
Pantau - Provinsi paling selatan China, Hainan, mulai membidik pasar di luar kawasan ASEAN setelah resmi menerapkan sistem kepabeanan khusus melalui Hainan Free Trade Port pada 18 Desember 2025 sebagai upaya memperluas keterbukaan perdagangan global.
Sekretaris Jenderal Pemerintah Provinsi Hainan Cai Qiang menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah keterbukaan sepihak yang ditujukan kepada seluruh negara tanpa target kawasan tertentu.
Ia mengatakan, "Hainan Free Trade Port merupakan langkah keterbukaan sepihak yang ditujukan kepada seluruh negara di dunia tanpa target tertentu tapi karena ASEAN merupakan kawasan yang paling dekat dengan kami dan saat ini juga merupakan mitra dagang terbesar, kami sangat berharap dapat memperdalam kerja sama dengan ASEAN."
Pernyataan tersebut disampaikan Cai Qiang dalam acara Hainan Open Day di Beijing pada Sabtu 7 Maret 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sidang parlemen Dua Sesi di China yang berlangsung pada 4 hingga 12 Maret 2026.
Dalam forum Open Day, anggota Kongres Rakyat Nasional China atau National People's Congress dari berbagai provinsi menyampaikan aspirasi daerah sesuai arahan Komite Pusat Partai Komunis China yang dipimpin Sekretaris Jenderal Xi Jinping.
Hainan sendiri merupakan provinsi termuda di China dan sejak 18 Desember 2025 mulai menerapkan sistem kepabeanan khusus yang berbeda dari sistem kepabeanan di wilayah China daratan.
Kemudahan Mobilitas Bisnis dan Perdagangan
Cai Qiang mencontohkan kemudahan mobilitas bisnis setelah penerapan kebijakan tersebut.
Ia mengatakan, "Banyak teman saya punya perusahaan di Singapura dan Malaysia. Kalau sebelumnya jika rapat di Beijing, karyawan mereka dari Singapura atau Malaysia harus terbang sekitar delapan jam dan harus mengurus visa tapi sekarang jika rapat di Hainan, staf dari kantor pusat di Beijing hanya perlu terbang sekitar 3-4 jam, sementara karyawan dari Malaysia dan Singapura juga hanya butuh 3-4 jam dan masuk tanpa visa."
Kondisi tersebut memungkinkan pelaku usaha dari Asia Tenggara menghadiri rapat atau kegiatan bisnis di Hainan dengan waktu perjalanan lebih singkat dan biaya perjalanan yang lebih rendah.
Cai Qiang menambahkan, "Oleh karena itu kami sangat menantikan kerja sama dengan ASEAN, termasuk di bidang perdagangan hijau dan ekonomi digital."
ASEAN tercatat menjadi mitra dagang terbesar Hainan dengan nilai ekspor dan impor antara Hainan dan negara-negara ASEAN mencapai 57,91 miliar RMB pada 2024.
Posisi tersebut menjadikan ASEAN sebagai mitra dagang terbesar Hainan selama enam tahun berturut-turut.
Sistem Kepabeanan Khusus dan Insentif Pajak
Dalam sistem Hainan Free Trade Port, barang yang keluar dari Hainan menuju wilayah China daratan diperlakukan seperti barang impor.
Kebijakan tersebut dirancang untuk menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih terbuka dan fleksibel bagi investasi global.
Sistem arus barang di kawasan tersebut mengikuti tiga prinsip utama.
Prinsip pertama adalah first line freer access yang memungkinkan barang dari luar negeri masuk ke Hainan dengan akses yang lebih bebas.
Prinsip kedua adalah second line controlled access yang berarti barang dari Hainan yang masuk ke China daratan akan diawasi lebih ketat.
Prinsip ketiga adalah free circulation inside the island yang memungkinkan barang bergerak bebas di dalam Pulau Hainan.
Sejak sistem tersebut diterapkan, banyak barang impor tidak lagi dikenakan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai impor, maupun Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Cai Qiang menjelaskan bahwa implementasi kebijakan tersebut tetap membutuhkan pengawasan yang ketat.
Ia mengatakan, "Sistemnya sudah ada yang perlu dilakukan sekarang hanyalah bagaimana melaksanakan kebijakan dan pengawasan karena negara memberikan kebijakan tarif nol untuk barang yang masuk melalui first line maka pada second line kita harus melakukan pengawasan ketat. Jika tidak, Hainan bisa menjadi jalur penyelundupan."
Pemerintah Hainan untuk tahap awal lebih dahulu menerapkan tarif nol untuk peralatan produksi dan bahan baku yang digunakan perusahaan.
Ia menjelaskan, "Barang-barang ini relatif lebih mudah diawasi karena perusahaan biasanya mengimpor dalam jumlah besar. Selama kita dapat mengawasi perusahaan dan arus logistik barang, maka pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya, barang konsumsi yang langsung ditujukan kepada masyarakat luas harus diuji dan penerapan tarif nol dilakukan secara bertahap."
Sebanyak 6.637 jenis barang atau sekitar 74 persen dari total 8.960 barang berkode tarif di China kini mendapatkan tarif impor nol persen di Hainan.
Sebagian barang lainnya tetap dikenakan tarif impor untuk melindungi industri domestik China.
Barang yang diproduksi di Hainan dengan bahan impor namun memiliki nilai tambah lokal minimal 30 persen juga dapat masuk ke China daratan tanpa dikenakan bea masuk.
Kebijakan tersebut dirancang untuk mendorong perkembangan industri manufaktur dan pemrosesan di Hainan.
Selain itu, pemerintah menawarkan berbagai insentif pajak melalui penurunan Pajak Penghasilan badan menjadi sekitar 15 persen untuk industri tertentu dibandingkan tarif nasional sebesar 25 persen.
Pajak Penghasilan individu juga dibatasi maksimal sekitar 15 persen bagi pekerja yang memenuhi syarat.
Insentif tersebut membantu perusahaan menekan biaya impor bahan baku, barang modal, dan komponen sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah.
Penduduk Pulau Hainan yang memiliki kartu identitas, izin tinggal, atau kartu jaminan sosial Hainan juga mendapatkan kuota belanja bebas bea tahunan sebesar 10.000 RMB untuk barang dalam daftar positif.
Kebijakan tersebut memungkinkan warga membeli barang impor dengan harga sekitar 8 hingga 20 persen lebih murah dibandingkan harga di China daratan.
Wisatawan yang datang ke Hainan juga dapat berbelanja di toko duty free dengan berbagai keuntungan tambahan termasuk perluasan jenis barang bebas bea dan skema beli dan langsung dibawa pulang atau buy and pick-up immediately.
Pada 2025, Hainan menerima sekitar 1,5 juta wisatawan mancanegara.
Jumlah tersebut meningkat 35,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sekitar 500 ribu wisatawan atau sepertiga dari total wisatawan mancanegara tersebut berasal dari Rusia.
Peningkatan kunjungan wisatawan juga didukung kebijakan bebas visa bagi warga dari 86 negara serta kebijakan bebas visa khusus Hainan untuk 59 negara.
Kebijakan bebas visa tersebut juga berlaku bagi warga dari 10 negara ASEAN dengan durasi tinggal hingga 30 hari.
- Penulis :
- Leon Weldrick







