HOME  ⁄  Ekonomi

Warga Suntenjaya Sulap Limbah Kotoran Sapi Jadi Biogas dan Pupuk Organik, Enam Rumah Nikmati Penghematan LPG

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Warga Suntenjaya Sulap Limbah Kotoran Sapi Jadi Biogas dan Pupuk Organik, Enam Rumah Nikmati Penghematan LPG
Foto: (Sumber :Aktivitas peternak membawa limbah ternak pada salah satu kandang untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.

Pantau - Warga Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, berhasil mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik melalui program Nyaah ka Parahyangan yang dikembangkan sejak 2022 untuk mengurangi pencemaran di hulu Sungai Cikapundung sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah peternakan.

Program yang digagas Ketua Karang Taruna Motekar Kampung Sukaluyu, Atep Suhendar, tersebut menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku energi alternatif dan pupuk pertanian.

Melalui dua instalasi pengolahan biogas atau biodigester, warga mampu mengolah sekitar 600 kilogram kotoran sapi yang hasilnya dimanfaatkan oleh enam rumah tangga.

Pemanfaatan biogas tersebut membantu mengurangi konsumsi LPG dari sebelumnya dua hingga tiga tabung per bulan menjadi sekitar satu tabung.

Selain menghasilkan energi, pengolahan limbah ternak juga menghasilkan pupuk organik yang dimanfaatkan untuk budidaya sayuran, tanaman kopi, dan kegiatan konservasi lingkungan.

Limbah Kotoran Sapi di Hulu Sungai Cikapundung Diolah Menjadi Biogas

Desa Suntenjaya merupakan salah satu kawasan peternakan sapi perah di Kabupaten Bandung Barat yang berada di wilayah hulu Sungai Cikapundung.

Aktivitas peternakan menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga menghasilkan limbah kotoran sapi yang berpotensi mencemari aliran sungai apabila tidak dikelola dengan baik.

Keterbatasan fasilitas pengolahan limbah sebelumnya menjadi salah satu tantangan yang dihadapi para peternak.

Melihat kondisi tersebut, Atep Suhendar bersama kelompoknya mengembangkan program Nyaah ka Parahyangan sejak 2022.

Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah Nyaah ka Cai yang berfokus pada pengolahan limbah ternak agar tidak langsung mencemari lingkungan.

Melalui kegiatan ini, kotoran sapi dari kandang peternak dikumpulkan dan dialirkan menuju instalasi biodigester.

Instalasi tersebut memproses bahan organik untuk menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak.

"Ada dua alat pengolahan biodigester, yang pertama 10 meter kubik dan kedua 4 meter kubik. Kalau ditotal, bisa mengolah sekitar 600 kilogram kotoran sapi," ujar Atep.

Dua instalasi tersebut masing-masing memiliki kapasitas 10 meter kubik dan empat meter kubik.

Pengolahan limbah ini menjadi salah satu cara warga mengurangi potensi pencemaran sekaligus memanfaatkan bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi langsung.

Enam Rumah Tangga Manfaatkan Biogas untuk Memasak

Biogas yang dihasilkan dari pengolahan kotoran sapi kini disalurkan langsung ke enam rumah tangga di sekitar fasilitas pengolahan.

Warga memanfaatkan energi tersebut untuk memenuhi sebagian kebutuhan memasak sehari-hari.

Sebelum menggunakan biogas, rumah tangga penerima manfaat menghabiskan sekitar dua hingga tiga tabung LPG setiap bulan.

Setelah memanfaatkan biogas, konsumsi LPG berkurang menjadi sekitar satu tabung per bulan, bahkan terkadang masih tersisa.

Pengurangan penggunaan LPG tersebut membantu warga menghemat pengeluaran untuk kebutuhan energi rumah tangga.

Selain manfaat ekonomi, penggunaan biogas juga memberikan alternatif pemanfaatan limbah peternakan yang sebelumnya berisiko masuk ke aliran sungai.

Atep menilai pengolahan kotoran sapi menjadi biogas memberikan dua manfaat sekaligus, yakni membantu menjaga lingkungan dan mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga.

Warga Olah 150 Kilogram Kotoran Sapi per Hari Jadi Pupuk Organik

Pemanfaatan limbah ternak di Desa Suntenjaya tidak berhenti pada produksi biogas.

Sebagian kotoran sapi juga diolah menjadi pupuk kandang dan vermikompos untuk mendukung kegiatan pertanian.

Fasilitas pengolahan pupuk tersebut memiliki kapasitas sekitar 150 kilogram kotoran sapi setiap hari.

Vermikompos merupakan pupuk organik yang dihasilkan melalui proses penguraian bahan organik dengan bantuan cacing.

Pupuk hasil pengolahan limbah ternak tersebut telah melalui pengujian laboratorium Universitas Padjadjaran.

Hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan untuk budidaya sejumlah komoditas pertanian, termasuk bayam Jepang, selada romaine, dan kopi.

Pupuk organik tersebut juga digunakan untuk mendukung penanaman saninten sebagai bagian dari kegiatan konservasi lingkungan.

Pemanfaatan limbah menjadi pupuk memungkinkan hasil sampingan peternakan kembali digunakan dalam kegiatan pertanian warga.

Budidaya Selada Romaine Berpotensi Hasilkan Omzet Rp5,4 Juta per Tahun

Program pengolahan limbah ternak juga dikembangkan melalui kegiatan budidaya tanaman menggunakan pupuk organik.

Salah satu komoditas yang dibudidayakan adalah selada romaine pada lahan uji coba di Desa Suntenjaya.

Dari sekitar 100 tanaman selada romaine, hasil panen yang diperoleh mencapai 15 kilogram.

Pengembangan budidaya tersebut memiliki potensi produksi hingga 50 kilogram dalam satu kali panen.

Dari potensi produksi itu, sekitar 30 kilogram selada diperkirakan dapat dipasarkan dengan harga Rp15.000 per kilogram.

Dengan asumsi seluruh 30 kilogram terjual, omzet yang berpotensi diperoleh mencapai Rp450.000 setiap panen.

Apabila penjualan dengan jumlah dan harga tersebut berlangsung setiap bulan, omzet tahunan berpotensi mencapai Rp5,4 juta.

Angka tersebut merupakan potensi omzet penjualan, bukan keuntungan bersih setelah dikurangi biaya produksi.

Ekonomi Sirkular Jadi Upaya Mengurangi Pencemaran Sungai Cikapundung

Pengolahan kotoran sapi di Desa Suntenjaya menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko pencemaran di kawasan hulu Sungai Cikapundung.

Limbah peternakan yang tidak ditangani dengan baik berpotensi terbawa ke aliran sungai dan memengaruhi kualitas air hingga wilayah hilir.

Melalui program Nyaah ka Parahyangan, warga berupaya mengurangi limbah yang terbuang sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan kembali.

Biogas digunakan untuk kebutuhan memasak, sedangkan pupuk organik dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian dan konservasi.

Secara umum, kualitas air Sungai Cikapundung dilaporkan menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi pada 2016 dan 2021.

Meski demikian, pengendalian pencemaran tetap diperlukan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas air di kawasan hulu maupun hilir.

Kegiatan yang dikembangkan Atep Suhendar bersama warga Suntenjaya memperlihatkan pemanfaatan limbah peternakan sebagai sumber energi dan bahan pertanian yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026