
Pantau - Pelestarian varietas padi lokal di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari serangan hama, perubahan penggunaan lahan, hingga keterbatasan penerapan teknik budidaya berkelanjutan.
Sejumlah varietas seperti Bunga Buluh, Semondung, Sehuwi, Kumpang Omas, dan Ronik merupakan kekayaan sumber daya genetik pertanian yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Upaya tersebut menjadi perhatian dalam Pelatihan Konservasi In Situ dan On-Farm yang didukung Program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), pada 22–25 Oktober 2026.
Pelatihan berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bulik dan Delang dengan melibatkan petani untuk memperkuat pemahaman mengenai konservasi tanaman lokal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Lamandau, Yahya B. Mahmud, menjelaskan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan sarana produksi bagi pengembangan padi lahan kering.
Namun, petani masih menghadapi keterbatasan metode pembukaan lahan tanpa bakar yang terjangkau, sehingga berpotensi menghambat proses penanaman.
Persoalan lainnya mencakup serangan hama dan kekeringan di sejumlah desa, seperti Nyalang, Nanga Penyombaan, Riam Tinggi, dan Kinipan.
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemurnian benih, pengelolaan lahan, pencatatan biaya produksi, serta perhitungan pendapatan usaha tani.
“Kami berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, penyuluh pertanian, dan pihak terkait agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan langsung di lapangan,” demikian harapan peserta sebagaimana tercatat dalam notulensi pelatihan.
Selain padi, konservasi juga mencakup tanaman lokal seperti talas dan uwi yang menjadi bagian dari tradisi pertanian masyarakat.
Melalui program CDCSUI, pelestarian sumber daya genetik diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui praktik budidaya yang berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Andreas




