HOME  ⁄  Ekonomi

ICFH Buka Akses Pasar bagi 200 UMKM Perempuan di Sulawesi Tengah, Dorong Legalitas Usaha dan Kemandirian Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

ICFH Buka Akses Pasar bagi 200 UMKM Perempuan di Sulawesi Tengah, Dorong Legalitas Usaha dan Kemandirian Ekonomi
Foto: (Sumber :Sejumlah pelaku UMKM saat mengikuti program nasional Tumbuhkan Peluang, di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). ANTARA/HO-ICFH.)

Pantau - Koalisi Indonesia untuk Kesehatan Keuangan atau Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) menggandeng Women’s World Banking dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk membuka peluang pasar bagi sekitar 200 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program nasional Tumbuhkan Peluang di Palu, Sulawesi Tengah.

Program tersebut mempertemukan pelaku UMKM, khususnya perempuan, dengan mitra industri dan calon pembeli besar sekaligus memberikan pendampingan pengurusan legalitas usaha serta pengelolaan keuangan.

Kegiatan ini juga memfasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), dan pembukaan rekening bank.

Kepala Sekretariat ICFH sekaligus Ketua Amartha.org, Aria Widyanto, mengatakan program tersebut dirancang untuk membantu perempuan pelaku usaha memperluas pasar dan meningkatkan skala bisnis.

"Melalui kolaborasi lintas sektor, kami ingin memastikan lebih banyak perempuan pelaku UMKM di daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan mengubah potensi usahanya menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di level akar rumput," kata Aria dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Pertumbuhan Ekonomi Sulteng 8,47 Persen Buka Peluang UMKM Perempuan

Aria menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang mencapai 8,47 persen pada 2025 memberikan peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas kegiatan usaha.

Menurutnya, perkembangan ekonomi daerah perlu dimanfaatkan melalui kerja sama yang menghubungkan pelaku usaha dengan pembeli, lembaga keuangan, dan instansi pemerintah.

ICFH menilai penguatan kapasitas bisnis harus berjalan bersamaan dengan perluasan akses pasar, legalitas usaha, serta peningkatan kesehatan finansial.

Langkah tersebut dinilai penting agar perempuan pengusaha UMKM dapat mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.

Aria menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup dilakukan dengan menyediakan akses pembiayaan.

"Penguatan UMKM perempuan tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan. Mereka membutuhkan ekosistem yang membantu usaha menjadi lebih formal, mampu mengakses pasar lebih luas, sekaligus memiliki ketahanan dan kesehatan finansial," ujarnya.

Pelaku UMKM Dibantu Urus NIB, Sertifikasi Halal, dan PIRT

Salah satu fokus program Tumbuhkan Peluang adalah membantu perempuan pelaku UMKM memperoleh legalitas usaha.

Kepemilikan NIB menjadi langkah awal untuk mengurus perizinan lanjutan, mengikuti program pemerintah, mengakses layanan keuangan formal, serta memenuhi persyaratan kerja sama dengan calon pembeli.

Namun, sebagian perempuan pengusaha mikro masih menghadapi kendala dalam proses pengurusan legalitas.

Hambatan tersebut antara lain keterbatasan literasi digital, kurangnya pemahaman terhadap persyaratan administrasi, serta pembagian waktu antara kegiatan usaha dan tanggung jawab rumah tangga.

Melalui lokakarya Tumbuhkan Peluang, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk mengurus NIB.

Program ini juga memberikan edukasi dan fasilitasi terkait sertifikasi halal, PIRT, serta pembukaan rekening bank.

Pendampingan tersebut diharapkan membantu pelaku UMKM memenuhi persyaratan administratif untuk mengembangkan usaha dan menjalin kerja sama bisnis.

UMKM Perempuan Bertemu Calon Pembeli Besar di Palu

Selain membantu pengurusan legalitas, ICFH mempertemukan peserta dengan sejumlah calon mitra pasar di Sulawesi Tengah.

Mitra yang terlibat antara lain Toko Oleh-Oleh Sri Rejeki, Toko Oleh-Oleh Sal-Han, G.I (Gampiri Interaksi Lestari), dan Nina Agro Jaya.

Melalui pertemuan tersebut, pelaku UMKM dapat berdiskusi langsung dengan calon pembeli mengenai kebutuhan pasar dan persyaratan produk.

Peserta juga memperoleh kesempatan untuk memahami standar kualitas, menjajaki proses seleksi produk, serta mendapatkan masukan dari calon mitra usaha.

Sebagian besar peserta lokakarya berasal dari sektor pertanian dan pangan olahan yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian Sulawesi Tengah.

Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Sulawesi Tengah mencatat nilai tambah sebesar Rp67,96 triliun.

Sementara itu, industri makanan dan minuman di provinsi tersebut mencatat nilai tambah sebesar Rp7,24 triliun.

Potensi kedua sektor tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan akses pasar bagi UMKM lokal.

Kemen PPPA Soroti Hambatan Perempuan dalam Mengembangkan Usaha

Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Perekonomian, Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, dan Pemerintah Daerah Kemen PPPA, Eni Widiyanti, menegaskan pentingnya akses yang setara bagi perempuan pelaku usaha.

Menurutnya, peningkatan keterampilan bisnis perlu diikuti dengan kemudahan memperoleh pembiayaan, legalitas usaha, teknologi, dan akses pasar.

Eni mengungkapkan bahwa sebagian perempuan pengusaha mikro masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengembangkan usahanya.

"Masih banyak perempuan pelaku usaha mikro yang menghadapi keterbatasan akses informasi, jaringan pemasaran, serta tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan domestik," katanya.

Ia menjelaskan bahwa program Tumbuhkan Peluang bertujuan membantu perempuan mempertahankan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis dan kemandirian ekonomi.

Eni juga menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan usaha yang mendukung perempuan.

"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan menjadi kunci untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Women’s World Banking Siapkan Pendampingan Keuangan bagi UMKM

Selain legalitas dan akses pasar, program Tumbuhkan Peluang juga memberikan perhatian terhadap kesehatan finansial pelaku usaha.

Kesehatan finansial mencakup kemampuan mengelola arus kas, memenuhi kebutuhan operasional, menghadapi risiko keuangan, dan merencanakan pengembangan bisnis.

Senior Policy Strategist Asia Tenggara Women’s World Banking, Desi Vicianna, mengatakan pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dalam pemberdayaan ekonomi perempuan.

Menurutnya, kegiatan lokakarya akan dilanjutkan dengan pendampingan yang lebih intensif oleh fasilitator lokal.

"Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pendampingan intensif oleh fasilitator lokal untuk membantu pengusaha mikro perempuan memperkuat praktik pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha, sehingga kemajuan usaha dapat berjalan beriringan dengan kesehatan finansial yang lebih kuat," kata Desi.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperbaiki pengelolaan keuangan sekaligus mengembangkan kegiatan usaha.

ICFH bersama para mitra berharap hubungan yang terbentuk selama lokakarya dapat berlanjut menjadi kemitraan bisnis jangka panjang.

Melalui penguatan legalitas, akses pasar, dan kesehatan finansial, program Tumbuhkan Peluang diharapkan dapat meningkatkan ketahanan ekonomi perempuan pelaku UMKM di Sulawesi Tengah.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026