HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Data Pengangguran AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Data Pengangguran AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa 12/5/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dipengaruhi membaiknya data klaim pengangguran awal AS serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan, rupiah melemah 20 poin atau 0,11 persen menjadi Rp18.080 per dolar AS, dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.060 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi rilis data klaim pengangguran awal Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan perkiraan pasar.

“Data klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat lebih baik dari perkiraan, yakni sebesar 194 ribu,” ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Data tersebut menunjukkan jumlah klaim pengangguran awal AS mencapai 194 ribu, lebih rendah dibandingkan estimasi pasar maupun angka periode sebelumnya yang berada di level 200 ribu.

Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang mendukung pergerakan dolar AS terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Data Pengangguran AS Membaik, Dolar Menguat terhadap Rupiah

Jumlah klaim pengangguran awal Amerika Serikat yang tercatat sebanyak 194 ribu disebut berada pada level terendah dalam hampir 57 tahun terakhir.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih relatif kuat di tengah perkembangan ekonomi global.

Data ketenagakerjaan yang lebih baik dibandingkan perkiraan pasar turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian AS.

Sentimen tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah yang mengalami pelemahan pada perdagangan akhir pekan.

Selain perkembangan ekonomi Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi internasional.

Serangan Houthi ke Arab Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global setelah meningkatnya konflik antara kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi dengan Arab Saudi.

Ketegangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu negara eksportir minyak mentah terbesar di dunia.

Pada Kamis (22/10/2026), perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, kawasan Teluk yang berada dekat Bahrain.

Perintah evakuasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah yang berbasis di Yaman.

Perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran aktivitas perdagangan internasional, terutama pengiriman minyak dan komoditas energi melalui jalur laut.

“Bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berkecamuk sejak kelompok Houthi bergerak maju menuju Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah,” ujar Ibrahim.

Bab el-Mandeb merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu lintasan strategis bagi perdagangan internasional.

Gangguan keamanan di sekitar jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan komoditas energi yang dikirim melalui kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global turut memengaruhi sentimen pelaku pasar keuangan, termasuk dalam perdagangan mata uang di Indonesia.

Kurs JISDOR Bank Indonesia Turut Melemah ke Rp18.069 per Dolar AS

Pelemahan rupiah pada perdagangan Jumat juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.

Berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp18.069 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.047 per dolar AS.

Dengan demikian, kurs JISDOR menunjukkan pelemahan rupiah sebesar 22 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan tersebut sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar valuta asing yang ditutup pada level Rp18.080 per dolar AS.

Dua faktor eksternal, yakni membaiknya data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat.

Kondisi pasar tenaga kerja AS yang relatif kuat memberikan dukungan terhadap dolar, sementara kekhawatiran gangguan pasokan minyak global menambah tekanan terhadap sentimen pasar keuangan.

Pada akhir perdagangan Jumat (23/10/2026), rupiah tercatat melemah 0,11 persen ke posisi Rp18.080 per dolar AS, sedangkan kurs JISDOR Bank Indonesia berada di level Rp18.069 per dolar AS.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026