
Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp18.174 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (28/10/2026), dipengaruhi kenaikan indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta tekanan di pasar keuangan domestik.
Rupiah sebelumnya ditutup pada level Rp18.156 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut dipengaruhi meningkatnya harga minyak dunia.
“Indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS meningkat seiring kembali meningkatnya harga minyak walaupun The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga di 4 persen pada pengumuman nanti malam,” ucap Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Kenaikan Harga Minyak dan Obligasi AS Tekan Rupiah
Rully menjelaskan bahwa meningkatnya indeks dolar AS menjadi salah satu faktor eksternal yang memberikan tekanan terhadap mata uang rupiah.
Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS juga memengaruhi pergerakan nilai tukar di pasar keuangan.
Menurutnya, kondisi tersebut berlangsung menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level 4 persen.
Meski terdapat ekspektasi suku bunga tetap, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan dolar.
Tekanan Pasar Saham dan Obligasi Domestik Pengaruhi Rupiah
Selain faktor global, Rully menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen negatif dari pasar keuangan dalam negeri.
Tekanan tersebut terlihat dari kondisi pasar saham serta menurunnya minat investor terhadap lelang obligasi pemerintah pada Selasa (27/10/2026).
Ia menyebut imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun telah meningkat menjadi 7,55 persen.
Rully juga menyampaikan bahwa indeks bursa telah mengalami koreksi lebih dari 40 persen.
Selain itu, ia menyebut angka aliran modal masuk atau capital inflow dari pasar saham telah melampaui Rp125 triliun.
Kondisi pasar keuangan tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Analis Dorong Penguatan Pengawasan Pasar Keuangan
Rully menilai pemerintah perlu memperkuat kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan otoritas bursa untuk meningkatkan tata kelola perdagangan di pasar modal.
Penguatan pengawasan tersebut juga mencakup pemenuhan ketentuan saham beredar di publik atau free float.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mendukung tata kelola pasar keuangan yang lebih baik.
Dari sisi kebijakan moneter, Rully menyarankan Bank Indonesia (BI) menerapkan kebijakan uang ketat atau tight money policy untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
Kebijakan yang disarankan mencakup kenaikan suku bunga acuan serta penggunaan instrumen moneter lainnya.
Salah satu instrumen yang disebutkan adalah peningkatan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan.
Usulan tersebut merupakan pandangan analis dan bukan keputusan kebijakan resmi Bank Indonesia.
Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp18.140–Rp18.200
Dengan mempertimbangkan tekanan eksternal dan domestik, Rully memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18.140 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan indeks dolar, imbal hasil obligasi AS, serta sentimen pasar keuangan domestik.
Pengumuman kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Hingga pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada pada posisi Rp18.174 per dolar AS atau melemah dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




