
Pantau - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membidik pengembangan pusat data ramah lingkungan (green data center) pertama di dunia yang menggunakan pasokan listrik sepenuhnya dari energi panas bumi tanpa terhubung dengan sumber energi lainnya.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyampaikan rencana tersebut dalam Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk yang digelar di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
PGE menargetkan fasilitas tersebut menjadi pusat data pertama di dunia yang beroperasi secara mandiri dengan mengandalkan listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
"Nanti ini menjadi green data center geothermal pertama, mungkin, di dunia, ya. Yang tidak terkoneksi dengan sumber lain," ujar Ahmad Yani.
Pengembangan tersebut bertujuan membuktikan keandalan energi panas bumi dalam memenuhi kebutuhan listrik pusat data yang memerlukan pasokan stabil dan berkelanjutan.
"Kami tekankan keunikan dari pilot project green data center ini, jadi kami murni dari geothermal, tidak tergantung dengan energi-energi lain," kata Yani.
PGE Siapkan Listrik 5 MW dari PLTP Kamojang untuk Proyek Percontohan
Proyek percontohan (pilot project) pusat data berbasis panas bumi tersebut saat ini tengah berlangsung di kawasan PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
PGE mengalokasikan kapasitas listrik sebesar 5 megawatt (MW) dari PLTP Kamojang untuk mendukung pengoperasian fasilitas pusat data ramah lingkungan tersebut.
Dari sisi teknologi, perusahaan menyatakan studi pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber listrik pusat data telah diselesaikan dan dinyatakan siap.
Saat ini, PGE melanjutkan kajian mengenai aspek komersial dan regulasi untuk memastikan proyek tersebut dapat dikembangkan menjadi bisnis yang berkelanjutan.
"Secara studi teknologinya sudah kami jalankan, sudah fix. Nah, sekarang masuk ke tahap bagaimana commerciality, bagaimana regulasi, nah ini sedang kaji menuju ke sana," ujar Yani.
Selain menguji keandalan pasokan listrik, proyek percontohan tersebut diarahkan untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait pengelolaan air dan potensi dampak lingkungan dari pengembangan pusat data.
Melalui proyek Kamojang, PGE berupaya membuktikan kelayakan pengembangan pusat data berbasis panas bumi berdasarkan tiga aspek utama, yakni teknologi, lingkungan, dan komersial.
"Nah ini kami coba dengan pilot project untuk memperlihatkan itu. Proof of concept dari teknologi, aspek lingkungan, dan commerciality-nya," ujar Yani.
Proyek tersebut juga dirancang untuk memvalidasi model bisnis pusat data berbasis energi baru terbarukan (EBT), termasuk mengidentifikasi kebutuhan calon pengguna layanan.
Selain itu, PGE berupaya mempersiapkan pasar bagi pengembangan fasilitas pusat data serupa di berbagai wilayah kerja panas bumi pada masa mendatang.
PGE Dorong Regulasi Tarif Listrik dan Pembiayaan Hijau
Untuk mempercepat pengembangan pusat data berbasis energi terbarukan, PGE menilai diperlukan dukungan kebijakan dan langkah strategis dari pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan.
Langkah pertama adalah menyempurnakan regulasi tarif listrik agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha maupun calon investor.
Langkah kedua adalah memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan skema pembiayaan hijau (green financing) untuk mendukung investasi pembangunan pusat data berbasis energi terbarukan.
Sementara itu, langkah ketiga adalah memperkuat sinkronisasi antara wilayah kerja panas bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), kesiapan jaringan listrik, perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement atau PPA), serta target tanggal operasi komersial (commercial operation date atau COD).
Langkah keempat mencakup penyesuaian strategi pengembangan pusat data berbasis panas bumi dengan kebijakan pemerintah, khususnya dalam cetak biru pengembangan pusat data dan panas bumi nasional.
"Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional," ujar Ahmad Yani.
Proyek Kamojang Berpeluang Membuka Bisnis Baru Energi Terbarukan
PGE meyakini keberhasilan proyek percontohan elektrifikasi pusat data menggunakan energi panas bumi di Area Kamojang dapat menjadi landasan bagi pengembangan fasilitas serupa di wilayah kerja panas bumi lainnya.
Keberhasilan proyek tersebut juga diharapkan dapat menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi mampu menyediakan pasokan listrik secara mandiri untuk mendukung operasional infrastruktur digital.
Selain membuktikan keandalan teknologi, proyek Kamojang diharapkan membuka peluang bisnis baru bagi PGE melalui pemanfaatan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik sektor pusat data di Indonesia.
Dengan demikian, pengembangan pusat data berbasis panas bumi di Kamojang menjadi salah satu langkah PGE dalam memperluas pemanfaatan energi panas bumi sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur digital yang lebih ramah lingkungan.
- Penulis :
- Shila Glorya




