
Pantau - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan Indonesia memiliki potensi produksi gas biometana lebih dari 200 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD) yang berasal dari pengolahan limbah cair kelapa sawit.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi sumber energi alternatif sekaligus membuka peluang bisnis energi rendah karbon melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi produk bernilai ekonomi.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyampaikan potensi tersebut di sela-sela penyelenggaraan 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/10/2026).
"Limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD biometana yang bisa kita monetize (uangkan)," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Oki menjelaskan bahwa pengembangan biometana dari limbah cair kelapa sawit menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan perusahaan-perusahaan energi anggota ASCOPE.
Pembahasan tersebut berfokus pada upaya menangkap dan memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari limbah cair industri, baik di Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Gas metana yang terbentuk dari penguraian bahan organik dalam limbah cair kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi setelah melalui proses penangkapan dan pengolahan.
Pengembangan biometana dilakukan dengan memurnikan biogas untuk meningkatkan kandungan metana sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun sumber energi bagi berbagai kebutuhan.
Pertamina Dorong Pemanfaatan Gas Metana untuk Perkuat Energi ASEAN
Selain mengembangkan biometana dari limbah cair kelapa sawit, perusahaan-perusahaan anggota ASCOPE juga membahas upaya menangkap gas metana yang mengalami kebocoran dari fasilitas produksi dan pengolahan minyak serta gas bumi.
Penanganan kebocoran metana menjadi perhatian karena gas tersebut memiliki potensi sebagai sumber energi sekaligus merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Melalui penangkapan dan pemanfaatan gas metana, perusahaan energi berupaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus mendukung pengurangan emisi.
Oki menilai penguatan produksi dan pemanfaatan sumber energi di berbagai negara ASEAN dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan energi kawasan.
"Jadi, dengan kita memperkuat produksi di beberapa negara di ASEAN, kita memperkuat kawasan ini," ucap Oki.
Kerja sama antarperusahaan energi di kawasan Asia Tenggara juga menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengembangan teknologi dan peluang komersialisasi sumber energi alternatif.
Pertamina Jajaki Kerja Sama dengan Singapore LNG untuk Produksi Biometana
Di sisi lain, CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengungkapkan rencana kerja sama dengan Singapore LNG (SLNG) untuk mengembangkan produksi biometana dari limbah pabrik kelapa sawit.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk menghubungkan potensi bahan baku biometana yang tersedia di Indonesia dengan kebutuhan konsumen yang dimiliki perusahaan asal Singapura tersebut.
John menjelaskan bahwa SLNG mempunyai jaringan konsumen yang berpotensi membeli biometana hasil pengolahan limbah sawit, sementara Indonesia memiliki sumber bahan baku untuk mendukung produksinya.
Melalui sinergi tersebut, Pertamina berupaya membangun rantai bisnis biometana yang mencakup penyediaan bahan baku, pengolahan, pemanfaatan teknologi, hingga pemasaran produk kepada calon pembeli.
Pengembangan biometana bersama SLNG menjadi bagian dari strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy Pertamina, khususnya untuk memperkuat lini bisnis energi rendah karbon (low carbon business).
Strategi tersebut bertujuan memperluas peluang bisnis perusahaan dengan memanfaatkan potensi sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
Kerja sama dengan SLNG juga dinilai dapat mempercepat komersialisasi biometana karena Pertamina berpeluang memanfaatkan akses pasar melalui jaringan konsumen yang telah dimiliki mitranya.
Dengan adanya calon pembeli melalui kerja sama tersebut, Pertamina dapat lebih memfokuskan pengembangan bisnis pada kesiapan fasilitas produksi, teknologi pengolahan, dan infrastruktur distribusi.
Selain menghubungkan pasokan dan kebutuhan pasar, kedua perusahaan juga berencana bekerja sama dalam pengembangan serta pemanfaatan teknologi produksi biometana.
"Kita nanti juga punya teknologi, kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan," ujar John.
Pertamina Petakan 27 Pabrik Kelapa Sawit di Empat Klaster Sumatra
Sebagai bagian dari persiapan pengembangan bisnis biometana, Pertamina telah melakukan pemetaan potensi bahan baku dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di wilayah Sumatra.
Sebanyak 27 pabrik tersebut dikelompokkan ke dalam empat klaster utama untuk mendukung perencanaan pengembangan proyek dan pengelolaan pasokan bahan baku.
Klaster pertama berada di Sumatera Utara yang menjadi salah satu wilayah sasaran pengembangan produksi biometana dari limbah cair industri kelapa sawit.
Klaster kedua mencakup Provinsi Riau yang turut dipetakan sebagai wilayah potensial untuk pembangunan fasilitas produksi biometana.
Klaster ketiga berada di Jambi sebagai bagian dari pengembangan jaringan pasokan bahan baku dari sejumlah pabrik kelapa sawit.
Sementara itu, klaster keempat meliputi kawasan Lampung dan Palembang yang digabungkan dalam satu kelompok pengembangan proyek.
Pembagian wilayah tersebut diharapkan dapat mendukung perencanaan pengumpulan bahan baku, penentuan lokasi fasilitas pengolahan, serta penyusunan sistem distribusi biometana.
Pertamina menyampaikan bahwa studi kelayakan proyek pengembangan biometana dari limbah pabrik kelapa sawit tersebut telah menunjukkan kemajuan.
Seiring perkembangan studi kelayakan, perusahaan kini mematangkan rencana transportasi dan transmisi biometana untuk memastikan produk dapat disalurkan dari fasilitas produksi menuju pasar.
Pertamina Kaji Distribusi Biometana Lewat Pipa dan Truk
Pertamina tengah mengkaji sejumlah opsi transportasi untuk mendukung distribusi biometana dari lokasi pengolahan menuju konsumen.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan jaringan pipa untuk mengalirkan biometana dari fasilitas produksi menuju titik penyaluran.
Selain jaringan pipa, perusahaan juga mempertimbangkan penggunaan truk sebagai moda transportasi darat untuk mendukung pengiriman produk biometana.
Kajian terhadap kedua opsi tersebut menjadi bagian dari persiapan infrastruktur distribusi sebelum proyek memasuki tahap komersialisasi.
Pertamina juga menargetkan pengamanan surat minat atau letter of intent (LOI) dari calon pembeli (off-taker) untuk memperkuat kepastian pasar bagi produk biometana yang akan dikembangkan.
Surat minat tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pembahasan kerja sama komersial lebih lanjut, termasuk mengenai kebutuhan pasokan dan mekanisme penyaluran produk.
Melalui pemetaan 27 pabrik kelapa sawit, pengembangan empat klaster di Sumatra, serta penjajakan kerja sama dengan Singapore LNG, Pertamina berupaya mempercepat pemanfaatan limbah cair kelapa sawit menjadi sumber energi bernilai ekonomi.
Pengembangan biometana tersebut juga diharapkan dapat mendukung diversifikasi energi nasional, mengurangi emisi metana dari aktivitas industri, serta memperkuat bisnis energi rendah karbon Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
- Penulis :
- Leon Weldrick




