HOME  ⁄  Ekonomi

BI Ungkap Harga Rumah Kuartal III 2026 Hanya Naik 0,58 Persen, Penjualan Properti Masih Turun 8,43 Persen

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BI Ungkap Harga Rumah Kuartal III 2026 Hanya Naik 0,58 Persen, Penjualan Properti Masih Turun 8,43 Persen
Foto: (Sumber :Foto udara sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan rumah pada sebuah perumahan baru di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (5/11/2026). ANTARA Sultra/Andry Denisah.)

Pantau - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 melambat menjadi 0,58 persen secara tahunan, sementara penjualan rumah masih mengalami kontraksi sebesar 8,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perkembangan tersebut terungkap dalam hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dipublikasikan Bank Indonesia pada Jumat (6/11/2026).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa perlambatan harga rumah tercermin dari perkembangan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR).

Pertumbuhan IHPR pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 0,58 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 0,69 persen.

Hasil survei menunjukkan perlambatan terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar yang semakin terbatas.

Harga Rumah Menengah dan Besar Melambat

Bank Indonesia mencatat harga rumah tipe menengah pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 0,63 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2026 yang mencapai 0,83 persen.

Indeks harga rumah tipe menengah pada periode tersebut tercatat sebesar 114,15.

Sementara itu, harga rumah tipe besar tumbuh sebesar 0,57 persen secara tahunan, melambat dari 0,68 persen pada triwulan sebelumnya.

Indeks harga rumah tipe besar tercatat berada pada level 108,50.

Perlambatan pertumbuhan harga pada kedua kelompok rumah tersebut menjadi faktor utama yang menahan kenaikan IHPR secara keseluruhan.

Meski mengalami perlambatan, data BI menunjukkan harga rumah tipe menengah dan besar masih meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga Rumah Tipe Kecil Justru Tumbuh Lebih Tinggi

Berbeda dengan rumah tipe menengah dan besar, pertumbuhan harga rumah tipe kecil mengalami peningkatan pada triwulan III 2026.

Bank Indonesia mencatat indeks harga rumah tipe kecil berada pada level 114,14.

Pertumbuhan harga rumah tipe kecil mencapai 0,55 persen secara tahunan.

Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 0,49 persen.

Dengan demikian, rumah tipe kecil menjadi satu-satunya kelompok dalam survei tersebut yang mengalami percepatan pertumbuhan harga dibandingkan triwulan sebelumnya.

Namun, kenaikan harga pada kelompok rumah tipe kecil belum cukup untuk mendorong pertumbuhan IHPR secara keseluruhan.

Perkembangan harga rumah pada triwulan III 2026 menunjukkan adanya perbedaan arah pertumbuhan antara kelompok rumah kecil dengan rumah menengah dan besar.

Penjualan Rumah di Pasar Primer Turun 8,43 Persen

Selain mencatat perlambatan pertumbuhan harga, Bank Indonesia menemukan penurunan penjualan properti residensial di pasar primer.

Hasil survei menunjukkan penjualan rumah pada triwulan III 2026 mengalami penurunan di seluruh kelompok tipe rumah.

Secara keseluruhan, penjualan properti residensial di pasar primer terkontraksi sebesar 8,43 persen secara tahunan.

Kontraksi tersebut menunjukkan bahwa jumlah penjualan rumah lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Penurunan penjualan terjadi meskipun harga properti residensial secara umum masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Bank Indonesia tidak merinci dalam keterangan tersebut besaran kontraksi penjualan untuk masing-masing tipe rumah.

Data survei juga tidak menyebutkan secara khusus faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan pada periode tersebut.

KPR Masih Mendominasi Pembelian Rumah

Dari sisi pembiayaan, Bank Indonesia mencatat kredit pemilikan rumah (KPR) tetap menjadi pilihan utama konsumen untuk membeli properti residensial di pasar primer.

Pangsa pembelian rumah melalui skema KPR mencapai 70,68 persen dari keseluruhan skema pembelian.

Angka tersebut menunjukkan sebagian besar transaksi pembelian rumah masih mengandalkan pembiayaan kredit.

Sementara itu, pengembang properti lebih banyak menggunakan dana internal perusahaan untuk membiayai pembangunan perumahan.

Berdasarkan hasil survei BI, pembiayaan pembangunan properti residensial yang berasal dari dana internal pengembang mencapai 73,94 persen dari total kebutuhan pembiayaan.

Data tersebut memperlihatkan perbedaan pola pembiayaan antara pengembang dan konsumen di pasar properti residensial.

Pengembang terutama mengandalkan dana perusahaan untuk membangun hunian, sedangkan konsumen lebih banyak menggunakan fasilitas KPR untuk melakukan pembelian.

BI Catat Pertumbuhan Harga Tetap Positif di Tengah Penurunan Penjualan

Secara keseluruhan, hasil SHPR triwulan III 2026 memperlihatkan bahwa harga properti residensial di pasar primer masih mengalami kenaikan meskipun pertumbuhannya melambat.

Perlambatan tersebut terutama terjadi pada rumah tipe menengah dan besar, sementara pertumbuhan harga rumah tipe kecil sedikit meningkat.

Di sisi lain, penjualan rumah masih berada dalam kondisi kontraksi sebesar 8,43 persen secara tahunan.

Dari aspek pembiayaan, dana internal perusahaan tetap mendominasi sumber pendanaan pembangunan oleh pengembang, sedangkan KPR menjadi metode pembelian yang paling banyak digunakan konsumen.

Hasil survei ini menjadi gambaran perkembangan harga, penjualan, dan pola pembiayaan properti residensial di pasar primer Indonesia selama triwulan III 2026.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026