
Pantau - Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi menyatakan perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran menghasilkan kesepakatan kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya.
Berita dipublikasikan pada Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 12:41 WIB dengan waktu baca sekitar tiga menit.
Kesepakatan tersebut mencakup pengurangan stok uranium ke tingkat terendah serta konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi Badan Energi Atom Internasional IAEA.
Al-Busaidi mengatakan kepada CBS bahwa dia yakin "kesepakatan perdamaian berada dalam jangkauan kita" jika diplomasi diberi "ruang yang dibutuhkan untuk mencapainya.".
Ia menegaskan "Pencapaian terpenting, menurut saya, adalah kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki bahan nuklir yang dapat menciptakan bom,".
Menurutnya, negosiasi menghasilkan kesepakatan tentang "nol akumulasi, nol penimbunan, dan verifikasi penuh" oleh IAEA sehingga perdebatan soal pengayaan menjadi kurang relevan.
Ia menggambarkan pemahaman tersebut sebagai "sesuatu yang benar-benar baru" dibandingkan kesepakatan nuklir era Presiden AS Barack Obama.
Terkait stok uranium yang sudah ada di Iran, ia menyampaikan "sekarang ada kesepakatan bahwa ini akan dicampur ke tingkat terendah yang mungkin... dan diubah menjadi bahan bakar, dan bahan bakar itu tidak dapat diubah lagi.".
"Saya pikir kami telah mencapai kesepakatan tentang hal itu, menurut pandangan saya," katanya.
Jika kesepakatan tercapai, akan ada "verifikasi penuh dan komprehensif oleh IAEA," serta kemungkinan inspektur AS mendapat akses "pada titik tertentu dalam proses" apabila kesepakatan berjalan stabil dalam jangka panjang.
Ia menyebut komponen politik luas dari kesepakatan "dapat disepakati besok," dengan pembicaraan teknis dijadwalkan di Wina dan implementasi terkait stok, verifikasi, serta akses dapat selesai dalam "90 hari.".
Al-Busaidi menekankan "Saya rasa tidak ada alternatif selain diplomasi yang akan menyelesaikan masalah ini," serta memperingatkan bahwa tindakan militer hanya akan "memperumit penyelesaian masalah ini dan menundanya.".
Dalam beberapa pekan terakhir, AS memperkuat kehadiran militer di Teluk Persia dan memberi sinyal kemungkinan operasi militer untuk menekan Iran menghentikan program nuklir dan rudalnya serta mengekang sekutu regionalnya.
Teheran menuduh Washington dan Israel mengarang dalih untuk intervensi dan perubahan rezim.
Iran memperingatkan akan menanggapi setiap serangan militer, bahkan yang terbatas, serta menegaskan pencabutan sanksi harus menyertai pembatasan program nuklirnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan








