
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 110,49 poin atau 2,25 persen ke level 5.030,26 pada perdagangan Kamis sore, didorong sentimen positif dari dalam negeri dan perkembangan ekonomi serta politik global.
Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan kenaikan 12,40 poin atau 2,47 persen ke posisi 513,64.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan penguatan pasar saham Indonesia dipengaruhi kombinasi perkembangan kebijakan domestik dan sentimen eksternal.
"Sentimen eksternal dan internal menopang penguatan IHSG," ujar Nico.
Reformasi Pasar Modal dan Pertumbuhan Ekonomi Dorong IHSG
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati langkah regulator pasar modal Indonesia dalam memperkuat pengawasan dan menjalankan reformasi untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Sentimen pasar membaik setelah regulator mengumumkan sanksi baru terkait dugaan pelanggaran di pasar saham sebagai bagian dari upaya reformasi pasar modal nasional.
Langkah tersebut dilakukan menyusul peringatan dari MSCI mengenai potensi penurunan peringkat pasar modal Indonesia yang mendorong perhatian investor terhadap penguatan tata kelola dan pengawasan.
Selain reformasi pasar modal, data pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi faktor yang turut menopang optimisme investor terhadap prospek perekonomian nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan.
Nico menilai peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi sentimen positif yang dapat membantu meredam risiko keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi juga dinilai mampu mendukung stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian kondisi likuiditas global.
Selain itu, ekspansi ekonomi berpotensi memperkuat penerimaan negara sehingga pemerintah memiliki ruang fiskal untuk melanjutkan berbagai program belanja strategis.
Kondisi tersebut dinilai memberikan peluang bagi pemerintah untuk mempertahankan belanja pembangunan sekaligus menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kemenangan Demokrat di AS dan Penurunan Harga Minyak Jadi Sentimen Global
Dari sisi eksternal, perkembangan politik Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saham di kawasan Asia.
Sentimen positif muncul setelah Partai Demokrat meraih kemenangan atas Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu atau midterm di Amerika Serikat.
Nico menjelaskan bahwa kemenangan tersebut meningkatkan harapan pelaku pasar terhadap kemungkinan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ekspektasi meredanya ketegangan di Timur Tengah turut mendorong penurunan tajam harga minyak dunia yang dipandang positif bagi prospek inflasi dan arah kebijakan moneter.
Menurut Nico, Kongres Amerika Serikat yang dikendalikan Partai Demokrat berpotensi membatasi pendanaan militer untuk operasi di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, juga disebut telah berjanji mendorong upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa kekalahan Partai Republik berkaitan dengan perang dan tingginya harga bensin yang memengaruhi hasil pemilihan.
Trump juga memberikan indikasi bahwa pemerintahannya belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran.
Perkembangan tersebut memperkuat ekspektasi investor terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik sekaligus berkurangnya tekanan harga energi global.
"Kemudian dengan harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi, mengurangi kekhawatiran atas potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," kata Nico.
Seluruh Sektor Saham Menguat, Barang Baku Memimpin Kenaikan
Dari sisi perdagangan, IHSG dibuka menguat dan terus bergerak di wilayah positif sepanjang sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, indeks tetap bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia mencatatkan penguatan.
Sektor barang baku memimpin kenaikan dengan penguatan sebesar 3,60 persen.
Posisi berikutnya ditempati sektor industri yang meningkat 2,50 persen, disusul sektor barang konsumen primer dengan kenaikan 2,32 persen.
Sejumlah saham yang mencatatkan penguatan terbesar adalah BAJA, BELL, MKNT, UVCR, dan MSKY.
Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar meliputi NAYZ, LOPI, LUCY, RELF, dan BSWD.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai 9,97 juta kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 22,45 miliar lembar saham.
Total nilai transaksi pada perdagangan tersebut mencapai Rp22,45 triliun.
Berdasarkan pergerakan harga saham, sebanyak 505 saham mengalami kenaikan, sedangkan 219 saham melemah dan 239 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi, Hang Seng Menguat 3,67 Persen
Di kawasan Asia, pergerakan indeks saham regional menunjukkan hasil yang bervariasi dengan sejumlah bursa menguat dan sebagian lainnya mengalami tekanan.
Indeks Nikkei Jepang melemah 1,66 persen ke posisi 61.158,00.
Indeks Kospi Korea Selatan juga mengalami penurunan sebesar 5,28 persen ke level 5.383,80.
Sebaliknya, indeks Shanghai China menguat 0,10 persen ke posisi 3.689,91.
Indeks Hang Seng Hong Kong mencatatkan kenaikan sebesar 3,67 persen ke level 24.796,98.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura meningkat 0,63 persen ke posisi 5.301,83.
Penguatan IHSG pada perdagangan Kamis ditopang kombinasi sentimen domestik berupa reformasi pasar modal dan peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta perkembangan politik global yang meningkatkan harapan terhadap meredanya konflik geopolitik dan tekanan inflasi.
- Penulis :
- Arian Mesa




