HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Menguat 0,79 Persen ke Level 5.096,83, Surplus Neraca Perdagangan Jadi Pendorong

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Menguat 0,79 Persen ke Level 5.096,83, Surplus Neraca Perdagangan Jadi Pendorong
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 39,78 poin atau 0,79 persen ke level 5.096,83 pada perdagangan Senin (2/11/2026), didorong surplus neraca perdagangan Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.

Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan kenaikan sebesar 2,72 poin atau 0,53 persen ke posisi 517,89.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, mengatakan bahwa kinerja neraca perdagangan Indonesia periode September 2026 menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan IHSG.

"IHSG menguat didukung oleh surplus neraca perdagangan September 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan, seiring pertumbuhan ekspor yang melampaui ekspektasi dan impor yang secara tak terduga mengalami perlambatan," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Selain faktor domestik, pergerakan pasar saham Indonesia turut dipengaruhi sentimen positif dari sejumlah bursa Asia serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai 10,61 Miliar Dolar AS

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar 10,61 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Januari hingga September 2026.

Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa perdagangan komoditas nonmigas membukukan surplus sebesar 34,21 miliar dolar AS selama sembilan bulan pertama 2026.

Sementara itu, perdagangan komoditas minyak dan gas bumi (migas) masih mencatat defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS pada periode yang sama.

"Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 34,21 miliar dolar AS, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS," kata Ateng Hartono.

Kinerja perdagangan tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham domestik.

BEI Keluarkan 81 Saham dari Perhitungan Indeks Acuan

Selain perkembangan neraca perdagangan, pelaku pasar turut mencermati kebijakan reformasi indeks yang diterapkan Bursa Efek Indonesia.

BEI resmi mengecualikan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks acuan.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian terhadap saham-saham yang memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi.

Nico menjelaskan bahwa percepatan penerapan kebijakan tersebut berkaitan dengan peringatan dari MSCI mengenai potensi perubahan klasifikasi status pasar modal Indonesia.

"Kebijakan tersebut dipercepat sebagai respons atas peringatan MSCI terkait potensi reklasifikasi status pasar modal Indonesia," ujar Nico.

Di sisi eksternal, mayoritas bursa saham kawasan Asia bergerak menguat seiring kenaikan kontrak berjangka saham Amerika Serikat dan penurunan harga minyak dunia.

Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul laporan mengenai dimulainya kembali upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Investor juga mencermati laporan kinerja keuangan emiten, perkembangan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, serta agenda pemilihan paruh waktu atau midterm elections di negara tersebut.

Tujuh Sektor Saham Menguat, Barang Baku Pimpin Kenaikan

Pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona negatif sebelum berbalik menguat dan memasuki wilayah positif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, IHSG mampu mempertahankan penguatannya hingga perdagangan berakhir dengan kenaikan 0,79 persen.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak tujuh sektor saham mencatat penguatan, sedangkan empat sektor lainnya mengalami pelemahan.

Sektor barang baku menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, yakni 2,12 persen, disusul sektor energi yang menguat 1,53 persen.

Sektor industri juga mencatat kenaikan sebesar 1,40 persen dan turut menopang penguatan pasar saham domestik.

Sebaliknya, sektor kesehatan mengalami pelemahan terdalam dengan penurunan sebesar 0,64 persen.

Sektor properti melemah 0,22 persen, sedangkan sektor teknologi turun sebesar 0,16 persen.

Saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar atau top gainers meliputi DFAM, MKNT, ROCK, AKPI, dan BLTA.

Sementara itu, saham-saham dengan penurunan terbesar atau top losers terdiri atas LMAX, PLAN, MSIE, LINK, dan LPCK.

Transaksi Saham Capai Rp34,64 Triliun, Bursa Asia Bergerak Bervariasi

Aktivitas perdagangan saham di BEI sepanjang Senin tercatat mencapai 1,43 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan mencapai 12,42 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp34,64 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 363 saham mengalami kenaikan harga, 341 saham melemah, sedangkan 259 saham tidak mengalami perubahan.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang ditutup melemah sebesar 0,29 persen ke posisi 63.108,00.

Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan menguat 2,24 persen ke level 5.859,08.

Indeks Shanghai China juga mencatat kenaikan sebesar 1,08 persen dan berakhir pada posisi 3.638,03.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,42 persen ke level 23.393,32.

Indeks Straits Times Singapura turut melemah sebesar 1,36 persen dan ditutup pada posisi 5.303,83.

Pergerakan bursa Asia yang bervariasi menunjukkan adanya perbedaan respons investor terhadap perkembangan ekonomi dan sentimen global.

Di tengah kondisi tersebut, IHSG berhasil mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan dengan dukungan surplus neraca perdagangan Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar.

Pelaku pasar juga masih mencermati reformasi indeks BEI, perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran, laporan keuangan emiten, serta agenda ekonomi dan politik Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham berikutnya.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026