
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 9,44 poin atau 0,18 persen ke posisi 5.397,34 pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), melanjutkan pemulihan setelah mengalami koreksi signifikan pada 16 dan 19 Oktober 2026.
Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan, dengan kenaikan 0,56 poin atau 0,10 persen ke level 545,13.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai IHSG berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan di atas level 5.400.
Sementara itu, pelaku pasar turut mencermati sejumlah kebijakan baru BEI, pergerakan harga minyak dunia, serta arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan Jepang.
IHSG Berpeluang Uji Level 5.400
Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG secara teknikal menunjukkan peluang pemulihan lanjutan setelah tekanan jual pada pekan sebelumnya.
Menurutnya, level 5.400 menjadi batas penting yang perlu ditembus agar indeks dapat mempertahankan momentum penguatan.
“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400 dan jika bertahan di atas level tersebut berpotensi untuk melanjutkan penguatan. Sedangkan level 5.300 menjadi support terdekat untuk menjaga momentum positif dan mengantisipasi potensi tekanan jual. Jika menembus level tersebut, berpotensi menguji level support berikutnya di 5.180-5.200,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan analisis tersebut, level 5.300 menjadi penopang terdekat bagi IHSG apabila kembali menghadapi tekanan jual.
Jika indeks turun melewati level tersebut, area 5.180–5.200 menjadi penopang berikutnya yang perlu diperhatikan investor.
BEI Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG Mulai November
Dari dalam negeri, BEI menyiapkan perubahan perhitungan IHSG dengan mengecualikan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC).
Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 2 November 2026.
BEI mencatat terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC atau memiliki konsentrasi kepemilikan saham tinggi.
Sejumlah saham dalam kategori tersebut juga diketahui mendapatkan sanksi akibat pelanggaran ketentuan pasar modal.
BEI telah menyampaikan surat sanksi kepada sejumlah pihak terkait pelanggaran aturan, termasuk DSSA, BREN, dan CUAN.
Selain perubahan perhitungan indeks, BEI mengumumkan inisiatif penambahan keterangan afiliasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penyesuaian kebijakan pasar modal Indonesia.
Batas Auto Rejection Bawah Turun Menjadi 7 Persen
BEI sebelumnya juga mengubah batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris.
Batas penurunan harga saham yang sebelumnya sebesar 15 persen diturunkan menjadi 7 persen.
Ketentuan tersebut berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Perubahan aturan perdagangan ini dilakukan di tengah perhatian pasar terhadap rencana evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
MSCI sebelumnya membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Berbagai langkah regulator tersebut menjadi bagian dari respons terhadap perkembangan pasar dan konsultasi yang dilakukan MSCI.
Harga Minyak Dunia Naik, Risiko Inflasi Jadi Perhatian
Selain kebijakan domestik, pelaku pasar mencermati kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Harga minyak Brent tercatat menguat 4 persen menjadi 99 dolar AS per barel pada Kamis (22/10/2026).
Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kemungkinan terganggunya pasokan energi.
Ratna menilai kenaikan harga minyak dapat mempersempit ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
“Kondisi ini meningkatkan risiko suku bunga BI dan the Fed bertahan tinggi atau kembali naik, sehingga berpotensi menekan pasar saham dan obligasi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” ujar Ratna.
Menurutnya, sektor energi, khususnya minyak dan gas, berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak.
Sektor batu bara juga berpeluang mendapatkan sentimen positif seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
“Meskipun dampaknya tetap bergantung pada harga komoditas dan kondisi fundamental masing-masing emiten,” ujar Ratna.
Investor Cermati Keputusan Suku Bunga The Fed dan BOJ
Dari luar negeri, perhatian investor pada pekan berikutnya akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, dan Bank of Japan (BOJ).
Kenaikan harga energi dinilai dapat memperumit langkah The Fed karena tekanan inflasi berpotensi membatasi pelonggaran kebijakan moneter.
Sementara itu, keputusan BOJ menjadi perhatian pelaku pasar yang memantau arah suku bunga Jepang dan prospek nilai tukar yen.
Perkembangan tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen perdagangan di pasar keuangan global.
Bursa Wall Street dan Eropa Mayoritas Melemah
Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), mayoritas indeks saham utama di Amerika Serikat dan Eropa ditutup melemah.
Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 1,21 persen dan Nasdaq Composite melemah 2,60 persen.
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average masih mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,02 persen.
Pelemahan juga terjadi di sejumlah bursa utama Eropa, dengan rincian:
- Euro Stoxx 50 turun 1,96 persen.
- FTSE 100 Inggris turun 0,26 persen.
- DAX Jerman turun 1,07 persen.
- CAC 40 Prancis turun 1,39 persen.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap harga energi dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi pada Jumat Pagi
Pada perdagangan Jumat pagi, sejumlah indeks saham di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
- Indeks Nikkei Jepang melemah 1,44 persen ke posisi 62.028,00.
- Indeks Shanghai China turun 1,40 persen menjadi 3.606,96.
- Indeks Hang Seng Hong Kong menguat tipis 0,07 persen ke posisi 22.950,95.
- Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan melemah 2,21 persen menjadi 5.411,17.
- Indeks Straits Times Singapura justru menguat 0,57 persen ke level 5.384,95.
Di tengah pergerakan pasar regional tersebut, IHSG masih mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan dengan level 5.400 menjadi perhatian utama investor.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




