HOME  ⁄  Ekonomi

BI Catat Modal Asing Masuk 9,9 Miliar Dolar AS Berkat Insentif Lindung Nilai, Rupiah Masih Tertekan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BI Catat Modal Asing Masuk 9,9 Miliar Dolar AS Berkat Insentif Lindung Nilai, Rupiah Masih Tertekan
Foto: Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu 21/10/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Bank Indonesia (BI) mencatat kebijakan insentif lindung nilai (hedging) yang diterapkan sejak Juni 2026 berhasil mendukung aliran masuk modal asing (inflow) sebesar 9,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) hingga 20 Oktober 2026.

Gubernur BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa capaian tersebut didukung penerapan sejumlah instrumen moneter yang dirancang untuk menarik investasi asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kebijakan insentif tersebut mencakup instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi swap beli lindung nilai konvensional kepada BI, serta transaksi local currency transaction (LCT).

"Sejak Juni hingga Oktober kita mulai melakukan kebijakan insentif ini, baik dalam bentuk swap maupun DNDF, dan sepanjang Juni kemarin hingga saat ini sudah berhasil mendatangkan inflow sampai 9,9 miliar dolar AS," kata Destry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

BI Optimalkan Insentif Lindung Nilai untuk Tarik Modal Asing

Destry menjelaskan bahwa kebijakan insentif lindung nilai menjadi salah satu langkah BI untuk memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik terhadap tekanan eksternal.

Melalui instrumen DNDF, BI menyediakan fasilitas transaksi valuta asing yang memungkinkan pelaku pasar mengelola risiko perubahan nilai tukar tanpa harus menyerahkan pokok valuta asing.

Penyelesaian transaksi DNDF dilakukan menggunakan rupiah sehingga dapat membantu pelaku pasar mengurangi risiko akibat fluktuasi kurs.

Selain DNDF, BI memberikan insentif melalui instrumen swap beli lindung nilai konvensional sebagai fasilitas pengelolaan risiko nilai tukar dan kebutuhan likuiditas valuta asing.

Instrumen swap memungkinkan pelaku pasar melakukan pertukaran mata uang berdasarkan kesepakatan tertentu untuk mendukung pengelolaan transaksi keuangan.

BI juga memperkuat penggunaan mata uang lokal melalui kebijakan LCT dalam transaksi ekonomi dan keuangan dengan negara-negara mitra.

Penerapan LCT bertujuan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing tertentu.

Kombinasi kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing di pasar keuangan Indonesia.

Rupiah Melemah ke Rp17.985 per Dolar AS pada 20 Oktober 2026

Di tengah meningkatnya aliran modal asing, BI mencatat nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat perkembangan ekonomi dan keuangan global.

Berdasarkan catatan BI, rupiah berada pada level Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026.

Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,61 persen secara point to point (ptp) dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2026.

Sebelumnya, rupiah sempat mengalami penguatan hingga pertengahan September 2026 sebelum kembali tertekan pada Oktober.

BI mengidentifikasi sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi pelemahan mata uang domestik, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik geopolitik tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk investasi di negara berkembang.

Selain ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin mengetat turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Pengetatan kebijakan moneter AS berpotensi memengaruhi preferensi investor global dalam menempatkan dana serta mendorong perubahan arus modal internasional.

Sentimen investor asing di pasar saham juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang periode tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah dipengaruhi perkembangan ekonomi domestik sekaligus perubahan kebijakan dan situasi pasar keuangan global.

BI Perkuat Pasar Uang dan Valuta Asing Hadapi Gejolak Global

Menghadapi tekanan tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Bank Indonesia terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global," kata Destry.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat insentif transaksi keuangan untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing.

BI juga berupaya mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) agar sistem keuangan domestik memiliki ketahanan lebih baik terhadap gejolak eksternal.

Pendalaman PUVA diarahkan untuk meningkatkan efektivitas transaksi keuangan, memperluas ketersediaan instrumen pengelolaan risiko, serta mendukung stabilitas pasar.

Penguatan instrumen moneter tersebut diharapkan dapat membantu menjaga likuiditas dan meningkatkan kemampuan pelaku pasar dalam menghadapi perubahan nilai tukar.

Melalui kebijakan tersebut, BI berupaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan Indonesia bagi investor asing sekaligus memperkuat stabilitas perekonomian nasional.

BI Prediksi Rupiah Bergerak Stabil Didukung Inflasi Terkendali

Meski rupiah mengalami pelemahan pada Oktober 2026, BI memperkirakan pergerakan nilai tukar ke depan akan tetap stabil dengan dukungan sejumlah faktor fundamental ekonomi domestik.

Destry menyampaikan bahwa komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor utama yang mendukung prospek rupiah.

Selain itu, tingkat imbal hasil investasi yang menarik dinilai dapat mendorong investor untuk tetap menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia.

Inflasi yang terkendali dalam sasaran juga menjadi faktor pendukung stabilitas ekonomi dan nilai tukar.

BI turut mempertimbangkan prospek perekonomian domestik yang dinilai tetap baik sebagai landasan dalam memperkirakan pergerakan rupiah pada periode mendatang.

"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil didukung komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik," kata Destry.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, BI akan melanjutkan optimalisasi instrumen lindung nilai serta memperkuat kebijakan insentif untuk mendukung aliran modal asing.

Bank sentral juga akan terus mendorong pendalaman pasar uang dan valuta asing sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026