
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 66,17 poin atau 1,22 persen ke posisi 5.373,09 pada perdagangan Senin (26/10/2026), di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, kenaikan harga minyak dunia, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan penurunan 4,89 poin atau 0,89 persen ke level 542,16.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan sejumlah bursa saham Asia.
Menurut Nico, sentimen pasar dipengaruhi kombinasi ketegangan geopolitik Timur Tengah, harga minyak mentah yang melampaui 110 dolar AS per barel, serta sikap investor yang menunggu keputusan suku bunga The Fed.
"Mengawali pekan ini, IHSG dan Bursa Asia bergerak melemah di tengah kekhawatiran atas inflasi dan harga minyak yang tinggi menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini," kata Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Tekanan jual melanda seluruh 11 sektor saham di BEI, dengan sektor energi mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 2,38 persen.
IHSG Berbalik Melemah Setelah Sempat Dibuka Menguat
IHSG mengawali perdagangan Senin dengan bergerak menguat pada awal sesi.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan setelah indeks berbalik arah dan memasuki zona negatif.
Tekanan jual terus berlangsung hingga penutupan sesi pertama perdagangan.
Memasuki sesi kedua, IHSG belum mampu keluar dari wilayah negatif sehingga akhirnya ditutup pada posisi 5.373,09.
Penurunan sebesar 66,17 poin atau 1,22 persen tersebut berlangsung bersamaan dengan pelemahan indeks LQ45 sebesar 0,89 persen.
Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan.
Sektor energi menjadi kelompok saham dengan pelemahan paling dalam, yakni sebesar 2,38 persen.
Sektor barang baku menyusul dengan penurunan sebesar 1,63 persen.
Sementara itu, sektor industri melemah sebesar 1,60 persen.
Pelemahan seluruh sektor menunjukkan bahwa tekanan jual berlangsung secara luas di berbagai kelompok saham.
Harga Minyak Tembus 110 Dolar AS, Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
Nico menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen risiko di pasar keuangan internasional.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika harga minyak mentah dunia telah berada di atas 110 dolar AS per barel.
Tingginya harga minyak menimbulkan kekhawatiran terhadap berlanjutnya tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral.
Menurut Nico, kenaikan harga energi dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan pada tingkat tinggi.
Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset berisiko, termasuk saham, karena dapat meningkatkan biaya pendanaan dan memengaruhi keputusan investasi.
"Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi naik tajam pada tahun ini, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang cenderung menekan aset berisiko," ujar Nico.
Salah satu perkembangan geopolitik yang menjadi perhatian investor adalah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan dua pilihan terhadap Iran, yakni mengupayakan kesepakatan diplomatik atau melanjutkan serangan militer setelah pemilihan paruh waktu pada pekan berikutnya.
Pertimbangan tersebut muncul di tengah laporan meningkatnya ancaman terhadap warga Amerika Serikat yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik.
Di sisi lain, Teheran dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan tindakan balasan yang berpotensi menyasar Israel dan Uni Emirat Arab.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
Potensi eskalasi konflik juga menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga energi global.
Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed pada 28–29 Oktober
Selain ketegangan geopolitik, pelaku pasar mencermati agenda pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut menjadi perhatian karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat.
Menjelang keputusan tersebut, investor cenderung mengambil sikap menunggu dan mencermati perkembangan atau wait and see.
Dalam perkiraan yang menjadi perhatian pasar, The Fed diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan ini.
Namun, pelaku pasar tetap memperhatikan perkembangan inflasi dan harga energi sebagai faktor yang dapat memengaruhi kebijakan moneter.
Menurut Nico, ketidakpastian arah suku bunga menjadi salah satu faktor yang menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Kombinasi harga minyak yang tinggi dan ketegangan geopolitik turut meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar.
Keputusan The Fed pada akhir Oktober diperkirakan menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menentukan langkah perdagangan berikutnya.
Kebijakan Ekonomi China Juga Jadi Perhatian Investor Global
Perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga The Fed, tetapi juga perkembangan kebijakan ekonomi China.
Investor mencermati agenda Sidang Pleno Kelima Partai Komunis China yang berlangsung hingga 26–27 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda penting bagi pasar internasional karena berkaitan dengan prioritas pembangunan ekonomi dan arah kebijakan China.
