HOME  ⁄  Ekonomi

Investasi Asing Sektor Jasa RI Melonjak 86,02 Persen, Jawa Barat Jadi Tujuan Utama

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Investasi Asing Sektor Jasa RI Melonjak 86,02 Persen, Jawa Barat Jadi Tujuan Utama
Foto: Pekerja melakukan penataan kabel utilitas di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).

Pantau - Lembaga riset NEXT Indonesia Center mencatat penanaman modal asing (PMA) pada sektor jasa lainnya di Indonesia meningkat 86,02 persen sepanjang Januari hingga September 2026, menunjukkan semakin besarnya minat investor asing terhadap sektor tersebut.

Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan realisasi investasi asing pada sektor jasa lainnya mencapai Rp100,4 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Nilai tersebut menempatkan sektor jasa lainnya sebagai penerima investasi asing terbesar kedua setelah industri logam dasar yang mencatatkan investasi Rp246,6 triliun.

Jawa Barat menjadi daerah tujuan utama investasi asing pada sektor jasa lainnya dengan realisasi mencapai Rp53,6 triliun.

"Investasi asing pada sektor Jasa Lainnya ini melonjak di Jawa Barat dengan nilai investasi Rp53,6 triliun pada Januari-September 2026," kata Ade dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (8/11/2026).

Investasi di Jawa Barat tersebut menyumbang sekitar 53,4 persen dari total PMA sektor jasa lainnya secara nasional.

Pengembangan Pusat Data Dorong Investasi di Jawa Barat

Berdasarkan kajian NEXT Indonesia Center, tingginya investasi asing pada sektor jasa lainnya di Jawa Barat berlangsung seiring pembangunan dan perluasan fasilitas pusat data atau data center.

Pengembangan infrastruktur digital tersebut terutama berlangsung di wilayah Bekasi dan Cikarang dengan keterlibatan sejumlah perusahaan asal Singapura.

Perusahaan yang melakukan pengembangan fasilitas pusat data antara lain Princeton Digital Group dan ST Telemedia Global Data Centres.

Kedua perusahaan tersebut memperluas infrastruktur pusat data untuk memenuhi kebutuhan layanan digital.

NEXT Indonesia Center menilai pengembangan pusat data berpotensi menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan investasi asing pada sektor jasa lainnya.

Namun, lembaga tersebut belum dapat memastikan besaran kontribusi investasi pusat data karena kategori jasa lainnya mencakup beragam kegiatan usaha.

Selain Jawa Barat, DKI Jakarta menjadi tujuan investasi asing terbesar kedua pada sektor jasa lainnya.

Realisasi investasi asing di Jakarta meningkat dari Rp24,7 triliun menjadi Rp29,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Investasi Asing Capai Rp777,8 Triliun

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi PMA nasional sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp777,8 triliun.

Menurut perhitungan NEXT Indonesia Center, nilai investasi asing tersebut meningkat 20,67 persen secara tahunan.

PMA menyumbang 50,5 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.539,2 triliun.

Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp761,4 triliun atau setara dengan 49,5 persen dari keseluruhan investasi.

Meski investasi asing meningkat, NEXT Indonesia Center mencatat investasi domestik mengalami pelemahan pada dua triwulan berturut-turut.

PMDN mengalami kontraksi 7,77 persen pada triwulan II dan 7,48 persen pada triwulan III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"PMA memang mampu menopang pertumbuhan investasi ketika PMDN melemah. Namun, kondisi ini juga perlu menjadi perhatian karena pertumbuhan investasi yang sehat membutuhkan kontribusi modal asing dan domestik secara seimbang," ucap Ade.

NEXT Dorong Perbaikan Iklim Investasi Domestik

Ade menilai pelemahan investasi dalam negeri berkaitan dengan permintaan pasar yang belum kuat, tingginya biaya produksi dan pembiayaan, serta ketidakpastian regulasi.

Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha domestik memilih menunda ekspansi bisnis.

Menurutnya, peningkatan investasi asing perlu diimbangi dengan perbaikan iklim usaha agar pertumbuhan investasi memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian nasional.

"Memperbaiki iklim usaha bagi pelaku domestik ini penting, pemerintah perlu memastikan kepastian regulasi dan kemudahan berusaha agar pelaku usaha dalam negeri kembali memiliki ruang untuk berekspansi," katanya.

Ade juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi regulasi, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan memperkuat keterlibatan rantai pasok lokal dalam kegiatan investasi asing.

"Akan tetapi, penguatan PMA ke depan juga harus diselaraskan dengan pemulihan investasi domestik serta penguatan rantai pasok lokal agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan secara inklusif dan merata," ujarnya.

Investasi Nasional Serap Lebih dari 2,19 Juta Tenaga Kerja

BKPM mencatat total investasi nasional selama Januari hingga September 2026 tumbuh 7,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi sebesar Rp1.539,2 triliun tersebut telah mencapai 75,4 persen dari target investasi tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun.

Kegiatan investasi selama sembilan bulan pertama tahun ini juga tercatat menyerap 2.194.496 tenaga kerja Indonesia.

BKPM sebelumnya menyatakan terus memberikan pendampingan kepada investor, termasuk membantu penyelesaian kendala perizinan, untuk mempercepat realisasi investasi hingga akhir 2026.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026