
Pantau - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong pengembangan hilirisasi nikel menjadi Battery Energy Storage System (BESS) atau sistem penyimpanan energi baterai guna mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mengatakan bahwa arah hilirisasi nikel kini diperluas, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung sistem penyimpanan energi pada sektor energi terbarukan.
“Untuk nikel, sekarang kami tidak hanya mendorong bagaimana baterai untuk kendaraan listrik, tetapi juga sekarang BESS,” ucap Heldy ketika ditemui di sela-sela Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis.
Menurut Heldy, pengembangan PLTS secara besar-besaran di Indonesia akan meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi penyimpanan energi listrik, terutama untuk menjaga keberlanjutan pasokan listrik yang dihasilkan dari tenaga surya.
Pengembangan BESS tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas pemanfaatan produk hilirisasi nikel nasional sekaligus memperkuat rantai pasok industri energi bersih di dalam negeri.
Pengembangan PLTS 100 GWp Tingkatkan Kebutuhan BESS
Heldy menjelaskan bahwa kebutuhan BESS diperkirakan semakin meningkat seiring dengan rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan program PLTS berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp).
Program tersebut membutuhkan dukungan teknologi penyimpanan energi karena pembangkit listrik tenaga surya memiliki karakteristik intermiten atau menghasilkan listrik dalam jumlah yang berubah-ubah bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas sinar matahari.
BESS berfungsi menyimpan energi listrik yang dihasilkan panel surya agar dapat digunakan ketika produksi listrik menurun, termasuk saat malam hari atau ketika sinar matahari tidak tersedia secara optimal.
Penggunaan sistem penyimpanan energi tersebut diperlukan untuk membantu menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mendukung integrasi pembangkit energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.
“PLTS banyak membutuhkan baterai. Ini juga menjadi salah satu potensi besar,” kata Heldy.
Pengembangan teknologi BESS dinilai membuka peluang baru bagi industri hilirisasi nikel Indonesia, terutama dalam memperluas pasar produk olahan mineral yang sebelumnya banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik.
Selain mendorong pengembangan baterai penyimpanan energi, Heldy mengungkapkan bahwa industri dalam negeri saat ini telah mampu memproduksi sekitar 70 persen komponen panel surya yang dibutuhkan.
Kemampuan produksi tersebut menunjukkan perkembangan industri nasional dalam mendukung pembangunan infrastruktur energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor.
Heldy menilai capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan program hilirisasi mineral kritis yang terus diarahkan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Jadi ini menunjukkan perkembangan hilirisasi dari mineral kritis di Indonesia sudah sangat signifikan,” ujar Heldy.
Investasi Hilirisasi Capai Rp480 Triliun, Sektor Mineral Mendominasi
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa realisasi investasi nasional sepanjang Januari hingga September 2026 telah mencapai Rp1.539,2 triliun.
Realisasi investasi tersebut turut berkontribusi terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dengan penyerapan sebanyak 2,19 juta tenaga kerja baru.
Khusus sektor hilirisasi, realisasi investasi selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp480 triliun, mencerminkan besarnya aliran modal yang masuk ke kegiatan pengolahan dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp335,1 triliun.
Investasi sektor mineral tersebut mencakup sejumlah komoditas strategis, antara lain nikel, bauksit, besi baja, tembaga, dan pasir silika.
Sementara itu, sektor perkebunan dan kehutanan mencatatkan investasi hilirisasi sebesar Rp83,6 triliun, disusul sektor minyak dan gas bumi senilai Rp54 triliun serta sektor perikanan dan kelautan sebesar Rp7,3 triliun.
Rosan mengungkapkan bahwa sebagian besar investasi hilirisasi nasional terealisasi di luar Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 78 persen dari keseluruhan investasi hilirisasi.
"Kedua, perkebunan dan kehutanan Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, dan perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun. Tetapi, memang khusus untuk realisasi luar Jawa investasinya itu mencapai 78 persen dari total investasi (hilirisasi)," kata Rosan.
Besarnya kontribusi investasi di luar Jawa menunjukkan bahwa kegiatan hilirisasi juga berkembang di berbagai wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam dan mineral strategis.
Melalui pengembangan hilirisasi nikel untuk kebutuhan BESS, pemerintah berupaya memperluas pemanfaatan mineral strategis nasional, tidak hanya untuk industri kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Langkah tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan industri penyimpanan energi dalam negeri seiring meningkatnya kebutuhan teknologi baterai untuk mendukung program PLTS nasional berkapasitas 100 GWp.
- Penulis :
- Arian Mesa