Perhatian juga tertuju pada pertemuan Presiden China Xi Jinping bersama para pemimpin senior Partai Komunis yang dimulai di Beijing pada Senin.
Investor menantikan hasil pembahasan tersebut untuk memperoleh gambaran mengenai kebijakan ekonomi China pada periode mendatang.
Selain itu, perkembangan kepemimpinan China juga menjadi bagian dari informasi yang diperhatikan pelaku pasar.
Hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat memberikan sinyal mengenai arah kebijakan ekonomi negara tersebut.
Kenaikan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Beban Subsidi APBN
Dari dalam negeri, Nico menyoroti munculnya kembali kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara importir minyak membuat kenaikan harga energi internasional berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Salah satu tekanan yang menjadi perhatian adalah kemungkinan bertambahnya kebutuhan anggaran subsidi energi.
Kenaikan harga minyak dunia dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga energi di dalam negeri.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang turut membebani sentimen investor di pasar saham Indonesia.
Kekhawatiran terhadap beban fiskal muncul bersamaan dengan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan konflik Timur Tengah.
Nico menilai kombinasi faktor global dan domestik tersebut memberikan tekanan terhadap pergerakan IHSG pada perdagangan Senin.
Sebanyak 542 Saham Melemah, Nilai Transaksi Capai Rp14,98 Triliun
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sepanjang Senin tercatat mencapai 1,79 juta kali transaksi.
Total volume perdagangan mencapai 36,12 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp14,98 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 174 saham berhasil mencatatkan kenaikan harga.
Sementara itu, sebanyak 542 saham mengalami penurunan dan 247 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat, sejalan dengan penurunan IHSG hingga penutupan perdagangan.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan terbesar.
Saham yang masuk kelompok penguatan terbesar adalah KREN, ANDI, TMPO, BTEK, dan MKNT.
Sebaliknya, saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah GRPM, SOFA, MGLV, VKTR, dan ARKO.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual mendominasi perdagangan meskipun sebagian saham masih mampu menguat.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi, Nikkei dan Kospi Ikut Melemah
Pergerakan bursa saham regional Asia pada perdagangan Senin menunjukkan hasil yang bervariasi.
Indeks Nikkei Jepang melemah 0,78 persen dan ditutup pada posisi 62.202,00.
Indeks Kospi Korea Selatan juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 1,46 persen ke level 5.569,47.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 0,12 persen dan berakhir pada posisi 5.415,91.
Berbeda dengan ketiga indeks tersebut, indeks Hang Seng Hong Kong mencatatkan penguatan sebesar 0,51 persen ke posisi 23.211,81.
Indeks Shanghai China juga menguat 0,19 persen dan ditutup pada level 3.697,52.
Pergerakan yang bervariasi tersebut berlangsung ketika investor global mencermati sejumlah agenda kebijakan ekonomi dan perkembangan geopolitik.
Tekanan terhadap sebagian bursa Asia juga terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan tingginya harga energi.
Pasar Cermati Kebijakan The Fed dan Perkembangan Harga Energi
Pelemahan IHSG sebesar 1,22 persen pada perdagangan Senin terjadi di tengah kombinasi tekanan global dan domestik.
Dari sisi global, perhatian investor tertuju pada ketegangan geopolitik Timur Tengah, harga minyak di atas 110 dolar AS per barel, dan keputusan suku bunga The Fed.
Sementara itu, perkembangan kebijakan ekonomi China juga menjadi salah satu agenda yang diperhatikan pelaku pasar internasional.
Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi peningkatan beban subsidi energi dalam APBN.
Tekanan tersebut tercermin dari pelemahan seluruh 11 sektor saham serta dominasi 542 saham yang ditutup di zona merah.
Pelaku pasar masih menunggu hasil pertemuan FOMC pada 28–29 Oktober 2026 untuk memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selain keputusan The Fed, perkembangan harga energi global, ketegangan Timur Tengah, dan kebijakan ekonomi China menjadi faktor yang terus dicermati dalam perdagangan saham berikutnya.
- Penulis :
- Shila Glorya




