HOME  ⁄  Ekonomi

Rusia Sebut Ketegangan Selat Hormuz Ganggu 20 Persen Pasokan LNG Dunia dan Picu Kenaikan Harga Gas

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rusia Sebut Ketegangan Selat Hormuz Ganggu 20 Persen Pasokan LNG Dunia dan Picu Kenaikan Harga Gas
Foto: (Sumber :Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev (kiri) saat menerima kunjungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia di Rusia, Selasa (14/4/2026). (ANTARA/HO-ESDM).)

Pantau - Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev menyatakan ketidakstabilan di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah telah mengganggu industri energi global, termasuk pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang mencakup sekitar 20 persen pasokan dunia.

Tsivilev mengatakan situasi tersebut memicu kenaikan harga gas, membatasi pasokan energi internasional, dan mengganggu rencana investasi jangka panjang perusahaan.

Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-28 Forum Negara-Negara Pengekspor Gas (GECF) di Moskow, Rusia, Senin (26/10/2026).

Ketegangan Timur Tengah Ganggu Pasokan Energi Global

Tsivilev menilai ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap industri bahan bakar dan energi dunia.

Menurutnya, gangguan terhadap jalur pasokan energi menyebabkan ketidakpastian di pasar internasional.

"Ketidakstabilan situasi di Timur Tengah mau tidak mau telah memukul sektor bahan bakar dan energi global, menyebabkan kenaikan harga gas, membatasi pasokan di seluruh dunia, dan mengganggu rencana investasi jangka panjang perusahaan," kata Tsivilev dalam pertemuan GECF di Moskow.

Ia menyoroti dampak ketegangan di Selat Hormuz terhadap pasokan LNG global yang mencapai sekitar 20 persen dari total pasokan dunia.

Kondisi tersebut dinilai turut meningkatkan tekanan terhadap harga energi yang harus dibayar konsumen.

Rusia Soroti Pembatasan Perdagangan Energi

Selain ketegangan di Timur Tengah, Tsivilev menyinggung pembatasan perdagangan energi yang dihadapi sejumlah negara anggota GECF.

Ia menyebut Iran, Venezuela, dan Rusia termasuk negara yang menghadapi pembatasan perdagangan energi secara sepihak.

Tsivilev menilai pembatasan tersebut ilegal dan turut memperburuk ketidakstabilan harga di pasar energi.

Menurutnya, hambatan perdagangan dapat meningkatkan fluktuasi pasar sekaligus mendorong kenaikan harga bagi konsumen akhir.

GECF Diminta Perkuat Stabilitas Pasar Gas Dunia

Tsivilev menekankan pentingnya kerja sama antarnegara pengekspor gas dalam menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga energi.

Ia mengatakan negara-negara anggota GECF memiliki peran penting karena menguasai sebagian besar produksi dan cadangan gas alam global.

"Forum kita hari ini menyatukan negara-negara yang menyumbang porsi terbesar dari produksi dan cadangan gas alam global. Hal ini menempatkan tanggung jawab khusus di pundak kita untuk menjaga stabilitas pasar energi global. Untuk merespons tantangan-tantangan baru secara efektif, kita harus berfokus pada beberapa langkah praktis," kata Tsivilev.

Menurutnya, kerja sama antarnegara produsen diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar energi di tengah meningkatnya tantangan geopolitik.

Rusia Usulkan Perlindungan Infrastruktur dan Penguatan Industri LNG

Tsivilev mengusulkan sejumlah langkah untuk memperkuat kerja sama negara-negara anggota GECF.

Salah satunya adalah menentang hambatan perdagangan bebas dalam sektor energi dan teknologi.

Ia juga menekankan pentingnya perlindungan infrastruktur gas yang memiliki peran krusial dalam menjaga kelancaran pasokan energi.

Selain itu, Rusia mendorong penambahan anggota GECF dan perluasan kerja sama dengan negara-negara mitra dialog.

Kerja sama produksi peralatan gas dan LNG, penyelarasan standar industri, serta penguatan kegiatan penelitian turut menjadi perhatian dalam usulan tersebut.

Tsivilev menilai langkah-langkah tersebut diperlukan agar negara-negara pengekspor gas mampu menghadapi gangguan pasokan dan menjaga stabilitas industri energi global.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026