HOME  ⁄  Nasional

BNPT Latih 250 Pelajar di Surabaya dan Sidoarjo untuk Tangkal Radikalisme Lewat Konten Digital

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BNPT Latih 250 Pelajar di Surabaya dan Sidoarjo untuk Tangkal Radikalisme Lewat Konten Digital
Foto: Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra-Radikalisasi BNPT Irjen Polisi Wawan Ridwan saat membuka kegiatan Digital Peace Creator, di Surabaya, Kamis 22/10/2026 (sumber: ANTARA/Willi Irawan)

Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan pelatihan kepada 250 pelajar dari Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, untuk meningkatkan kemampuan membuat konten digital yang menyampaikan pesan perdamaian sekaligus menangkal penyebaran radikalisme dan ideologi kekerasan.

Pelatihan tersebut dilaksanakan melalui program Digital Peace Creator yang diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BNPT mencegah penyebaran paham radikal yang kini semakin banyak memanfaatkan media sosial dan permainan daring atau game online untuk menjangkau anak-anak serta remaja.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra-Radikalisasi BNPT, Inspektur Jenderal Polisi Wawan Ridwan, mengatakan pola penyebaran radikalisme telah mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi digital.

Menurut Wawan, kelompok penyebar ideologi kekerasan sebelumnya lebih banyak menggunakan pendekatan konvensional dengan menemui seseorang secara langsung untuk mengajak atau memengaruhinya.

Namun, perkembangan teknologi memungkinkan kelompok tersebut menyebarkan paham radikal melalui berbagai platform digital tanpa harus bertemu langsung dengan calon sasarannya.

"Kalau dulu secara konvensional mengajak dari pintu ke pintu, kemudian untuk melakukan kekerasan. Sekarang polanya berubah. Mereka menyebarkan paham melalui media sosial," ungkap Wawan dalam kegiatan Digital Peace Creator di Surabaya, Kamis.

BNPT Temukan Anak Usia 11 hingga 18 Tahun Terpapar Ideologi Kekerasan

Wawan mengungkapkan bahwa BNPT menemukan anak-anak dan remaja berusia sekitar 11 hingga 18 tahun yang terpapar serta teridentifikasi terlibat dalam komunitas dengan ideologi kekerasan.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa kelompok usia sekolah berpotensi menjadi sasaran penyebaran radikalisme melalui aktivitas di ruang digital.

Wawan turut menyoroti sejumlah kasus terkait ancaman kekerasan dan radikalisme, termasuk kejadian di SMA Negeri 72 Jakarta serta beberapa kasus di Sumatera Barat dan Kalimantan Barat.

Menurutnya, penyebaran paham radikal melalui media sosial memiliki jangkauan yang lebih luas dan berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Kondisi tersebut memungkinkan anak-anak dan remaja terpapar ideologi kekerasan meskipun tidak pernah bertemu secara langsung dengan kelompok yang menyebarkannya.

"Ini lebih cepat daripada konvensional. Kalau konvensional, seseorang harus bertemu dengan kelompok radikal. Kalau melalui media sosial, penyebarannya lebih cepat. Ini yang sangat berbahaya dan harus kita antisipasi," tegas Wawan.

Selain media sosial, BNPT juga memberikan perhatian terhadap penggunaan permainan daring yang berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk menjangkau anak-anak dan remaja.

Wawan menjelaskan bahwa permainan daring dapat menjadi sarana yang menghubungkan anak-anak dengan komunitas yang menyebarkan ideologi kekerasan.

Ancaman tersebut mendorong BNPT memperkuat langkah pencegahan melalui peningkatan literasi digital, terutama bagi pelajar yang aktif menggunakan gawai, media sosial, dan permainan daring.

BNPT Bekali Pelajar Keterampilan Membuat Konten Perdamaian

Sebagai langkah pencegahan, BNPT menyelenggarakan program Digital Peace Creator untuk membekali pelajar dengan keterampilan membuat konten edukatif yang mampu menangkal narasi radikalisme dan terorisme.

Program tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami ancaman penyebaran ideologi kekerasan, tetapi juga mampu menghasilkan konten digital yang membawa pesan positif.

Pelaksanaan kegiatan di Surabaya dilakukan melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur sebagai bagian dari rangkaian program pencegahan BNPT bersama FKPT di berbagai daerah.

Sebelumnya, BNPT juga telah melaksanakan kegiatan pencegahan radikalisme melalui penguatan literasi digital di Sumatera Utara dengan sasaran guru dan tenaga pendidik.

Berbeda dengan kegiatan tersebut, program Digital Peace Creator di Surabaya secara khusus menyasar kalangan pelajar agar mampu menggunakan gawai dan media sosial secara lebih bijak serta bertanggung jawab.

BNPT berharap pelatihan ini dapat membentengi anak-anak dari pengaruh konten negatif, terutama yang mengandung ajakan kekerasan, radikalisme, dan terorisme.

"Kita ingin membentengi anak-anak agar menggunakan gawai atau media sosial secara bijak. Sehingga mereka bisa mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak," kata Wawan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu mengenali dan membedakan konten digital yang bersifat edukatif dengan konten yang mengandung unsur kekerasan maupun penyebaran paham radikal.

Selain meningkatkan kemampuan mengenali konten berbahaya, pelatihan ini mendorong pelajar memproduksi konten digital yang menyampaikan pesan perdamaian, toleransi, dan nilai-nilai kebangsaan.

Konten positif yang dihasilkan diharapkan dapat disebarluaskan melalui media sosial sebagai bagian dari upaya melawan narasi radikalisme dan kekerasan.

BNPT Dorong Generasi Muda Aktif Ciptakan Ruang Digital Positif

Melalui program Digital Peace Creator, BNPT berupaya meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, edukatif, dan terbebas dari penyebaran ideologi kekerasan.

Program tersebut juga diharapkan mampu mengubah peran pelajar dari sekadar pengguna atau konsumen informasi menjadi pihak yang aktif menghasilkan serta menyebarkan pesan-pesan positif.

Keterampilan membuat konten digital dinilai menjadi salah satu sarana untuk memperkuat partisipasi pelajar dalam menyampaikan nilai perdamaian, toleransi, dan kebangsaan kepada masyarakat.

Dengan melibatkan 250 pelajar dari Surabaya dan Sidoarjo, BNPT berharap upaya pencegahan radikalisme dapat diperkuat melalui partisipasi langsung generasi muda di ruang digital.

Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari langkah BNPT meningkatkan kesadaran pelajar terhadap ancaman ideologi kekerasan yang berkembang melalui media sosial dan permainan daring.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026