
Pantau - Bank Indonesia (BI) berencana memanfaatkan data transaksi pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu acuan penilaian kelayakan kredit atau credit scoring bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperluas akses pembiayaan.
Rencana tersebut disampaikan Destry Damayanti dalam kegiatan Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Destry, perkembangan penggunaan QRIS telah membantu memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat, termasuk pedagang kecil yang sebelumnya menghadapi keterbatasan dalam mengakses layanan keuangan.
Bank Indonesia melihat data transaksi pembayaran digital yang dihasilkan para pedagang berpotensi menjadi sumber informasi tambahan dalam proses penilaian kelayakan kredit.
“Jadi ini paling tidak suatu keberhasilan di mana kita memberikan akses keuangan kepada para merchant di bawah, merchant-merchant yang small juga yang nantinya data ini bisa menjadi semacam credit scoring. Ke depannya akan seperti itu,” kata Destry Damayanti dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta, Senin.
Meski demikian, pemanfaatan data transaksi QRIS untuk penilaian kredit masih merupakan rencana pengembangan dan belum dinyatakan sebagai kebijakan yang telah diterapkan secara menyeluruh.
BI Dorong Data Transaksi QRIS Jadi Pendukung Penilaian Kredit UMKM
Bank Indonesia menilai perkembangan sistem pembayaran digital membuka peluang baru untuk memperluas akses layanan keuangan bagi pelaku usaha kecil.
Melalui penggunaan QRIS, pedagang dapat menerima pembayaran secara digital sekaligus menghasilkan catatan transaksi dari aktivitas usahanya.
Data tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu komponen pendukung dalam menilai kelayakan kredit pelaku usaha.
Dengan demikian, manfaat QRIS pada masa mendatang diharapkan tidak hanya terbatas pada kemudahan pembayaran, tetapi juga dapat mendukung akses pembiayaan.
Destry menjelaskan bahwa penggunaan QRIS telah menjangkau kelompok pedagang kecil yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam memanfaatkan layanan keuangan.
Perluasan jangkauan tersebut menjadi salah satu dasar Bank Indonesia mempertimbangkan pengembangan pemanfaatan data transaksi digital.
Rencana tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memperoleh kesempatan lebih luas dalam mengakses layanan kredit.
Namun, Bank Indonesia belum merinci mekanisme penggunaan data transaksi QRIS maupun waktu penerapan sistem penilaian kredit tersebut.
Pengguna QRIS Capai 70,6 Juta, Sebanyak 97 Persen Pedagang Merupakan UMKM
Berdasarkan data Bank Indonesia hingga kuartal III 2026, jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 70,6 juta pengguna.
Pada periode yang sama, jumlah pedagang atau merchant yang menerima pembayaran melalui QRIS tercatat sebanyak 49,4 juta.
Destry menyampaikan bahwa sekitar 97 persen dari total pedagang yang menggunakan QRIS merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Besarnya proporsi tersebut menunjukkan bahwa QRIS telah digunakan secara luas oleh pelaku usaha berskala kecil di berbagai sektor kegiatan ekonomi.
Dengan jumlah pedagang mencapai 49,4 juta, QRIS menjadi salah satu sarana pembayaran digital yang menjangkau banyak pelaku usaha di Indonesia.
Bank Indonesia melihat keterlibatan UMKM dalam ekosistem QRIS sebagai peluang untuk memperluas manfaat teknologi pembayaran.
Salah satu manfaat yang sedang dipertimbangkan adalah penggunaan riwayat transaksi digital sebagai informasi pendukung dalam proses penilaian kredit.
Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat membantu memperluas akses layanan pembiayaan bagi pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal.
Volume Transaksi QRIS Tumbuh 75,8 Persen pada Kuartal III 2026
Selain peningkatan jumlah pengguna dan pedagang, aktivitas transaksi melalui QRIS juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Bank Indonesia melaporkan volume transaksi QRIS pada kuartal III 2026 tumbuh sebesar 75,8 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan QRIS untuk pembayaran meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Menurut Destry, perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator semakin luasnya pemanfaatan layanan pembayaran digital dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Peningkatan aktivitas transaksi juga memperlihatkan besarnya potensi data yang dihasilkan melalui ekosistem pembayaran QRIS.
