HOME  ⁄  Ekonomi

Ekspor Makanan Olahan Indonesia Tembus 4,49 Miliar Dolar AS, Kemendag Catat Pertumbuhan 13,47 Persen

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Ekspor Makanan Olahan Indonesia Tembus 4,49 Miliar Dolar AS, Kemendag Catat Pertumbuhan 13,47 Persen
Foto: Pembukaan pameran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 di Hall B dan C Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Rabu 4/10/2026 (sumber: ANTARA/HO-SIAL Food & Drinks Indonesia 2026)

Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai ekspor makanan olahan Indonesia mencapai 4,49 miliar dolar AS sepanjang Januari–Agustus 2026, meningkat 13,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyampaikan capaian tersebut dalam keterangan terkait penyelenggaraan pameran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

"Pada periode Januari-Agustus 2026, nilai ekspor makanan olahan Indonesia mencapai 4,49 miliar dolar AS, meningkat 13,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ungkap Fajarini.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan positif kinerja perdagangan makanan olahan nasional sekaligus menjadi peluang bagi pelaku industri Indonesia untuk memperluas jangkauan produk ke pasar internasional.

Kemendag menilai industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama dengan meningkatnya permintaan terhadap produk makanan olahan nasional di pasar global.

"Indonesia memiliki potensi besar dalam industri makanan dan minuman, sebagaimana tercermin dari kinerja ekspor makanan olahan nasional yang terus menunjukkan pertumbuhan positif," ujar Fajarini.

Untuk memperkuat kinerja tersebut, Kemendag mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai kegiatan promosi perdagangan internasional, termasuk pameran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026.

SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Hadirkan Lebih dari 500 Merek dari 16 Negara

Pameran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 berlangsung pada 4–6 November 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, dengan menghadirkan pelaku industri makanan dan minuman dari berbagai negara.

Kegiatan tersebut menampilkan lebih dari 500 merek yang berasal dari 16 negara dan wilayah, sekaligus menjadi ajang pertemuan bisnis bagi produsen, pemasok, distributor, peritel, hingga pembeli profesional.

Pameran industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) ini menggunakan konsep perdagangan antarbisnis atau business-to-business (B2B) untuk mempertemukan berbagai pihak dalam rantai industri.

Melalui konsep tersebut, peserta memiliki kesempatan membangun jaringan perdagangan, menjalin hubungan dengan calon pembeli, serta menjajaki kerja sama bisnis di tingkat nasional maupun internasional.

Selain mempertemukan produsen dengan calon pembeli, pameran ini juga memfasilitasi pertukaran produk dan teknologi yang dapat mendukung pengembangan industri makanan dan minuman.

Kemendag memandang kegiatan tersebut sebagai sarana strategis untuk memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia dalam perdagangan internasional.

Fajarini menekankan bahwa penyelenggaraan pameran harus dimanfaatkan untuk membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan dan menghasilkan kesepakatan perdagangan nyata.

"Kehadiran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 dapat kita jadikan momentum untuk membangun hubungan bisnis jangka panjang dan menghasilkan kerja sama yang konkret," tegas Fajarini.

Pameran ini juga diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pelaku usaha nasional dan mitra internasional sehingga peluang ekspor produk makanan dan minuman Indonesia semakin terbuka.

SIAL Network Dorong Produsen Indonesia Tembus Pasar Global

Managing Director SIAL Network – ASEAN & India, Henri Tan, menilai industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun menjangkau konsumen internasional.

Menurut Henri, potensi tersebut didukung oleh pasar domestik yang luas, ketersediaan sumber daya pertanian yang melimpah, serta ekosistem kewirausahaan yang dinamis.

Besarnya pasar domestik menjadi salah satu kekuatan industri makanan dan minuman nasional, sementara ketersediaan bahan baku pertanian memberikan dukungan bagi pengembangan berbagai produk olahan.

Di sisi lain, aktivitas kewirausahaan yang terus berkembang turut membuka peluang inovasi produk dan perluasan jaringan perdagangan.

Henri menjelaskan bahwa SIAL Network berperan menghubungkan pelaku usaha makanan dan minuman Indonesia dengan pembeli, distributor, serta mitra bisnis internasional.

Jaringan perdagangan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan peluang usaha dan investasi di Indonesia kepada pelaku industri makanan dan minuman dari berbagai negara.

"Di sinilah peran SIAL Network sebagai jembatan dua arah, yang menghubungkan produsen Indonesia dengan pembeli dan mitra bisnis internasional, sekaligus memperkenalkan peluang bisnis di Indonesia kepada pelaku usaha global," jelas Henri.

Melalui jaringan internasional tersebut, produsen Indonesia diharapkan dapat memperluas akses perdagangan sekaligus membangun kemitraan strategis dengan pelaku usaha dari luar negeri.

Penyelenggaraan SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan ekspor produk nasional, tetapi juga memperkenalkan potensi investasi dan kerja sama industri makanan dan minuman Indonesia.

Kemendag berharap pertumbuhan ekspor makanan olahan sebesar 13,47 persen sepanjang Januari–Agustus 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi produk nasional di pasar global.

Dengan nilai ekspor mencapai 4,49 miliar dolar AS, pemerintah mendorong pelaku industri memanfaatkan pameran internasional untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan daya saing, dan menghasilkan kerja sama perdagangan jangka panjang.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026