HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.147 per Dolar AS, Pasar Cermati Kebijakan BI dan Inflasi Amerika Serikat

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.147 per Dolar AS, Pasar Cermati Kebijakan BI dan Inflasi Amerika Serikat
Foto: Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp18.147 per dolar AS pada perdagangan Jumat (30/10/2026), seiring perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan perkembangan ekonomi AS.

Pelemahan tersebut terjadi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.137 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi sikap pelaku pasar yang masih mencermati langkah BI dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Menurut Amru, Gubernur BI Destry Damayanti telah menegaskan bahwa keputusan mengenai suku bunga acuan akan mempertimbangkan perkembangan indikator ekonomi dan kondisi pasar.

“Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan terkait suku bunga acuan akan tetap mempertimbangkan perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar,” ujar Amru kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

BI Siapkan Berbagai Instrumen untuk Menjaga Stabilitas Rupiah

Amru menjelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki sejumlah instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan.

Instrumen tersebut memungkinkan BI melakukan stabilisasi rupiah tanpa hanya mengandalkan penyesuaian suku bunga acuan.

Sejumlah kebijakan yang dapat digunakan mencakup pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging), penerapan kebijakan makroprudensial, serta pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Ketersediaan berbagai instrumen tersebut memberikan ruang bagi BI untuk merespons tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Pelaku pasar juga terus memperhatikan langkah BI dalam memanfaatkan instrumen stabilisasi tersebut untuk menghadapi dinamika ekonomi global.

Arah kebijakan moneter domestik menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menilai prospek pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Inflasi Amerika Serikat Naik Menjadi 3,6 Persen

Selain faktor domestik, perkembangan indikator ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang menjadi pertimbangan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Data ekonomi AS yang dirilis Kamis (29/10/2026) menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada September 2026 meningkat menjadi 3,6 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi PCE pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan, menunjukkan aktivitas perekonomian negara tersebut masih cukup kuat.

Amru menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang masih tinggi mengindikasikan bahwa tekanan harga di Amerika Serikat belum sepenuhnya mereda.

Kondisi tersebut berpotensi membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau mengambil langkah pengetatan lebih lanjut.

“Kondisi ini dapat membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat ke depan,” ujar Amru.

Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting bagi pasar keuangan global karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Kurs JISDOR Turut Melemah ke Rp18.138 per Dolar AS

Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia pada Jumat (30/10/2026).

Berdasarkan data tersebut, kurs JISDOR melemah Rp10 menjadi Rp18.138 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.128 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan pelemahan rupiah tidak hanya terjadi pada perdagangan pasar valuta asing, tetapi juga tercermin dalam kurs referensi yang diterbitkan BI.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta respons pasar keuangan terhadap dinamika perekonomian global.

Langkah Bank Indonesia dalam memanfaatkan berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar juga menjadi perhatian dalam menilai prospek pergerakan rupiah.

Dengan demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan eksternal, terutama arah kebijakan moneter BI, perkembangan ekonomi Amerika Serikat, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026