HOME  ⁄  Ekonomi

Bahlil Ancam Evaluasi Kontrak Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai Indonesia, Gas Bisa Tak Diperpanjang

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Bahlil Ancam Evaluasi Kontrak Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai Indonesia, Gas Bisa Tak Diperpanjang
Foto: Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri usai rapat koordinasi (rakor) terkait distribusi BBM di Fuel Terminal (FT) Sanggaran, Denpasar, Bali, Senin 19/10/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyatakan akan mengevaluasi kontrak ekspor energi Indonesia dengan sejumlah negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak menunjukkan sikap saling menghargai dalam hubungan kerja sama.

Evaluasi tersebut membuka kemungkinan pemerintah tidak melanjutkan ekspor energi kepada negara-negara yang dianggap tidak menghormati Indonesia, termasuk dalam hubungan bilateral dan kerja sama perdagangan energi.

Bahlil menyampaikan pernyataan tersebut dalam acara Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Maha - South Hub yang dipantau secara daring dari Jakarta, Kamis (22/10).

"Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," tegas Bahlil dalam kegiatan tersebut.

Bahlil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menekankan bahwa hubungan kerja sama energi harus dilandasi prinsip kesetaraan dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara.

Bahlil Soroti Sikap Negara yang Datang Saat Membutuhkan Energi

Bahlil menjelaskan bahwa setiap persoalan antara Indonesia dan negara lain seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pembicaraan yang baik.

Menurutnya, perbedaan pandangan dalam hubungan antarnegara tidak seharusnya menghilangkan prinsip saling menghormati, terutama ketika kedua pihak memiliki kepentingan dalam kerja sama energi.

Bahlil menyoroti sikap negara lain yang datang kepada Indonesia ketika membutuhkan pasokan energi, tetapi dinilai tidak menunjukkan penghormatan yang sama ketika muncul persoalan dalam hubungan bilateral.

"Jangan di saat mereka butuh, baru mereka datang untuk memohon. Di saat ada persoalan lain, yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan, seperti saudara yang tidak tahu adat saja. Ini yang kami tidak mau," ujar Bahlil.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menekankan pentingnya konsistensi sikap negara mitra dalam menjaga hubungan kerja sama dengan Indonesia.

Bahlil juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki prinsip yang kuat dalam mempertahankan kedaulatan negara dan tidak ingin hubungan internasional mengabaikan penghormatan terhadap bangsa Indonesia.

Menurutnya, kedaulatan Indonesia merupakan sesuatu yang sah dan harus dihormati negara lain karena kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang.

Prinsip tersebut menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menentukan kelanjutan kerja sama energi, termasuk kemungkinan mengevaluasi kontrak ekspor yang telah berjalan.

Indonesia Tetap Buka Kontrak Ekspor Energi dengan Negara yang Saling Menghargai

Meskipun membuka kemungkinan evaluasi kontrak ekspor, Bahlil memastikan Indonesia tetap terbuka menjalin kerja sama energi dengan negara-negara yang menunjukkan sikap saling menghormati.

Bahkan, pemerintah membuka peluang membuat kontrak ekspor energi baru dengan negara yang memiliki hubungan baik dengan Indonesia meskipun sebelumnya belum mempunyai perjanjian kerja sama.

"Kalau saling menghargai, sekali pun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan," kata Bahlil.

Bahlil menekankan bahwa prinsip kesetaraan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kerja sama perdagangan energi Indonesia dengan negara-negara mitra.

Menurutnya, hubungan perdagangan energi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pasokan dan kontrak komersial, tetapi juga harus memperhatikan hubungan antarnegara yang saling menghormati.

Dengan demikian, Indonesia tetap membuka peluang memperluas kerja sama energi internasional sepanjang hubungan tersebut berlangsung berdasarkan prinsip kesetaraan dan penghormatan terhadap kedaulatan.

Bahlil Pertimbangkan Tak Perpanjang Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Sebelumnya, pada Rabu (21/10), Bahlil juga telah menyampaikan kemungkinan tidak memperpanjang kontrak ekspor gas Indonesia ke negara tetangga setelah mengikuti sidang kabinet.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menyinggung adanya negara tetangga yang dinilai memberikan pandangan miring terhadap Indonesia.

Ia mengingatkan negara yang dimaksud agar berhati-hati dalam menyampaikan pandangan maupun mengambil sikap terhadap Indonesia, terutama karena terdapat hubungan kerja sama dalam sektor energi.

"Jadi, kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga," ujar Bahlil.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kelanjutan kontrak ekspor gas ke negara tetangga menjadi salah satu hal yang sedang dipertimbangkan dalam evaluasi kerja sama energi Indonesia.

Meski demikian, Bahlil belum menyebutkan secara spesifik negara yang menjadi sasaran evaluasi kontrak ekspor energi maupun kontrak gas yang berpotensi tidak diperpanjang.

Pemerintah juga belum mengumumkan keputusan final mengenai penghentian atau tidak diperpanjangnya kontrak ekspor energi kepada negara tertentu.

Dengan demikian, langkah yang disampaikan Bahlil masih berupa rencana evaluasi dan pertimbangan terhadap kelanjutan hubungan kerja sama energi.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia tetap membuka peluang perdagangan energi dengan negara lain, tetapi menghendaki hubungan tersebut berjalan berdasarkan prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap kedaulatan, dan sikap saling menghargai.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026