
Pantau - Rencana pemerintah Indonesia menjalin kontrak pasokan bahan bakar minyak (BBM) jangka panjang dengan China dinilai berpotensi memperkuat perdagangan energi kedua negara, meskipun biaya pengiriman dan kepastian pasokan masih menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan.
Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai kerja sama tersebut dapat membuka peluang bagi China untuk meningkatkan perannya sebagai pemasok BBM Indonesia.
Penilaian itu disampaikan menyusul rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencari kontrak pasokan BBM jangka panjang melalui kunjungan ke sejumlah negara, termasuk India dan China.
Bahlil pada Senin (26/10/2026) menyatakan telah mendapat perintah untuk mencari kontrak pasokan BBM jangka panjang guna memenuhi kebutuhan energi nasional.
Rencana tersebut muncul setelah Indonesia mulai memangkas ekspor gas melalui pipa ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026) dan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026.
Melalui peraturan tersebut, mekanisme pengadaan minyak mentah, BBM, dan elpiji dialihkan dari tender antarbadan usaha menjadi kerja sama langsung antarpemerintah.
China Berpeluang Menjadi Pemasok BBM Utama Indonesia
Yayan mengatakan kebutuhan impor BBM Indonesia yang besar membuka peluang peningkatan kerja sama perdagangan energi dengan China.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor hasil minyak sebanyak 37,75 juta ton sepanjang 2025.
Impor tersebut mencakup berbagai produk hasil minyak, termasuk bensin, solar, dan bahan bakar pesawat atau avtur.
Dari total impor tersebut, pasokan yang berasal dari China tercatat sekitar 830 ribu ton atau setara 2,2 persen.
Sementara itu, China menetapkan kuota ekspor BBM tahap pertama pada 2026 sebesar 19 juta ton.
Yayan memperkirakan nilai impor BBM Indonesia dari China dapat meningkat apabila sebagian kebutuhan bensin nasional dialihkan ke negara tersebut.
Menurut perhitungannya, pengalihan 20 persen impor bensin Indonesia ke China berpotensi meningkatkan nilai perdagangan BBM dari sekitar 400 juta dolar AS menjadi 3,3 miliar dolar AS per tahun.
"China berpotensi naik ke posisi pemasok bensin ketiga, dan perdagangan energi kedua negara berlangsung dua arah," kata Yayan kepada Xinhua pada Selasa (27/10/2026).
Indonesia Pasok Batu Bara dan LNG Senilai 12,2 Miliar Dolar AS ke China
Yayan menjelaskan bahwa hubungan perdagangan energi Indonesia dan China selama ini tidak hanya berlangsung melalui impor produk minyak.
Indonesia juga menjadi salah satu pemasok komoditas energi bagi China, terutama batu bara dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Berdasarkan data BPS yang dikutip Yayan, nilai pasokan batu bara dan LNG Indonesia ke China mencapai 12,2 miliar dolar AS sepanjang 2025.
Nilai tersebut menunjukkan besarnya hubungan perdagangan energi yang telah terjalin antara kedua negara.
Rencana kontrak pasokan BBM jangka panjang dinilai dapat memperluas hubungan perdagangan tersebut melalui peningkatan impor produk minyak dari China.
Dengan demikian, Indonesia tetap memasok komoditas energi seperti batu bara dan LNG sekaligus memperoleh pasokan BBM dari China.
Namun, Yayan mengingatkan bahwa peningkatan perdagangan belum tentu secara otomatis memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia.
Biaya Pengiriman BBM dari China Dinilai Lebih Tinggi
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan pemerintah dalam menyusun kontrak pasokan BBM adalah biaya pengiriman.
Menurut analisis Yayan, biaya pengiriman BBM dari China diperkirakan sekitar 1,4 dolar AS per barel lebih tinggi dibandingkan pengiriman dari Singapura.
Sementara itu, biaya pengiriman BBM dari Singapura diperkirakan berada pada kisaran 0,8 hingga 2,6 dolar AS per barel.
Perbedaan biaya logistik tersebut berpotensi memengaruhi keekonomian kontrak pasokan BBM jangka panjang dengan China.
Selain persoalan biaya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan kepastian pasokan dari negara mitra.
Yayan mengingatkan bahwa China sempat membatasi ekspor BBM pada awal 2026 untuk memprioritaskan kebutuhan energi dalam negerinya.
Pembatasan tersebut dilakukan di tengah gejolak pasar energi global yang memengaruhi kebijakan pasokan sejumlah negara.
Kondisi itu menunjukkan pentingnya jaminan ketersediaan BBM dalam setiap perjanjian pasokan jangka panjang.
Pengamat Sarankan Indonesia Prioritaskan Solar dan Avtur
Yayan menilai pemerintah Indonesia sebaiknya memprioritaskan kontrak pasokan solar dan avtur dibandingkan bensin apabila menjalin kerja sama jangka panjang dengan China.
Menurutnya, pemilihan jenis BBM perlu mempertimbangkan manfaat ekonomi dan biaya pengadaan yang harus ditanggung Indonesia.
Ia memperkirakan kontrak pasokan tersebut layak secara ekonomi apabila China memberikan potongan harga sekitar 1,7 hingga 2,1 dolar AS per barel.
Besaran diskon itu dinilai penting untuk mengimbangi biaya pengiriman yang lebih tinggi dibandingkan pasokan dari Singapura.
Dengan mempertimbangkan harga, biaya logistik, dan kepastian pasokan, pemerintah diharapkan dapat memperoleh manfaat dari kerja sama perdagangan energi tersebut.
Rencana kunjungan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke China dan India menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari sumber pasokan BBM melalui mekanisme kerja sama antarpemerintah.
Hingga informasi tersebut disampaikan, kerja sama yang dibahas masih berupa rencana pencarian kontrak pasokan jangka panjang, sehingga manfaat ekonomi dan ketentuan akhirnya bergantung pada hasil perundingan.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Ahmad Yusuf




