HOME  ⁄  Ekonomi

Kementan Targetkan Produktivitas Kedelai 3 Ton per Hektare untuk Tekan Impor dan Perkuat Swasembada

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kementan Targetkan Produktivitas Kedelai 3 Ton per Hektare untuk Tekan Impor dan Perkuat Swasembada
Foto: Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet bersama jajaran, Bupati Grobogan Setyo Hadi, serta unsur TNI dan Polri menaburkan benih kedelai dalam rangka gerakan tanam kedelai untuk percepatan peningkatan produksi kedelai di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa 3/11/2026 (sumber: ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Pantau - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan produktivitas kedelai nasional menjadi 3 ton per hektare melalui program bantuan benih pemerintah pada lahan seluas 50.000 hektare guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.

Program tersebut diharapkan mampu menghasilkan produksi kedelai hingga 150.000 ton sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet mengatakan produktivitas kedelai yang sebelumnya berkisar antara 1,6 hingga 1,8 ton per hektare akan ditingkatkan melalui dukungan benih dan pengembangan teknologi pertanian.

"Produktivitas kedelai sebelumnya rata-rata 1,6-1,8 ton per hektare. Sedangkan nantinya diupayakan menjadi 3 ton per hektare. Upaya tersebut dilakukan melalui program bantuan benih dari pemerintah dengan sasaran 50.000 hektare lahan," kata Alim Setiawan Slamet.

Pernyataan tersebut disampaikan Alim saat menghadiri gerakan tanam kedelai dalam rangka percepatan peningkatan produksi di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa.

Kementan Berupaya Mengurangi Ketergantungan Impor Kedelai

Peningkatan produksi kedelai dalam negeri menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor yang selama ini masih mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional.

Kedelai merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia karena menjadi bahan baku pembuatan tempe dan tahu yang banyak dikonsumsi sehari-hari.

Namun, sebagian besar kebutuhan kedelai nasional hingga kini masih dipenuhi melalui impor dari berbagai negara.

Berdasarkan perkiraan Kementan, volume impor kedelai tahun ini diproyeksikan mencapai 2,5 juta hingga 2,6 juta ton, sedangkan realisasi impor hingga periode pelaporan tercatat sekitar 1,9 juta ton.

Alim menegaskan peningkatan produksi kedelai nasional merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden dan Menteri Pertanian untuk memperkuat kemandirian pangan.

"Karena kedelai ini salah satu sumber protein utama. Sebagian besar masyarakat tentu mengonsumsi tempe dan tahu. Namun, sayangnya kita masih impor dalam jumlah besar. Karena itu, kita berupaya mewujudkan arahan Presiden dan Menteri Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan produksi di tingkat nasional," ujar Alim.

Melalui program bantuan benih, pemerintah berharap petani mampu meningkatkan hasil panen sehingga produksi kedelai domestik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara bertahap.

Grobogan Ditargetkan Menghasilkan 15.075 Ton Kedelai

Kabupaten Grobogan dipilih sebagai salah satu lokasi awal pelaksanaan gerakan tanam kedelai karena memiliki sejarah panjang sebagai sentra produksi kedelai di Indonesia.

Selain berpengalaman dalam pengembangan komoditas tersebut, Grobogan dinilai memiliki tingkat produktivitas kedelai yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Kementan menetapkan target pengembangan tanaman kedelai di Kabupaten Grobogan pada lahan seluas 5.025 hektare.

Dengan asumsi produktivitas mencapai 3 ton per hektare, pengembangan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 15.075 ton kedelai.

Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, serta perusahaan pupuk.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas melalui penyediaan sarana produksi, penerapan teknologi, dan penguatan pengelolaan pertanian.

UGM Terapkan Teknologi Pertanian Terintegrasi

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendukung program peningkatan produksi kedelai melalui penerapan metode Smart Agriculture Enterprise (SAIE).

Metode tersebut merupakan pendekatan pengelolaan pertanian yang mengintegrasikan berbagai kegiatan produksi dari sektor hulu hingga hilir dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Penerapan SAIE diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha pertanian sekaligus mendukung pencapaian target produktivitas kedelai nasional.

Alim mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung pengembangan kedelai, termasuk perguruan tinggi dan perusahaan pupuk.

"Ini kolaborasi luar biasa. Kita juga mendapat dukungan dari UGM dan PT Pupuk. Harapannya, program ini benar-benar bisa menjadi model pengembangan kedelai untuk mewujudkan swasembada," ujar Alim.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Mirwan Ushada, menjelaskan bahwa metode SAIE merupakan bentuk penerapan teknologi tepat guna yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian para akademisi UGM.

Menurut Mirwan, upaya mewujudkan swasembada pangan nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan karena tidak dapat dilakukan hanya oleh satu institusi.

Pendekatan SAIE dikembangkan secara interdisipliner dengan menggabungkan berbagai bidang keilmuan serta melibatkan sejumlah pihak dalam penerapan teknologi pertanian.

UGM juga berkomitmen mendampingi penerapan teknologi tersebut dengan tetap memperhatikan potensi dan nilai-nilai lokal yang dapat menjadi keunggulan dalam pengembangan produksi kedelai.

"Pendekatan Smart Agriculture Enterprise ini bersifat interdisipliner dan melibatkan multi pihak. Kami akan mengawal penerapan teknologi ini sekaligus membuka kesempatan untuk mengadopsi nilai-nilai lokal yang bisa menjadi keunggulan dalam mendukung swasembada pangan," ujar Mirwan.

Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian perguruan tinggi diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan.

Program pengembangan kedelai di Grobogan juga diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan kondisi lahan dan potensi pertanian setempat.

Dengan dukungan bantuan benih pemerintah, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi berbagai pihak, Kementan menargetkan peningkatan produksi kedelai nasional untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat langkah menuju swasembada kedelai.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026