
Pantau - Perlengketan usus atau adhesi dapat menyebabkan nyeri perut berulang, kembung, hingga gangguan pergerakan usus akibat terbentuknya jaringan parut yang membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ di sekitarnya.
Dokter spesialis bedah digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi setelah operasi di area perut maupun akibat peradangan atau infeksi dalam rongga perut.
Meski demikian, tidak semua pasien yang mengalami perlengketan usus menunjukkan gejala atau membutuhkan tindakan operasi.
Perlengketan Usus Bisa Terjadi Setelah Operasi Perut
Perlengketan usus merupakan kondisi ketika jaringan parut menyebabkan bagian usus melekat pada jaringan atau organ lain di sekitarnya.
Menurut dr. Eko, kondisi tersebut termasuk salah satu gangguan yang dapat ditemukan pada pasien dengan riwayat operasi perut.
"Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut," kata dr. Eko dalam keterangan pers, Selasa (27/10/2026).
Selain tindakan operasi, peradangan dan infeksi di rongga perut juga dapat menjadi penyebab terbentuknya perlengketan.
Namun, keberadaan jaringan yang melekat tidak selalu menimbulkan keluhan pada setiap pasien.
"Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing," kata dr. Eko.
Kenali Gejala Nyeri Perut Berulang dan Gangguan Usus
Pada sebagian pasien, perlengketan usus dapat menimbulkan sejumlah keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala yang dapat muncul meliputi nyeri perut berulang, perut kembung, serta gangguan pergerakan usus.
Apabila keluhan tersebut terjadi, dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.
Pemeriksaan juga diperlukan untuk menentukan apakah pasien membutuhkan pemantauan, terapi tertentu, atau tindakan operasi.
Komplikasi dapat menjadi lebih kompleks apabila perlengketan terjadi di dekat atau melibatkan ureter, yaitu saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Kondisi tersebut memerlukan perhatian terhadap fungsi saluran kemih selain gangguan pada usus.
Penanganan Perlengketan Kompleks Libatkan Dokter Bedah dan Urologi
Dokter spesialis urologi konsultan trauma dan rekonstruksi urogenital Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Donny Eka Putra, Sp.U.(K), mengatakan perlengketan yang melibatkan beberapa organ membutuhkan penanganan menyeluruh.
"Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ," katanya.
Dalam kasus yang melibatkan usus dan ureter, dokter bedah digestif dapat menangani gangguan usus serta melepaskan jaringan yang melekat apabila diperlukan.
Sementara itu, dokter spesialis urologi rekonstruksi bertugas mengevaluasi keterlibatan saluran kemih dan menentukan kebutuhan perbaikan atau rekonstruksi.
"Kami perlu memahami hubungan antar-organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan," ia menambahkan.
Dokter Evaluasi Kondisi Pasien Sebelum Menentukan Operasi
Sebelum menetapkan penanganan, dokter perlu menelusuri riwayat operasi pasien dan melakukan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan untuk mengetahui kondisi organ yang terlibat.
Keputusan operasi ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien, manfaat tindakan, dan risiko yang mungkin muncul.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan pendekatan multidisiplin diterapkan untuk memastikan penanganan sesuai kebutuhan pasien.
"Pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh," katanya.
Penanganan perlengketan usus dengan demikian bergantung pada gejala, hasil pemeriksaan, serta keterlibatan organ lain yang ditemukan dokter.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




