
Pantau - Korea Utara membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) yang mengaitkan negara tersebut dengan pencurian mata uang kripto senilai miliaran dolar yang melibatkan Binance, sekaligus menuding Washington sengaja menggunakan isu kejahatan siber untuk merusak reputasi Pyongyang di dunia internasional.
Bantahan tersebut disampaikan pada Senin (2/11/2026), di tengah meningkatnya perselisihan kedua negara terkait keamanan siber dan dugaan keterlibatan kelompok peretas yang disebut mendapat dukungan pemerintah Korea Utara.
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh Korea, secara terbuka mengecam tuduhan yang dilontarkan pemerintah Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pada Selasa (3/11/2026), Kim Yo Jong menyebut tuduhan Washington sebagai "provokasi politik yang serius," yang ditujukan kepada negaranya.
Kim menilai tuduhan tersebut merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat untuk membangun citra negatif Korea Utara melalui isu keamanan siber internasional.
Kim Yo Jong Tuduh FBI Berupaya Mencitrakan Korea Utara sebagai Negara Penjahat Siber
Kim Yo Jong menuding Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) berusaha menggambarkan Korea Utara sebagai "negara penjahat siber" dengan menghubungkan kelompok peretas yang disebut berafiliasi dengan Pyongyang terhadap pencurian aset digital bernilai miliaran dolar.
Menurut Kim, tuduhan pemerintah Amerika Serikat bukan merupakan persoalan baru karena Washington dinilai berulang kali mengaitkan Korea Utara dengan berbagai serangan siber berskala internasional.
"Pernyataan AS itu hanyalah retorika konyol dan bukan hal baru," kata Kim Yo Jong dalam pernyataannya.
Kim juga menuduh Washington kerap menyalahkan Korea Utara atas sejumlah kasus peretasan internasional tanpa menghadirkan bukti yang menurutnya kredibel untuk mendukung tuduhan tersebut.
Dalam pernyataannya, Kim turut menyinggung tuduhan Amerika Serikat sebelumnya yang mengaitkan Pyongyang dengan pencurian mata uang kripto pada 2025 yang melibatkan bursa aset digital Bybit.
Korea Utara selama ini berulang kali membantah tuduhan mengenai keterlibatan pemerintahnya dalam operasi serangan siber yang disebut mendapat dukungan negara.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menuding kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara melakukan pencurian aset digital untuk memperoleh sumber pendanaan bagi program persenjataan Pyongyang.
Tuduhan penggunaan hasil pencurian mata uang kripto untuk membiayai program persenjataan tersebut menjadi salah satu persoalan yang memperuncing hubungan kedua negara.
Korea Utara Singgung Cadangan Strategis Kripto Amerika Serikat
Kim Yo Jong juga menyinggung kemungkinan Amerika Serikat memperoleh keuntungan dari proses pemulihan aset mata uang kripto yang sebelumnya dilaporkan dicuri.
Dalam menyampaikan pandangannya, Kim merujuk pada rencana Washington untuk membentuk cadangan strategis mata uang kripto.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perselisihan mengenai dugaan keterlibatan kelompok peretas Korea Utara dalam pencurian aset digital yang melibatkan sejumlah platform perdagangan kripto internasional.
Kim tetap menolak tuduhan bahwa pemerintah Korea Utara terlibat dalam operasi pencurian aset digital sebagaimana dituduhkan pihak Amerika Serikat.
Sementara itu, Washington terus mengaitkan kelompok peretas yang disebut berafiliasi dengan Pyongyang dengan sejumlah operasi kejahatan siber internasional.
Kim Yo Jong Peringatkan AS soal Kebijakan Bermusuhan terhadap Pyongyang
Kim Yo Jong menegaskan bahwa pemerintah Korea Utara terus memantau berbagai tindakan Amerika Serikat yang dianggap sebagai bentuk provokasi terhadap negaranya.
Ia memperingatkan bahwa pendekatan Washington yang dinilai bermusuhan berpotensi memengaruhi kebijakan dan posisi Korea Utara dalam menghadapi sejumlah persoalan internasional.
Kim juga mengisyaratkan bahwa Pyongyang dapat mempertimbangkan kembali sikapnya terhadap sejumlah isu apabila Amerika Serikat terus mempertahankan kebijakan yang dianggap merugikan Korea Utara.
Peringatan tersebut muncul ketika kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan mengenai keamanan siber, pengembangan persenjataan, serta tuduhan keterlibatan kelompok peretas dalam pencurian aset digital.
Perselisihan terbaru mengenai dugaan pencurian mata uang kripto yang melibatkan Binance semakin menambah daftar persoalan dalam hubungan Washington dan Pyongyang.
Hingga pernyataan tersebut disampaikan, Korea Utara tetap menolak tuduhan keterlibatan dalam pencurian aset kripto, sementara Amerika Serikat mempertahankan tuduhannya mengenai aktivitas kelompok peretas yang disebut berafiliasi dengan pemerintah Pyongyang.
- Penulis :
- Shila Glorya




