut, masyarakat diarahkan untuk mengakses halaman pengunduhan aplikasi yang tersedia di Google Play Store.
Namun, laporan mengenai munculnya halaman pembayaran ketika kode dipindai melalui aplikasi perbankan menimbulkan kebingungan.
Pemerintah Kota Surabaya kemudian menyatakan akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan ulang terhadap kode QR yang telah dipasang.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan fungsi kode sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Kode QR dan QRIS Memiliki Fungsi Berbeda
Kode QR merupakan teknologi yang dapat menyimpan informasi dan mengarahkan pengguna menuju berbagai layanan digital.
Informasi yang tersimpan dalam kode tersebut dapat berupa alamat situs, tautan pengunduhan aplikasi, informasi produk, maupun layanan pembayaran.
Sementara itu, QRIS merupakan standar kode QR untuk pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Melalui QRIS, masyarakat dapat melakukan transaksi menggunakan aplikasi uang elektronik, dompet digital, maupun layanan perbankan seluler dari penyedia jasa pembayaran berizin.
Perbedaan fungsi tersebut penting dipahami karena tidak semua kode QR yang ditempel di tempat usaha digunakan untuk menerima pembayaran.
Kode QR yang mengarah ke halaman pengunduhan aplikasi, misalnya, memiliki tujuan berbeda dari QRIS yang digunakan untuk transaksi keuangan.
Stiker Berlogo Bank Berpotensi Membingungkan Konsumen
Dalam kasus di Surabaya, stiker kode QR yang menjadi perhatian disebut memuat logo Bank Mandiri.
Stiker tersebut juga dipasang di stan UMKM yang memiliki penanda QRIS.
Keberadaan beberapa kode dengan tampilan dan penanda berbeda di satu lokasi dapat membuat konsumen kesulitan menentukan kode yang harus dipindai untuk membayar.
Terlebih, masyarakat telah terbiasa menggunakan kode QR sebagai sarana pembayaran sehari-hari.
Meski demikian, penjelasan pemerintah kota bahwa stiker tersebut digunakan untuk mengunduh aplikasi tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan telah terjadi penipuan.
Perbedaan hasil pemindaian melalui aplikasi perbankan dan Google Lens tetap menjadi persoalan teknis yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Bank Indonesia Anjurkan Pengguna Memeriksa Nama Pedagang
Bank Indonesia menjelaskan bahwa transaksi QRIS dapat dilakukan melalui aplikasi pembayaran dari penyedia jasa yang telah memperoleh izin.
Sebelum menyelesaikan pembayaran, pengguna perlu memastikan nama pedagang atau penerima yang muncul pada layar aplikasi sesuai dengan tujuan transaksi.
Pemeriksaan tersebut penting untuk menghindari kesalahan pengiriman dana kepada pihak yang tidak dimaksudkan.
Pengguna juga perlu memastikan nominal pembayaran telah sesuai sebelum melakukan konfirmasi.
Setelah transaksi selesai, pembeli dan pedagang dianjurkan memeriksa notifikasi pembayaran untuk memastikan transaksi berhasil.
Langkah pemeriksaan tersebut dapat dilakukan meskipun proses pembayaran melalui QRIS hanya membutuhkan waktu singkat.
Masyarakat Diingatkan Waspada Saat Memindai Kode QR
Penggunaan pembayaran digital melalui QRIS semakin umum dijumpai di berbagai tempat usaha, termasuk stan makanan dan pelaku UMKM di Surabaya.
Sistem tersebut memudahkan konsumen karena pembayaran dapat dilakukan tanpa menyiapkan uang tunai.
Bagi pedagang, pembayaran digital juga membantu mengurangi kebutuhan pengelolaan uang tunai dalam transaksi sehari-hari.
Namun, kemudahan tersebut perlu disertai pemahaman mengenai perbedaan kode QR untuk pembayaran dan kode yang digunakan untuk mengakses layanan digital lainnya.
Konsumen dapat memastikan terlebih dahulu fungsi kode yang terpasang dengan menanyakan kepada pedagang apabila terdapat keraguan.
Pemeriksaan nama penerima, jumlah pembayaran, dan konfirmasi transaksi menjadi langkah penting sebelum menyelesaikan pembayaran digital.
Sementara itu, evaluasi yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya diharapkan dapat memperjelas penggunaan stiker kode QR pada stan UMKM agar tidak menimbulkan kebingungan bagi konsumen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




