HOME  ⁄  Geopolitik

PBB Peringatkan Risiko Kebakaran dan Krisis Hunian di Kamp Pengungsi Gaza

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

PBB Peringatkan Risiko Kebakaran dan Krisis Hunian di Kamp Pengungsi Gaza
Foto: (Sumber: Anak-anak Palestina terlihat di dekat tenda-tenda pengungsi di sebelah barat Kota Gaza, pada 19 Februari 2026. Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) memperingatkan pada hari Kamis bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza "sangat buruk" karena pembatasan akses bantuan terus berlanjut. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad).)

Pantau – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan adanya ancaman serius bagi keluarga pengungsi di Jalur Gaza akibat penggunaan tungku api terbuka untuk memasak di kamp-kamp pengungsian yang kelebihan kapasitas hingga mencapai tingkat berbahaya.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan para pengungsi terpaksa memasak, tidur, dan menyimpan barang-barang mereka di ruang yang sangat sempit sehingga menimbulkan risiko kebakaran sekaligus ancaman kesehatan.

“Sejak November 2025, mitra kami telah mencatat setidaknya 12 kebakaran di kamp-kamp pengungsian ini,” demikian pernyataan OCHA.

Dalam sepuluh hari menjelang 17 Februari, badan kemanusiaan tersebut memberikan bantuan tempat penampungan kepada 85 keluarga di Deir al Balah dan Khan Younis yang tempat berlindungnya rusak akibat kebakaran di Gaza City.

OCHA menekankan bahwa keluarga pengungsi membutuhkan tempat berlindung yang layak untuk melindungi mereka dari kondisi alam serta memberikan privasi yang lebih baik. Mitra kemanusiaan juga menegaskan kembali kebutuhan mendesak untuk beralih ke solusi hunian yang lebih berkelanjutan.

Pegiat kemanusiaan telah lama menyerukan kepada Israel agar mengizinkan lebih banyak bantuan perlengkapan tempat tinggal yang lebih awet masuk ke Jalur Gaza.

OCHA menyebutkan bahwa di banyak wilayah Gaza, distribusi bantuan kemanusiaan masih memerlukan koordinasi dengan otoritas Israel. Dari 67 pergerakan yang dikoordinasikan pada periode 12 hingga 19 Februari, sebanyak 43 disetujui, sembilan ditolak mentah-mentah, dan delapan disetujui namun menghadapi hambatan, dengan enam di antaranya berhasil diselesaikan sepenuhnya.

Sementara itu, di Tepi Barat, OCHA memperingatkan aksi kekerasan yang terus berlanjut serta praktik koersif oleh pasukan Israel dan komunitas pemukim yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan properti, dan ketelantaran.

Pada periode 3 hingga 16 Februari, pasukan Israel di Tepi Barat dilaporkan menewaskan tiga warga Palestina sehingga total korban tahun ini menjadi sembilan orang, termasuk dua anak-anak.

“Selama periode yang sama, tercatat sedikitnya 86 serangan pemukim Israel, di mana lebih dari 60 warga Palestina mengalami luka-luka, dan sekitar 146 orang terpaksa mengungsi,” ujar OCHA.

Sejak Januari 2023 hingga 16 Februari tahun ini, sedikitnya 880 keluarga Palestina atau lebih dari 4.700 individu telah mengungsi di seluruh Tepi Barat akibat serangan pemukim Israel dan pembatasan akses.

Penulis :
Ahmad Yusuf