
Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat produksi padi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 69.748 ton, meningkat 111 ton dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 69.637 ton.
Kepala BPS Kepulauan Bangka Belitung Sugeng Arianto mengatakan peningkatan produksi tersebut dapat mendukung ketersediaan pangan masyarakat di daerah itu.
"Peningkatan produksi padi petani ini tentunya dapat memperkuat ketahanan pangan masyarakat di daerah ini," kata Sugeng di Pangkalpinang, Kamis (5/11/2026).
Meski produksi selama sembilan bulan pertama mengalami kenaikan, BPS memperkirakan hasil panen sepanjang 2026 menghadapi tekanan akibat musim kemarau panjang.
BPS Perkirakan Produksi Padi Menurun pada Akhir 2026
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026, BPS memperkirakan potensi produksi padi selama Oktober hingga Desember mencapai 4.091 ton gabah kering panen (GKP).
Sugeng menyebutkan bahwa berdasarkan pengamatan tersebut, total produksi padi petani Kepulauan Bangka Belitung selama 2026 diperkirakan mencapai 51.695 ton gabah kering.
Dalam proyeksi lainnya, BPS memperkirakan total produksi padi 2026 sebesar 54.727 ton, turun 9.576 ton atau 14,89 persen dibandingkan produksi 2025 sebesar 64.304 ton.
Angka-angka produksi tersebut tercantum dalam keterangan BPS, meskipun terdapat perbedaan antara data produksi Januari–September dan sejumlah proyeksi tahunan yang disampaikan.
Produksi Tertinggi Terjadi pada Februari
Sugeng menjelaskan bahwa produksi padi tertinggi sepanjang 2026 terjadi pada Februari dengan hasil mencapai 14.368 ton gabah kering.
Sementara itu, produksi terendah diperkirakan terjadi pada November, yakni sekitar 1.126 ton gabah kering.
"Produksi padi tertinggi pada tahun ini terjadi pada Februari yaitu sebesar 14.368 ton gabah kering dan produksi terendah terjadi pada November sekitar 1.126 ton gabah kering," katanya.
Perbedaan hasil produksi antarbulan tersebut menunjukkan adanya perubahan jumlah panen sepanjang tahun.
BPS mengaitkan penurunan produksi tahunan dengan kondisi cuaca yang memengaruhi ketersediaan air bagi tanaman padi.
Kemarau Panjang Sebabkan Petani Kesulitan Air
Sugeng mengatakan musim kemarau yang berlangsung panjang menjadi salah satu faktor penurunan produksi padi di Kepulauan Bangka Belitung.
Kondisi kekurangan air terutama dirasakan petani pada Agustus, September, dan Oktober 2026.
"Musim kemarau tahun ini terutama pada Agustus, Oktober dan September mengakibatkan petani mengalami kesulitan air untuk tanaman padinya, sehingga berdampak terhadap penurunan produksi padi di daerah ini," katanya.
Keterbatasan air tersebut memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil panen di sejumlah wilayah pertanian.
BPS memperkirakan dampak musim kemarau turut menyebabkan produksi padi tahunan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Bangka Selatan Jadi Salah Satu Daerah Penghasil Padi Terbesar
BPS mencatat tiga kabupaten dengan produksi padi tertinggi pada 2026 adalah Bangka Selatan, Bangka, dan Bangka Barat.
Sementara itu, daerah dengan produksi terendah meliputi Bangka Tengah, Belitung, dan Belitung Timur.
Sugeng menjelaskan bahwa penurunan produksi padi terjadi di seluruh kabupaten yang berada di Pulau Bangka.
Sebaliknya, kabupaten-kabupaten di Pulau Belitung justru mengalami peningkatan produksi dibandingkan tahun sebelumnya.
"Penurunan produksi padi pada tahun ini terjadi di seluruh kabupaten yang berada di Pulau Bangka. Di sisi lain, kabupaten di Pulau Belitung mengalami peningkatan produksi padi pada tahun ini," katanya.
Perbedaan perkembangan produksi tersebut menjadi bagian dari hasil pemantauan BPS terhadap kondisi pertanian di Kepulauan Bangka Belitung sepanjang 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan




