
Pantau - Jeffrey Epstein, pemodal asal Amerika Serikat yang dikenal memiliki jaringan luas dengan tokoh-tokoh berkuasa dunia, kembali menjadi sorotan setelah pemerintah AS mulai merilis arsip kejahatannya pada Januari 2026.
Epstein bukan hanya dikenal sebagai pelaku kejahatan finansial, tetapi juga sebagai pemerkosa berantai, pelaku perdagangan manusia, dan pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Kepolisian mulai menyelidiki Epstein sejak 2005 setelah adanya laporan pelecehan terhadap anak berusia 14 tahun.
Setelah itu, semakin banyak keluarga yang mengadukan kasus serupa.
Dari Vonis 2008 hingga Kematian Misterius di Penjara
Pada 2008, Epstein divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Florida dalam kasus pelacuran dan dijatuhi hukuman penjara 18 bulan, namun hanya dijalani sebagian.
Setelah sepuluh tahun bebas, FBI kembali membuka penyelidikan atas dirinya pada tahun 2018.
Epstein ditangkap pada 2019 dan meninggal dunia dalam tahanan, yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri.
Namun, kematiannya memunculkan banyak kecurigaan dan teori konspirasi, yang justru memperluas sorotan publik terhadap kasus ini.
Keterlibatan Tokoh Dunia dan Tekanan Politik terhadap Trump
Investigasi aparat AS mengungkap keterkaitan Epstein dengan sejumlah tokoh besar dunia, termasuk Presiden AS saat ini, Donald Trump.
Dalam kampanye pemilu 2024, Trump sempat berjanji akan merilis arsip kejahatan Epstein jika terpilih.
Namun hingga hampir satu tahun menjabat, janji itu belum direalisasikan.
Pada Juli 2025, Wall Street Journal mempublikasikan album ucapan ulang tahun ke-50 Epstein dari tahun 2003, yang berisi nama-nama tokoh ternama, termasuk Trump.
Trump menggugat media tersebut, namun gugatan itu justru membuat kasus Epstein kembali meluas.
Pada September 2025, Komisi Pengawasan dan Reformasi Pemerintahan DPR AS akhirnya merilis album itu ke publik.
Tekanan politik terhadap Trump meningkat tajam, termasuk dari internal Partai Republik.
Akhirnya, Trump menandatangani Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein pada November 2025.
UU ini memberi wewenang kepada Kejaksaan Agung AS untuk merilis dokumen, rekaman, dan arsip terkait kasus Epstein.
Rilis Arsip dan Dampak Geopolitik
Arsip-arsip tersebut mulai dirilis pada Januari 2026, bertepatan dengan memanasnya situasi geopolitik global, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS dan meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Isu Epstein diprediksi akan terus menjadi sorotan tajam yang mengganggu stabilitas politik dalam negeri AS.
"Isu Epstein tampaknya akan terus mengganggu Trump dan sangat mungkin akan terus digoreng oleh musuh-musuh politiknya," demikian komentar dari salah satu analis politik Washington.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







