Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Wapres AS JD Vance Bela Kebijakan terhadap Venezuela, Soroti Peran dalam Perdagangan Narkoba dan Aset Minyak

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Wapres AS JD Vance Bela Kebijakan terhadap Venezuela, Soroti Peran dalam Perdagangan Narkoba dan Aset Minyak
Foto: (Sumber: Arsip foto - Wakil Presiden AS JD Vance. /ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa.)

Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada Minggu (4/1), menyatakan pembelaannya terhadap kebijakan Washington terhadap Venezuela, di tengah meningkatnya kritik publik dan internasional pasca operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Venezuela Dituding Terlibat dalam Perdagangan Narkoba Global

JD Vance menegaskan bahwa Venezuela memiliki peran signifikan dalam rantai perdagangan narkoba global, khususnya dalam peredaran kokain.

"Fentanil bukan satu-satunya jenis narkoba yang beredar di dunia", ujarnya dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosial X.

Ia menanggapi klaim bahwa Venezuela tidak berperan dalam perdagangan narkoba karena sebagian besar fentanil berasal dari wilayah lain.

Menurutnya, klaim tersebut mengabaikan fakta penting, termasuk bahwa "pasokan fentanil juga pernah berasal dari Venezuela", dan bahwa kokain tetap menjadi narkoba utama yang diperdagangkan keluar dari negara tersebut.

"Kokain masih menjadi sumber pendapatan besar bagi kartel narkoba di Amerika Latin", ungkapnya.

Vance menambahkan bahwa memutus atau mengurangi aliran dana dari perdagangan kokain akan secara signifikan melemahkan kekuatan kartel narkoba.

Ia menyebut kokain sebagai "ancaman serius yang tidak boleh diabaikan".

Meskipun demikian, Vance mengakui bahwa Meksiko tetap menjadi fokus utama dalam kebijakan pemberantasan narkoba AS, mengingat keterkaitannya yang kuat dengan distribusi fentanil.

Ia juga merujuk pada kebijakan keras Presiden Donald Trump yang "menutup perbatasan pada hari pertama masa jabatannya", sebagai bagian dari upaya nasional memerangi narkoba lintas batas.

Sorotan terhadap Aset Minyak dan Tuduhan Narkoterorisme

Selain isu narkoba, JD Vance juga menanggapi kritik terkait kebijakan energi terhadap Venezuela.

Ia menuduh pemerintah Caracas telah lama mengambil alih aset minyak milik perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

"Venezuela telah mengambil alih aset minyak milik perusahaan AS", katanya.

Menurutnya, aset tersebut digunakan untuk memperkaya negara dan mendanai aktivitas yang ia sebut sebagai narkoterorisme.

Vance mengakui adanya kekhawatiran publik terhadap penggunaan kekuatan militer oleh AS.

Namun, ia mempertanyakan sikap pasif terhadap tindakan yang ia klaim sebagai "pencurian aset oleh pemerintahan komunis di Belahan Barat".

Pernyataan Vance muncul sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer AS pada Sabtu (3/1) berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih kendali atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan opsi pengerahan pasukan jika dibutuhkan.

Ia juga menuduh Maduro telah "mengawasi pengiriman narkoba ke AS" dan mempertahankan kekuasaan "secara tidak sah melalui kecurangan pemilu".

Saat ini, Nicolas Maduro ditahan di sebuah fasilitas penahanan di New York, menunggu proses hukum atas tuduhan terkait narkoba.

Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut.

Sementara itu, sejumlah pejabat di Caracas menyerukan pembebasan Presiden Maduro.

Informasi ini dikonfirmasi melalui laporan dari Anadolu.

Penulis :
Gerry Eka