Bank Indonesia berencana mengembangkan pemanfaatan data tersebut agar dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Melalui rencana penggunaan data QRIS untuk penilaian kredit, BI berupaya menghubungkan perkembangan teknologi pembayaran dengan perluasan akses layanan keuangan.
Bank Indonesia Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dan Inklusif
Destry menegaskan bahwa perluasan akses layanan keuangan merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi juga harus bersifat inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
"Jadi kita sudah melakukan banyak hal, paling tidak karena kita ingin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Artinya pertumbuhannya harus inklusif," ujar Destry.
Dalam konteks tersebut, pemanfaatan teknologi pembayaran digital diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi pelaku UMKM untuk berkembang.
Bank Indonesia menilai akses terhadap layanan keuangan menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kegiatan usaha masyarakat.
Pengembangan QRIS sebagai sarana pembayaran sekaligus sumber informasi pendukung penilaian kredit merupakan salah satu peluang yang sedang dipertimbangkan.
Melalui langkah tersebut, BI berharap perkembangan sistem pembayaran digital dapat mendukung aktivitas ekonomi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Transaksi BI-FAST Capai 1,631 Miliar dengan Nilai Rp4.049 Triliun
Selain membahas pengembangan QRIS, Destry juga menyoroti peran infrastruktur sistem pembayaran Bank Indonesia melalui layanan BI-FAST.
BI-FAST merupakan infrastruktur pembayaran yang memungkinkan masyarakat melakukan transfer dana selama 24 jam.
Keberadaan layanan tersebut dinilai penting dalam mendukung kelancaran transaksi keuangan sekaligus meningkatkan efisiensi sistem pembayaran nasional.
Destry menyampaikan bahwa belum banyak bank sentral atau negara lain yang memiliki infrastruktur pembayaran cepat seperti BI-FAST.
“Jadi belum banyak bank sentral atau negara lain yang sudah mempunyai fast payment (BI-FAST). Kita sudah mempunyai fast payment dimana itu penghematannya secara ekonomi juga luar biasa,” ujarnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia, volume transaksi melalui BI-FAST pada kuartal III 2026 mencapai 1,631 miliar transaksi.
Jumlah tersebut meningkat sebesar 31,78 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Selain volume transaksi, nilai transaksi BI-FAST juga mencatatkan pertumbuhan.
Pada kuartal III 2026, total nilai transaksi melalui BI-FAST mencapai Rp4.049 triliun.
Nilai tersebut tumbuh sebesar 33,91 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan volume dan nilai transaksi tersebut menunjukkan peningkatan pemanfaatan BI-FAST dalam aktivitas transfer dana masyarakat.
QRIS dan BI-FAST Jadi Bagian Penguatan Sistem Pembayaran Digital
Bank Indonesia menempatkan perkembangan QRIS dan BI-FAST sebagai bagian dari upaya memperkuat digitalisasi sistem pembayaran nasional.
QRIS diarahkan untuk terus memperluas kemudahan transaksi pembayaran bagi masyarakat dan pedagang, termasuk pelaku UMKM.
Sementara itu, BI-FAST berperan sebagai infrastruktur transfer dana yang mendukung transaksi selama 24 jam dengan efisiensi biaya.
Melalui rencana pemanfaatan data transaksi QRIS, Bank Indonesia juga melihat peluang agar sistem pembayaran digital dapat mendukung perluasan akses kredit bagi pelaku usaha.
Dengan 70,6 juta pengguna QRIS, 49,4 juta pedagang, dan pertumbuhan volume transaksi sebesar 75,8 persen pada kuartal III 2026, ekosistem pembayaran digital dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Besarnya keterlibatan UMKM yang mencapai sekitar 97 persen dari total pedagang QRIS menjadi salah satu faktor penting dalam rencana pengembangan tersebut.
Bank Indonesia berharap pemanfaatan data transaksi QRIS dan penguatan layanan BI-FAST dapat mendukung sistem keuangan yang semakin mudah diakses, efisien, serta menunjang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif.
- Penulis :
- Shila Glorya




