
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 59,54 poin atau 1,12 persen ke level 5.387,90 pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, didukung respons positif investor terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
Penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan yang melanda sejumlah bursa saham kawasan Asia akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap saham teknologi, ketegangan geopolitik, serta perkembangan pasar keuangan global.
Sejalan dengan kenaikan IHSG, indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan turut menguat 8,81 poin atau 1,64 persen ke posisi 544,57.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, mengatakan keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan positif pasar saham domestik.
Menurut Nico, Bank Indonesia telah mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen selama empat bulan berturut-turut sebagai bagian dari kebijakan menjaga stabilitas moneter.
Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga dan Tambah Likuiditas Dorong IHSG
Nico menjelaskan bahwa selain mempertahankan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) sebesar 25 basis poin untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
"IHSG menguat ditopang oleh keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen selama empat bulan berturut-turut, sekaligus menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin guna mendukung stabilitas Rupiah," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar karena menunjukkan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika perekonomian.
Nico juga mengungkapkan bahwa Bank Indonesia berencana menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) secara bertahap mulai 1 November 2026.
Penurunan GWM tersebut diperkirakan dapat menambah likuiditas dalam sistem perbankan hingga Rp190 triliun.
Tambahan dana tersebut diharapkan memperkuat ketersediaan likuiditas perbankan sekaligus mendukung aktivitas pembiayaan dalam perekonomian nasional.
Meski demikian, penguatan IHSG masih menghadapi sejumlah faktor pembatas, terutama perkembangan terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Isu MSCI dan Ketegangan Timur Tengah Batasi Penguatan IHSG
Nico menilai sentimen terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI masih menjadi perhatian investor.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengkritik usulan MSCI untuk mengeluarkan Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (Emerging Market) dan mengubah statusnya menjadi pasar mandiri (Standalone Market).
Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi kemungkinan perubahan klasifikasi tersebut.
Menurut Nico, perkembangan terkait MSCI menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan IHSG meskipun kebijakan moneter Bank Indonesia memberikan dukungan positif.
Dari pasar internasional, pelaku pasar juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak mentah setelah terjadinya serangan mematikan terhadap ladang minyak di Arab Saudi.
Serangan tersebut meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi akibat meningkatnya harga energi.
Sementara itu, bursa saham kawasan Asia secara umum mengalami pelemahan akibat tekanan jual pada saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan investasi berskala besar dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Sepuluh Sektor Saham Menguat, Energi Pimpin Kenaikan
Dari sisi pergerakan perdagangan, IHSG sempat dibuka melemah pada awal sesi sebelum berbalik menguat dan memasuki zona positif hingga penutupan sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, indeks berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau hingga perdagangan berakhir pada Kamis sore.
Berdasarkan klasifikasi sektoral IDX Industrial Classification (IDX-IC), sebanyak 10 sektor saham mencatatkan penguatan, sedangkan hanya satu sektor mengalami pelemahan.
Sektor energi memimpin kenaikan dengan penguatan sebesar 1,88 persen, disusul sektor transportasi dan logistik yang meningkat 1,64 persen.
Sektor infrastruktur juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 1,28 persen.
Sebaliknya, sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan sebesar 0,66 persen.
Dari pergerakan saham individual, lima saham dengan kenaikan terbesar atau top gainers adalah ASMI, ENAK, AYLS, BUKK, dan PNSE.
Sementara itu, lima saham dengan penurunan terbesar atau top losers meliputi ALDO, ALKA, BESS, MORA, dan BAPA.
Transaksi Saham Capai Rp16,18 Triliun, Sebanyak 489 Saham Menguat
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai 2,08 juta kali transaksi sepanjang perdagangan Kamis.
Total volume perdagangan mencapai 36,57 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp16,18 triliun.
Berdasarkan pergerakan harga saham, sebanyak 489 saham ditutup menguat, sementara 216 saham melemah dan 258 saham tidak mengalami perubahan harga.
Jumlah saham yang mengalami kenaikan jauh lebih banyak dibandingkan saham yang melemah, sejalan dengan penguatan IHSG pada akhir perdagangan.
Kondisi tersebut menunjukkan dominasi saham yang bergerak positif di pasar domestik meskipun sejumlah bursa regional mengalami tekanan cukup besar.
Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 3,52 Persen dan Hang Seng Turun 3,03 Persen
Berbeda dengan penguatan IHSG, perdagangan bursa saham kawasan Asia pada Kamis sore didominasi pelemahan.
Indeks Nikkei Jepang turun 2,40 persen ke posisi 63.070,00, sementara indeks Hang Seng Hong Kong merosot 3,03 persen ke level 22.934,68.
Di China, indeks Shanghai melemah 1,48 persen ke posisi 3.658,03 mengikuti tekanan yang terjadi pada sejumlah pasar saham regional.
Bursa saham Korea Selatan mencatatkan penurunan terbesar di antara indeks kawasan yang disebutkan, dengan indeks Kospi anjlok 3,52 persen ke posisi 5.533,77.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura melemah 0,42 persen ke level 5.415,14.
Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan pasar saham Asia yang dipengaruhi kekhawatiran terhadap sektor teknologi dan perkembangan risiko ekonomi global.
Di tengah kondisi tersebut, IHSG berhasil mempertahankan penguatan hingga penutupan perdagangan berkat dukungan sentimen kebijakan moneter domestik.
Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin, serta rencana penambahan likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun melalui penurunan GWM menjadi faktor pendukung penguatan pasar saham Indonesia.
Meski demikian, perkembangan isu MSCI, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta tekanan terhadap saham teknologi global masih menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati arah pergerakan IHSG berikutnya.
- Penulis :
- Leon Weldrick




