
Pantau - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mendorong optimalisasi potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia yang mencapai 3.688 gigawatt (GW), menyusul masih rendahnya kapasitas pembangkit terpasang yang belum mencapai 0,5 persen dari total potensi teknis nasional.
Hal tersebut disampaikan Kholid di Bandarlampung, Sabtu, 7 November 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan menjamin keberlanjutan pasokan listrik nasional.
Menurut Kholid, Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, tetapi pemanfaatannya masih jauh dibandingkan potensi yang tersedia.
"Kita ini punya potensi energi baru terbarukan sebesar 3.688 giga watt (GW), hanya saja kapasitas terpasangnya masih sangat kecil dibandingkan dengan potensinya. Tercatat pemanfaatannya kurang dari 0,5 persen dari potensi teknis," ungkap Kholid.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan pembangkit energi terbarukan untuk meningkatkan kontribusi sumber energi domestik terhadap kebutuhan listrik nasional.
Kholid menegaskan bahwa optimalisasi potensi EBT menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan pasokan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang terbatas.
Investasi dan Teknologi Jadi Tantangan Pengembangan Energi Terbarukan
Meski memiliki potensi yang besar, pengembangan EBT di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, terutama kebutuhan investasi, kelayakan ekonomi, dan pemanfaatan teknologi.
Selain persoalan pembiayaan, sebagian sumber energi terbarukan memiliki karakteristik intermiten atau produksi energi yang berfluktuasi mengikuti kondisi alam.
Karakteristik tersebut menjadi tantangan dalam memastikan pasokan listrik dari sumber energi terbarukan dapat tersedia secara stabil dan andal.
"Bila dilihat kendala dalam pemanfaatan potensi energi baru terbarukan ini adalah terkait investasi, keekonomian dan pemanfaatan teknologi, dapat dikatakan pula energi baru terbarukan belum terlalu andal karena sifatnya intermiten atau pasokannya masih fluktuatif," jelas Kholid.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Kholid menilai diperlukan kepastian investasi agar proyek-proyek pengembangan EBT dapat berjalan dan memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai.
Penerapan teknologi juga diperlukan untuk membantu menjaga stabilitas produksi energi, terutama pada pembangkit yang bergantung pada kondisi cuaca dan faktor alam lainnya.
Menurut Kholid, kombinasi investasi dan teknologi yang tepat dapat meningkatkan keandalan pasokan sekaligus memperbaiki nilai keekonomian proyek energi terbarukan.
"Bila sudah ada investasi yang masuk, lalu pemanfaatan teknologi untuk memastikan pasokan energi baru terbarukan stabil tentu secara ekonomi akan meningkat. Upaya-upaya ini yang saat ini terus diupayakan," ujarnya.
Energi Surya Dominasi Potensi EBT Indonesia dengan 3.294 GW
Berdasarkan data yang dipaparkan Kholid, total potensi energi baru terbarukan Indonesia mencapai 3.688 GW yang berasal dari enam sumber energi utama.
Energi surya menjadi penyumbang potensi terbesar dengan kapasitas teknis mencapai 3.294 GW atau sekitar 89 persen dari keseluruhan potensi EBT nasional.
"Potensi energi baru terbarukan yang terbesar berasal dari energi surya dengan besaran potensi energi mencapai 3.294 giga watt," tegas Kholid.
Selain energi surya, Indonesia memiliki potensi energi angin sebesar 155 GW dan energi hidro atau tenaga air mencapai 95 GW.
Potensi energi laut tercatat sebesar 63 GW, sedangkan bioenergi memiliki potensi sebesar 57 GW.
Sementara itu, potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 24 GW yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyediaan listrik nasional.
Berikut rincian potensi teknis EBT Indonesia berdasarkan data yang disampaikan Kholid.
| Sumber energi | Potensi teknis |
|---|---|
| Energi surya | 3.294 GW |
| Energi angin | 155 GW |
| Energi hidro | 95 GW |
| Energi laut | 63 GW |
| Bioenergi | 57 GW |
| Energi panas bumi | 24 GW |
| Total | 3.688 GW |
Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang pengembangan energi terbarukan yang luas, terutama pada sektor tenaga surya.
Kapasitas Terpasang Energi Surya Baru Mencapai 1.624 MW
Meski memiliki potensi teknis sebesar 3.294 GW, kapasitas terpasang pembangkit energi surya Indonesia dilaporkan baru mencapai sekitar 1.624 megawatt (MW).
Berdasarkan rincian data hingga April 2026, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tercatat sebesar 510,57 MW.
Sementara itu, kapasitas PLTS Atap mencapai 916,99 MW dan PLTS Terapung sebesar 196,51 MW.
Ketiga jenis pembangkit tersebut memiliki total kapasitas terpasang sekitar 1.624 MW, jauh lebih kecil dibandingkan potensi teknis energi surya nasional.
Pada sektor tenaga air, kapasitas terpasang dilaporkan mencapai sekitar 7.597 MW yang berasal dari berbagai jenis pembangkit.
Rinciannya meliputi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6.363 MW, pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) sebesar 1.145 MW, serta pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebesar 85,62 MW.
Sementara itu, kapasitas terpasang sektor bioenergi mencapai sekitar 3.667 MW dengan kontribusi terbesar berasal dari pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm).
Kapasitas PLTBm tercatat sebesar 3.468 MW, sedangkan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) mencapai 164 MW dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sebesar 35,67 MW.
Untuk energi angin, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) mencapai 151,91 MW hingga April 2026.
Adapun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki kapasitas terpasang sebesar 2.752 MW.
Berikut rincian kapasitas terpasang pembangkit EBT Indonesia hingga April 2026.
| Jenis pembangkit | Kapasitas terpasang |
|---|---|
| PLTS | 510,57 MW |
| PLTS Atap | 916,99 MW |
| PLTS Terapung | 196,51 MW |
| PLTA | 6.363 MW |
| PLTM | 1.145 MW |
| PLTMH | 85,62 MW |
| PLTBm | 3.468 MW |
| PLTBg | 164 MW |
| PLTSa | 35,67 MW |
| PLTB | 151,91 MW |
| PLTP | 2.752 MW |
Data tersebut memperlihatkan bahwa pembangkit tenaga air, bioenergi, dan panas bumi telah memiliki kapasitas terpasang yang cukup besar dibandingkan sejumlah sumber EBT lainnya.
Namun, energi surya yang memiliki potensi teknis paling dominan justru masih mencatat tingkat pemanfaatan yang sangat rendah.
DEN Dorong Percepatan Investasi untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Kholid menekankan bahwa peningkatan investasi, perbaikan keekonomian proyek, dan penerapan teknologi menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Kepastian pembiayaan dinilai dapat mendorong pembangunan pembangkit baru sekaligus memperluas pemanfaatan sumber energi yang tersedia di berbagai wilayah.
Di sisi lain, pengembangan teknologi diperlukan untuk mengatasi fluktuasi pasokan pada sumber energi tertentu sehingga sistem kelistrikan dapat beroperasi secara lebih stabil.
Optimalisasi potensi EBT juga diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya energi domestik untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan industri.
Dengan potensi mencapai 3.688 GW, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas kapasitas pembangkit energi terbarukan melalui dukungan investasi dan pengembangan teknologi.
DEN mendorong agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih optimal guna memperkuat keandalan pasokan listrik dan mendukung ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Shila Glorya




