HOME  ⁄  Ekonomi

Bulog Lampaui Target Serapan Beras 2026 hingga 4,25 Juta Ton, Sinergi Petani dan Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Bulog Lampaui Target Serapan Beras 2026 hingga 4,25 Juta Ton, Sinergi Petani dan Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Foto: (Sumber :Suasana pengujian kualitas sampel gabah di lapangan menggunakan teknologi digital di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026). ANTARA/Harianto..)

Pantau - Perum Bulog berhasil melampaui target penyerapan gabah dan beras dalam negeri sepanjang 2026 dengan realisasi mencapai 4,25 juta ton setara beras hingga 28 Oktober 2026, atau sekitar 106 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton.

Pencapaian tersebut didukung kerja sama antara petani, gabungan kelompok tani (gapoktan), penyuluh pertanian lapangan (PPL), Bintara Pembina Desa (Babinsa), dinas pertanian, serta Tim Jemput Pangan Bulog di berbagai wilayah Indonesia.

Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, Kurnia Pradipta, mengatakan koordinasi antarpihak menjadi faktor utama keberhasilan perusahaan dalam menyerap hasil panen petani.

"Keberhasilan penyerapan tidak terlepas dari koordinasi intensif antara Bulog dan para pemangku kepentingan pertanian," kata Kurnia saat kunjungan media terkait penyerapan beras nasional di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, kerja sama tersebut memungkinkan Bulog memperoleh informasi mengenai lokasi dan waktu panen lebih awal sehingga proses pembelian gabah dapat dipersiapkan secara optimal.

Serapan Beras Bulog Capai 106 Persen dari Target Nasional

Perum Bulog mencatat realisasi penyerapan gabah setara beras dalam negeri mencapai 4,25 juta ton hingga 28 Oktober 2026.

Jumlah tersebut melampaui target pemerintah sebesar 4 juta ton dengan selisih sekitar 250 ribu ton setara beras.

Keberhasilan itu merupakan hasil koordinasi yang telah dibangun sejak awal tahun antara Bulog dan berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pertanian.

Petani dan gapoktan berperan menyampaikan informasi mengenai kesiapan panen, sedangkan PPL dan Babinsa membantu menghubungkan petani dengan petugas Bulog.

Dinas pertanian setempat turut mendukung koordinasi agar kegiatan penyerapan dapat menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

"Sejak awal tahun kami sudah melakukan sosialisasi dan membangun koordinasi dengan dinas pertanian, PPL, serta Babinsa. Ketika ada informasi petani akan panen, Tim Jemput Pangan Bulog langsung berkoordinasi dan turun ke lokasi," ujarnya.

Kurnia menjelaskan bahwa informasi dari petugas lapangan membantu Bulog menyiapkan armada pengangkut, tenaga pemeriksa kualitas, dan mekanisme pembayaran sebelum kegiatan pembelian dilakukan.

Tim Jemput Pangan Bulog Datangi Langsung Sawah Petani

Salah satu pelaksanaan penyerapan gabah dilakukan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, melalui kegiatan Tim Jemput Pangan Bulog yang mendatangi langsung area persawahan.

Dalam kegiatan tersebut, petugas menerima informasi mengenai potensi panen dari lahan seluas sekitar setengah hektare dengan perkiraan produksi mencapai 4 hingga 6 ton gabah kering panen (GKP).

Setelah memperoleh informasi tersebut, Bulog mengirimkan petugas dan armada pengangkut yang disesuaikan dengan perkiraan volume gabah.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kondisi gabah untuk memastikan kualitas hasil panen sebelum melaksanakan penimbangan.

Proses pemeriksaan dilakukan dengan dukungan tenaga pemeriksa kualitas Bulog agar pembelian berlangsung sesuai prosedur yang berlaku.

Penimbangan dilakukan untuk memastikan jumlah gabah yang dibeli sekaligus menjaga transparansi transaksi antara petani dan Bulog.

"Keterlibatan berbagai pihak di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikan hasil panen petani terserap sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP)," tuturnya.

Bulog Tetapkan Harga Pembelian Gabah Rp6.500 per Kilogram

Dalam pelaksanaan penyerapan gabah di tingkat petani, Bulog mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Harga tersebut berlaku untuk gabah kering panen dengan ketentuan any quality sepanjang memenuhi persyaratan usia panen sesuai kebijakan pemerintah.

Penerapan harga pembelian tersebut bertujuan memberikan kepastian pasar bagi petani yang menjual hasil panennya kepada Bulog.

Selain kepastian harga, perusahaan juga menyediakan pilihan pembayaran secara tunai maupun transfer berdasarkan kesepakatan dengan petani.

Pembayaran dapat diselesaikan pada hari yang sama atau hari berikutnya, bergantung pada waktu pelaksanaan panen dan penyelesaian administrasi.

Kurnia menjelaskan bahwa kegiatan penyerapan tetap dilakukan meskipun masa panen raya telah berakhir dan waktu panen petani tidak lagi berlangsung secara bersamaan.

"Kalau sudah melewati masa panen raya, biasanya panen tidak berlangsung serentak. Karena itu, informasi dari PPL dan Babinsa sangat membantu kami mengetahui titik-titik yang masih panen," katanya.

"Kami tetap hadir melakukan penyerapan dengan harga sesuai ketentuan pemerintah dan memberikan kemudahan pembayaran kepada petani," tambah Kurnia.

Gabah Petani Diolah Menjadi Beras untuk Cadangan Pemerintah

Setelah proses pembelian selesai, gabah yang telah ditimbang kemudian diangkut menuju sentra penggilingan padi (SPP) Bulog Kendal atau fasilitas pengolahan milik mitra.

Gabah kering panen tersebut selanjutnya menjalani proses pengeringan hingga menjadi gabah kering giling (GKG).

Setelah memenuhi persyaratan pengolahan, gabah kemudian digiling untuk menghasilkan beras yang dapat disimpan dalam fasilitas pergudangan Bulog.

Beras hasil pengolahan tersebut menjadi bagian dari pengelolaan cadangan beras pemerintah atau CBP.

Rangkaian kegiatan mulai dari pembelian gabah di sawah, pemeriksaan kualitas, pengangkutan, pengeringan, penggilingan, hingga penyimpanan dilakukan melalui sistem kerja yang saling terhubung.

Kesiapan fasilitas pengolahan dan pergudangan menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan penyerapan hasil panen petani di berbagai daerah.

Bulog Pastikan Penyerapan Gabah Berlanjut Meski Target Terlampaui

Perum Bulog menegaskan bahwa kegiatan penyerapan hasil panen dalam negeri akan terus dioptimalkan meskipun target nasional 2026 telah terlampaui.

Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus mendukung stabilitas harga gabah di tingkat produsen.

Perusahaan juga terus mengandalkan koordinasi dengan PPL, Babinsa, gapoktan, dan dinas pertanian untuk mengetahui wilayah yang masih memasuki masa panen.

Informasi tersebut diperlukan agar Tim Jemput Pangan Bulog dapat menjangkau petani yang membutuhkan akses penjualan hasil panen.

Selain menjaga penyerapan produksi pertanian, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan cadangan beras pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dengan realisasi 4,25 juta ton setara beras hingga akhir Oktober 2026, Bulog berkomitmen melanjutkan penyerapan gabah dan beras dalam negeri sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026