HOME  ⁄  Ekonomi

Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut Jadi 46,7 Juta Orang, Perlindungan Ekonomi Diperlukan untuk Cegah Kemunduran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut Jadi 46,7 Juta Orang, Perlindungan Ekonomi Diperlukan untuk Cegah Kemunduran
Foto: (Sumber :Petugas membuat paket per papan telur pada pasar pangan murah di pedesaan Gampong Jawa, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (22/9/2026). Pasar pangan pangan murah bagi warga pedesaan secara berkelanjutan itu digelar sebagai upaya pemerintah menjaga stabilisasi harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat pedesaan sekaligus upaya pengendalian inflasi daerah. ANTARA FOTO/Rahmad/bar (ANTARA FOTO/RAHMAD).)

Pantau - Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 46,7 juta orang pada 2025, sehingga perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan mengalami tekanan ekonomi menjadi perhatian penting.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah pada 2019 mencapai 21,45 persen dari total populasi Indonesia.

Namun, jumlah tersebut menyusut menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen dari populasi pada 2024.

Penurunan kembali terjadi pada 2025 ketika jumlah penduduk kelas menengah tercatat sekitar 46,7 juta orang atau setara 16,6 persen dari total penduduk.

Dengan demikian, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia berkurang sekitar 10,63 juta orang dalam periode 2019 hingga 2025.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

BPS Catat Penurunan Kelas Menengah dalam Enam Tahun

Berdasarkan klasifikasi pengeluaran BPS, penduduk kelas menengah berada pada kelompok dengan pengeluaran sekitar Rp2 juta hingga Rp9,9 juta per kapita setiap bulan.

Klasifikasi tersebut menggunakan besaran pengeluaran untuk menggambarkan posisi ekonomi masyarakat dalam kelompok kesejahteraan tertentu.

Meski jumlah kelas menengah mengalami penyusutan, penurunan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh penduduk yang keluar dari kategori itu telah jatuh ke dalam kemiskinan.

Sebagian masyarakat dapat bergeser ke kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class, yakni kelompok yang masih mampu memenuhi kebutuhan hidup tetapi memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap tekanan ekonomi.

Perubahan posisi ekonomi tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan pengeluaran dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain besaran pengeluaran, ketahanan ekonomi keluarga juga dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang tidak selalu terlihat dalam pengelompokan statistik.

Utang, Tabungan, dan Stabilitas Pekerjaan Pengaruhi Ketahanan Keluarga

Ketahanan ekonomi rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan atau pengeluaran setiap bulan.

Dua keluarga dengan tingkat penghasilan yang sama dapat memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat perbedaan jumlah tanggungan, utang, tabungan, serta kepastian pekerjaan.

Rumah tangga dengan jumlah tanggungan lebih besar dapat menghadapi kebutuhan pengeluaran yang berbeda dibandingkan keluarga dengan jumlah anggota lebih sedikit.

Sementara itu, kepemilikan tabungan yang mudah dicairkan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu keluarga menghadapi kebutuhan mendesak.

Stabilitas pekerjaan juga berpengaruh terhadap kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan pendapatan dan merencanakan kebutuhan jangka panjang.

Karena itu, pemantauan kondisi kesejahteraan masyarakat perlu memperhatikan perubahan keadaan ekonomi keluarga, bukan hanya posisi mereka dalam kategori statistik.

Perlindungan Kelas Menengah Tidak Harus Berupa Bantuan Sosial untuk Semua

Perlindungan terhadap kelas menengah tidak berarti seluruh penduduk dalam kelompok tersebut harus menerima bantuan sosial dari pemerintah.

Pendekatan perlindungan lebih diarahkan untuk memastikan rumah tangga yang mengalami tekanan ekonomi memperoleh dukungan sebelum kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Upaya tersebut menjadi penting karena guncangan ekonomi yang bersifat sementara dapat berkembang menjadi kemunduran berkepanjangan apabila tidak ditangani dengan tepat.

Pemantauan perubahan kondisi rumah tangga diperlukan untuk mengetahui kelompok masyarakat yang mengalami penurunan kesejahteraan dan membutuhkan dukungan.

Dengan pendekatan tersebut, perlindungan ekonomi dapat lebih diarahkan kepada keluarga yang menghadapi risiko penurunan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup.

Daya Beli Kelas Menengah Berkaitan dengan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ketahanan ekonomi kelas menengah memiliki kaitan dengan konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar, menjaga pengeluaran, dan merencanakan masa depan merupakan bagian penting dari kondisi kesejahteraan masyarakat.

Penyusutan jumlah penduduk kelas menengah menunjukkan perlunya perhatian terhadap mobilitas ekonomi masyarakat, terutama kelompok yang berpotensi mengalami penurunan kesejahteraan.

Pemantauan yang lebih menyeluruh terhadap kondisi rumah tangga dapat membantu mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan perlindungan sebelum tekanan ekonomi semakin berat.

Dengan demikian, tantangan perlindungan kelas menengah tidak hanya berkaitan dengan upaya memperbesar jumlah penduduk dalam kelompok tersebut, tetapi juga menjaga agar guncangan ekonomi sementara tidak berubah menjadi kemunduran kesejahteraan yang berkepanjangan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026