
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong penguatan riset dan penguasaan teknologi energi bersih untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional melalui penyelenggaraan Energy Leadership & Business Conference (ELBC) 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi energi Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor dalam pengembangan industri energi nasional.
Kepala BRIN Arif Satria di Jakarta, Sabtu, menegaskan bahwa transformasi energi harus mampu menjawab tiga tantangan utama, yakni ketahanan pasokan, keterjangkauan biaya bagi masyarakat dan industri, serta keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus berjalan seimbang agar pembangunan sektor energi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian Indonesia.
"Transformasi energi nasional harus mampu menyeimbangkan ketahanan pasokan, keterjangkauan biaya bagi masyarakat dan industri, serta keberlanjutan lingkungan. Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan agar pembangunan energi tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian nasional," ujarnya.
BRIN Fokus Kembangkan Tiga Teknologi Strategis Energi Nasional
Arif menjelaskan bahwa penguatan riset dan inovasi menjadi fondasi penting untuk menghasilkan teknologi energi yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik Indonesia.
Melalui pengembangan teknologi secara mandiri, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus meningkatkan kemampuan industri dalam negeri.
BRIN mendorong penguatan penelitian energi melalui tiga bidang utama, yakni material maju dan nanoteknologi, bioenergi dan ekonomi sirkular, serta teknologi energi bersih masa depan.
Pada bidang material maju dan nanoteknologi, penelitian diarahkan untuk memanfaatkan mineral kritis sebagai bahan baku komponen baterai dan teknologi penyimpanan energi.
Sementara itu, pengembangan bioenergi dan ekonomi sirkular mencakup pemanfaatan limbah menjadi sumber energi serta pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel.
Adapun pengembangan teknologi energi bersih masa depan meliputi inovasi energi panas bumi, tenaga surya, serta jaringan listrik pintar untuk mendukung sistem energi yang lebih modern.
Arif menekankan bahwa kegiatan penelitian tidak boleh hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menciptakan teknologi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun industri.
"Riset tidak boleh berhenti hanya pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menghasilkan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri. Kita perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sejak tahap penelitian hingga komersialisasi. BRIN berkomitmen menjadi platform inovasi terbuka yang mempercepat penguasaan teknologi, pengembangan talenta, serta peningkatan nilai tambah industri nasional," kata Arif.
Melalui pendekatan tersebut, BRIN berkomitmen menjadi wadah inovasi terbuka untuk mempercepat penguasaan teknologi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat nilai tambah industri nasional.
Kemendiktisaintek Tekankan Penguasaan Teknologi Baterai dan Nanomaterial
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan pentingnya penguasaan teknologi material maju sebagai fondasi pengembangan industri energi bersih di Indonesia.
Menurut Brian, inovasi nanomaterial memiliki peran strategis dalam meningkatkan efisiensi berbagai teknologi energi, termasuk baterai, sel surya generasi baru, hidrogen, dan teknologi rendah emisi.
Ia menilai transformasi energi bersih tidak cukup dilakukan hanya dengan membangun pembangkit listrik atau meningkatkan kapasitas produksi energi terbarukan.
Indonesia juga harus mampu menguasai teknologi inti yang menjadi dasar pengembangan industri energi bersih agar tidak terus bergantung pada teknologi dari luar negeri.
"Transformasi energi bersih tidak cukup hanya dengan membangun pembangkit atau meningkatkan kapasitas energi terbarukan. Indonesia juga harus menguasai teknologi yang menjadi fondasinya, mulai dari material baterai, sel surya, hingga teknologi hidrogen. Pengembangan nanomaterial membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi teknologi sekaligus membangun industri energi bersih nasional yang memiliki daya saing global," ujarnya.
Brian menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan sumber daya mineral strategis, terutama nikel, yang berpotensi menjadi modal penting dalam pengembangan industri baterai dan teknologi penyimpanan energi.
Namun, keunggulan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan menguasai teknologi inti agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri energi global.
Sejumlah teknologi yang perlu dikuasai meliputi material katoda, elektrolit, teknologi daur ulang baterai, serta pengembangan sel surya perovskit.
Penguasaan teknologi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan Indonesia menghasilkan produk dan komponen energi bersih yang memiliki nilai tambah serta daya saing di pasar internasional.
Pemerintah Dorong Hasil Riset Energi Masuk Industri
Brian menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki sejumlah modal penting untuk membangun industri energi bersih, mulai dari ketersediaan bahan baku, pasar domestik yang besar, hingga fasilitas industri yang terus berkembang.
Meski demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan di laboratorium dapat diterapkan dalam proses produksi pada skala industri.
Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha memperkuat kerja sama untuk mengembangkan teknologi hingga dapat dimanfaatkan secara komersial.
"Indonesia memiliki bahan baku, pasar yang besar, dan fasilitas industri yang mulai berkembang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mampu membawa hasil penelitian dari laboratorium menuju penerapan dalam skala industri. Perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha harus bekerja bersama agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok sumber daya, tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan menghasilkan teknologi energi bersih secara mandiri," katanya.
Melalui penguatan kolaborasi tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat meningkatkan perannya dari sekadar pemasok sumber daya mineral menjadi negara yang mampu mengembangkan teknologi energi bersih secara mandiri.
Kerja sama antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri juga diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan inovasi dalam kegiatan produksi.
Aspebindo Dorong Investasi dan Komersialisasi Teknologi Energi
Di sisi lain, Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) melalui penyelenggaraan ELBC 2026 menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem energi nasional yang lebih mandiri, kompetitif, dan mampu menghadapi perkembangan teknologi global.
Penyelenggaraan ELBC 2026 juga diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi berbasis teknologi untuk mendukung pengembangan industri energi nasional.
Selain memperluas peluang investasi, forum tersebut diarahkan untuk mempercepat komersialisasi hasil penelitian agar inovasi yang dikembangkan lembaga riset dan perguruan tinggi dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri.
Forum tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kemampuan industri nasional dalam menghadapi transformasi energi global melalui peningkatan penguasaan teknologi dan pengembangan inovasi dalam negeri.
Melalui ELBC 2026, BRIN, Kemendiktisaintek, dan Aspebindo menempatkan penguatan riset, penguasaan teknologi inti, serta kolaborasi pemerintah dan industri sebagai langkah strategis menuju kedaulatan energi nasional.
Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya Indonesia, mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor, dan memperkuat daya saing industri energi bersih nasional.
- Penulis :
- Leon Weldrick




