
Pantau - Presiden Donald Trump pada 6 Februari 2026 mengumumkan strategi baru penjualan senjata internasional bertajuk America First Arms Transfer Strategy, yang menekankan keuntungan langsung bagi Amerika Serikat dalam setiap kemitraan militer.
Strategi ini bertujuan memprioritaskan kepentingan nasional AS, dengan hanya mengutamakan mitra yang dinilai strategis secara militer dan ekonomi.
Negara mitra yang dianggap layak diprioritaskan adalah yang telah berinvestasi dalam pertahanan nasionalnya, berada dalam posisi geografis strategis bagi militer AS, dan memberi kontribusi terhadap keamanan ekonomi Amerika.
Dorong Industri Pertahanan Domestik dan Seleksi Mitra Ketat
Melalui perintah eksekutif, Trump menegaskan bahwa strategi ini akan mendukung reindustrialisasi dalam negeri, terutama dengan memperkuat manufaktur pertahanan lewat peningkatan permintaan dari luar negeri.
Pemerintah AS akan menyusun katalog senjata prioritas dalam 120 hari, dengan koordinasi dari Menteri Perang Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick.
Trump juga mengkritik negara-negara NATO yang dinilai belum cukup membelanjakan anggaran untuk pertahanan.
Ia menyerukan agar negara mitra meningkatkan belanja militer hingga 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
NATO Respon, AS Tekankan Dominasi Teknologi Militer
Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, KTT NATO di Den Haag menghasilkan kesepakatan baru, yaitu menaikkan target belanja pertahanan menjadi 3,5% dari PDB.
Anggaran ini mencakup alokasi untuk keamanan siber dan pembangunan infrastruktur strategis.
Trump menegaskan bahwa negara yang tidak memenuhi standar investasi pertahanan kemungkinan tidak akan diprioritaskan dalam kebijakan ekspor senjata AS.
Strategi ini mencerminkan pendekatan kebijakan luar negeri yang lebih transaksional, di mana setiap kemitraan harus memberi keuntungan langsung dan mendukung dominasi teknologi serta militer AS di pasar global persenjataan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







