Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

China Desak AS dan Rusia Lanjutkan Dialog Pengendalian Senjata Nuklir Usai New START Berakhir

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

China Desak AS dan Rusia Lanjutkan Dialog Pengendalian Senjata Nuklir Usai New START Berakhir
Foto: (Sumber: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa..)

Pantau - Pemerintah China berharap Amerika Serikat melanjutkan kesepakatan pengendalian senjata nuklir dengan Rusia setelah Perjanjian New START resmi berakhir pada 4 Februari 2026.

Sikap China soal Stabilitas Nuklir Global

Harapan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Jumat 6 Februari 2026.

Lin Jian menegaskan kelanjutan dialog antara Amerika Serikat dan Rusia penting bagi stabilitas strategis global serta mencerminkan harapan komunitas internasional.

Ia menyatakan, “Kelanjutan dialog pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia penting bagi stabilitas strategis global dan merupakan harapan dunia internasional,” ungkapnya.

New START merupakan perjanjian pengendalian senjata nuklir yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang ditempatkan masing-masing negara maksimal 1.550 unit.

Perjanjian tersebut juga membatasi jumlah sistem pengiriman strategis seperti pembom berat, ICBM, dan SLBM hingga 800 unit per negara.

New START mengatur mekanisme transparansi melalui pertukaran data, pemberitahuan, dan inspeksi di lokasi.

Dampak Berakhirnya New START

Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Perjanjian mulai berlaku pada 5 Februari 2011 selama 10 tahun dan diperpanjang lima tahun pada 2021 oleh Presiden Joe Biden dan Presiden Vladimir Putin.

Dengan berakhirnya New START, Amerika Serikat dan Rusia secara teoritis bebas meningkatkan jumlah rudal dan hulu ledak nuklir strategis.

Meski demikian, peningkatan persenjataan nuklir dinilai membutuhkan waktu dan menghadapi tantangan logistik.

Rusia sempat menangguhkan partisipasi dalam New START tiga tahun lalu akibat ketegangan perang Ukraina.

Meski ditangguhkan, Amerika Serikat dan Rusia dinilai masih mematuhi ketentuan utama perjanjian tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perjanjian pengendalian senjata di masa depan seharusnya juga melibatkan China.

China menolak terlibat dalam negosiasi pengendalian senjata nuklir saat ini dengan alasan kekuatan nuklirnya tidak sebanding dengan Amerika Serikat dan Rusia.

Rusia berpandangan perjanjian pengendalian senjata di masa depan juga harus mencakup Prancis dan Inggris.

Rusia menyebut Amerika Serikat belum menanggapi usulan Presiden Vladimir Putin untuk memperpanjang kepatuhan terhadap batasan New START selama 12 bulan.

Data Januari 2025 mencatat Rusia memiliki sekitar 4.309 hulu ledak nuklir dan Amerika Serikat sekitar 3.700 hulu ledak nuklir.

Prancis dan Inggris masing-masing memiliki sekitar 290 dan 225 hulu ledak nuklir, sementara China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir.

Berakhirnya New START dinilai berpotensi melemahkan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tahun 1970.

Perjanjian NPT menuntut negara pemilik senjata nuklir melakukan upaya perlucutan senjata dengan itikad baik sebagai imbalan komitmen negara nonnuklir untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Penulis :
Ahmad Yusuf