
Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan berupa panel surya dan biogas di kawasan transmigrasi Teluk Wondama, Papua Barat, untuk memperkuat kemandirian energi masyarakat.
Pengembangan energi bersih tersebut difokuskan pada kawasan transmigrasi yang masih menghadapi keterbatasan akses listrik sekaligus mendukung peningkatan pelayanan kesehatan, ketahanan pangan, dan perekonomian masyarakat setempat.
Pembina TEP UI di Teluk Wondama, Trevino Aristarkus Pakasi, menjelaskan bahwa pengembangan energi terbarukan merupakan bagian dari pendekatan Planetary Health yang mengintegrasikan kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal.
"Energi adalah fondasinya, sistem pangan dan ekonomi lokal adalah jalur intervensinya, sedangkan kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan menjadi dimensi hasil yang dinilai," kata Trevino dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Pendekatan tersebut menempatkan ketersediaan energi sebagai salah satu kebutuhan utama untuk mendukung aktivitas masyarakat, pengembangan sistem pangan, dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di kawasan transmigrasi.
Panel Surya Dipasang di Kampung Werianggi, Warga Dilatih Mengolah Biogas
Salah satu kegiatan pengembangan energi terbarukan dilakukan melalui pemasangan panel surya di balai Kampung Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Pemasangan panel surya tersebut mulai memberikan manfaat berupa perpanjangan waktu ketersediaan listrik sehingga fasilitas balai kampung dapat digunakan masyarakat dalam durasi lebih lama.
Pengembangan energi di kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur dikoordinasikan oleh Ardiyansyah bersama timnya dengan sasaran mewujudkan penyediaan listrik selama 24 jam melalui pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan.
Selain panel surya, TEP UI memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan limbah peternakan sekaligus memperkenalkan teknologi energi terbarukan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah seorang warga penerima manfaat pelatihan, Obeth O, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan kotoran sapi sebagai sumber energi.
"Hadirnya pelatihan biogas dari limbah kotoran sapi berguna bagi masyarakat, pertama kali ada pelatihan ini, kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk masak," ujar Obeth.
Pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh sumber bahan bakar alternatif sekaligus mengurangi limbah yang tidak termanfaatkan.
TEP UI Latih 20 Tenaga Kesehatan Gunakan Rekam Medis Elektronik
Selain mengembangkan energi terbarukan, TEP UI turut memperkuat digitalisasi pelayanan kesehatan melalui pelatihan penggunaan rekam medis elektronik bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Nikiwar dan Puskesmas Windesi, Kabupaten Teluk Wondama.
Pada awal Oktober 2026, sekitar 20 tenaga kesehatan telah mengikuti pelatihan penggunaan sistem pencatatan medis digital untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kepada masyarakat.
Pelatihan tersebut mencakup pemanfaatan teknologi dalam pencatatan informasi pasien serta pengelolaan data kesehatan guna mempermudah proses rujukan antarfasilitas pelayanan kesehatan.
Tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, Siti Harlina, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut membantu meningkatkan pemahamannya mengenai penggunaan teknologi digital dalam kegiatan pelayanan kesehatan.
"Setelah mengikuti kegiatan pelatihan ini, saya merasa sangat terbantu. Pelatihannya jelas, mudah dipahami, dan sangat relevan dengan kegiatan di puskesmas," kata Siti Harlina.
TEP UI juga memperkenalkan sistem pencatatan digital yang tetap dapat digunakan ketika koneksi internet tidak tersedia sehingga pendataan kesehatan dapat berlangsung di wilayah dengan keterbatasan jaringan komunikasi.
Penguatan pelayanan kesehatan turut dilakukan melalui pembentukan kader komunitas yang diharapkan mampu mendukung kegiatan kesehatan masyarakat di tingkat lokal.
Digitalisasi pelayanan kesehatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan akses dan kualitas layanan bagi masyarakat kawasan transmigrasi yang menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Sagu, Umbi-umbian, dan Pala Dikembangkan untuk Perkuat Ekonomi Lokal
Pada sektor ekonomi, TEP UI mengembangkan pemanfaatan sumber pangan lokal, termasuk sagu dan umbi-umbian, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat kawasan transmigrasi.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui pendampingan pengolahan hasil pertanian agar komoditas lokal memiliki nilai tambah ekonomi dan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Salah satu kegiatan pendampingan mencakup pengolahan pala, termasuk pemanfaatan hasil sampingnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan usaha sekaligus memperkuat keberlangsungan kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi.
Trevino menekankan bahwa pengembangan energi, peningkatan pelayanan kesehatan, dan penguatan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan, terutama kawasan hutan.
Menurutnya, keberadaan hutan memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat karena menyediakan sumber pangan, air bersih, serta menjaga keseimbangan lingkungan.
"Hutan yang sehat merupakan rumah bagi semua makhluk hidup dan menjadi sumber pangan serta menyediakan udara yang bersih, oksigen, dan air bersih," ujar Trevino.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan di kawasan transmigrasi.
Kementrans Kerahkan 1.476 Peserta Ekspedisi Patriot ke 53 Kawasan Transmigrasi
Secara nasional, Kementerian Transmigrasi telah menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot pada Juli 2026 untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia.
Sebanyak 1.476 peserta tersebut tergabung dalam 246 tim yang ditempatkan di 53 kawasan transmigrasi untuk menjalankan kegiatan riset, pendampingan masyarakat, dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
Program Tim Ekspedisi Patriot menjadi salah satu langkah Kementrans dalam mendorong pembangunan kawasan transmigrasi melalui pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan sumber daya lokal, dan penguatan pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan panel surya di Teluk Wondama juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), khususnya untuk meningkatkan akses listrik di wilayah terpencil.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan gagasan pembangunan PLTS berkapasitas satu megawatt di setiap desa yang memiliki lahan memadai guna memperkuat kemandirian energi nasional.
Pada 25 Agustus 2026, pemerintah meluncurkan program pengembangan PLTS dengan target kapasitas sebesar 100 gigawatt peak (GWp).
Tahap awal program tersebut mencakup 14 proyek pembangunan PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di enam provinsi.
Pengembangan PLTS secara nasional diarahkan untuk memperluas penggunaan energi bersih sekaligus memperkuat ketersediaan listrik bagi masyarakat, termasuk di daerah terpencil.
Melalui pemasangan panel surya, pelatihan pengolahan biogas, digitalisasi pelayanan kesehatan, serta pengembangan ekonomi berbasis pangan lokal, TEP UI berupaya mendorong kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur menjadi wilayah yang lebih mandiri.
Seluruh kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan akses energi, pelayanan kesehatan yang lebih efektif, peningkatan peluang ekonomi, serta pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Shila Glorya




