HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 3,78 Persen ke Level 4.904,29, Tekanan Saham Teknologi dan Inflasi Pangan Picu Aksi Jual

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Anjlok 3,78 Persen ke Level 4.904,29, Tekanan Saham Teknologi dan Inflasi Pangan Picu Aksi Jual
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 192,54 poin atau 3,78 persen ke level 4.904,29 pada perdagangan Selasa (3/11/2026), mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham Asia di tengah meningkatnya kecenderungan investor menghindari aset berisiko atau risk off.

Indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan turut melemah 20,62 poin atau 3,98 persen ke posisi 497,27.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar saham Indonesia dipengaruhi sentimen negatif dari Wall Street, terutama aksi jual saham teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"IHSG dan bursa regional Asia melemah menyusul pelemahan di Wall Street, penurunan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan tetap berada di bawah tekanan jual seiring kekhawatiran atas pengeluaran AI yang besar dan pengembalian yang tidak pasti terus membebani," ujar Nico.

Menurut Nico, investor masih mencemaskan besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan AI karena tingkat pengembalian investasi tersebut belum menunjukkan kepastian.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk saham di kawasan Asia.

Ketidakpastian Politik AS dan Harga Minyak Tekan Sentimen Pasar

Dari pasar global, investor juga bersikap hati-hati menjelang pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi negara tersebut.

Pemerintahan Presiden Donald Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik akibat tingginya biaya energi yang berpotensi meningkatkan inflasi.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi keputusan bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pada perdagangan Selasa (3/11/2026), harga minyak mentah berada di kisaran 96 dolar AS per barel, sedangkan minyak Brent diperdagangkan sekitar 104 dolar AS per barel.

Harga minyak tersebut tercatat mengalami penurunan sekitar 7 persen pada sesi perdagangan sebelumnya setelah muncul sinyal kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

"Para pemimpin dari kedua belah pihak mengisyaratkan untuk melanjutkan negosiasi perdamaian. Tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut," ujar Nico.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahannya telah memperoleh kewenangan lebih besar dari pemimpin tertinggi Iran untuk menjalankan negosiasi perdamaian.

Perkembangan tersebut memberikan harapan terhadap kelanjutan diplomasi kedua negara sekaligus membantu meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak dunia.

Meski demikian, penurunan harga minyak belum mampu mengangkat sentimen pasar saham karena investor masih menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Inflasi Pangan Naik Jadi 5,81 Persen, Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, pelemahan IHSG turut dipengaruhi meningkatnya inflasi pangan pada Oktober 2026 dari sebelumnya 5,03 persen menjadi 5,81 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa gangguan pasokan bahan pangan akibat anomali iklim El Nino belum sepenuhnya mereda.

Tekanan harga kebutuhan pokok juga menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa di luar kebutuhan utama.

Sementara itu, inflasi inti Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,56 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 2,84 persen.

"Penurunan inflasi inti dapat melonggarkan tekanan bagi bank sentral," ujar Nico.

Penurunan inflasi inti dinilai dapat memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter karena tekanan harga di luar komponen bergejolak mulai melambat.

Namun, pelaku pasar juga memandang perlambatan inflasi inti sebagai indikasi melemahnya permintaan domestik.

Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang semakin memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok.

"Konsumen kini cenderung memangkas belanja non-esensial (tersier dan sekunder) karena pendapatan mereka habis terserap untuk memenuhi kebutuhan pokok," ujar Nico.

Melemahnya konsumsi barang dan jasa non-esensial menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menilai prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja perusahaan.

Seluruh Sektor Saham BEI Melemah, Sektor Barang Baku Anjlok 5,86 Persen

IHSG sebenarnya sempat dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa, tetapi kemudian berbalik memasuki zona negatif.

Tekanan jual terus berlangsung hingga penutupan sesi pertama dan berlanjut sepanjang sesi kedua perdagangan.

Berdasarkan klasifikasi sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di BEI mengalami pelemahan.

Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 5,86 persen, disusul sektor energi yang melemah 4,56 persen dan sektor industri yang turun 4,26 persen.

Pelemahan seluruh sektor tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual terjadi secara luas di berbagai kelompok saham.

Di tengah kondisi pasar yang melemah, lima saham dengan penguatan terbesar tercatat adalah TMPO, MKNT, AIMS, BSWD, dan BLTZ.

Sementara itu, lima saham yang mengalami penurunan terbesar adalah AEGS, IBOS, MEJA, MGLV, dan EURO.

Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai 1,37 juta kali transaksi dengan volume sebanyak 11,72 miliar lembar saham.

Total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp26,59 triliun di tengah dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan.

Sebanyak 717 saham mengalami penurunan harga, sedangkan hanya 69 saham yang menguat dan 177 saham tidak mengalami perubahan harga.

Jumlah saham yang melemah jauh lebih besar dibandingkan dengan saham yang menguat, mencerminkan tekanan jual yang mendominasi pasar.

Bursa Asia Kompak Melemah, Hang Seng Hong Kong Justru Menguat

Pelemahan IHSG berlangsung sejalan dengan pergerakan negatif mayoritas indeks saham utama di kawasan Asia.

Indeks Nikkei Jepang turun 0,33 persen ke posisi 63.081,86, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah lebih dalam sebesar 3,59 persen ke level 5.684,79.

Indeks Shanghai Composite China juga terkoreksi 0,82 persen ke posisi 3.608,10.

Sementara itu, indeks Straits Times Singapura melemah 0,65 persen ke level 5.269,29.

Berbeda dengan mayoritas bursa regional, indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat 0,57 persen ke posisi 23.525,97.

Penguatan Hang Seng menjadikannya salah satu indeks utama Asia yang mampu bertahan di zona positif pada perdagangan tersebut.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi tekanan pasar saham global, kekhawatiran terhadap besarnya investasi teknologi AI, ketidakpastian politik Amerika Serikat, serta kenaikan inflasi pangan dalam negeri.

Indikasi melemahnya daya beli masyarakat turut memperbesar kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi dan pasar saham Indonesia.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026