
Pantau - Iran menyatakan kawasan Timur Tengah tidak akan mencapai perdamaian selama pangkalan militer milik Amerika Serikat masih beroperasi di wilayah tersebut di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang menilai keberadaan pangkalan militer AS menjadi salah satu faktor utama yang menghambat stabilitas kawasan.
Pernyataan Ketua Parlemen Iran
Ghalibaf menegaskan kebijakan pertahanan Iran tetap mengikuti prinsip yang diwariskan oleh para pemimpin Revolusi Iran.
Ia menyatakan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi penghalang bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
"Selama pangkalan militer Amerika Serikat masih berada di kawasan ini, negara-negara Timur Tengah tidak akan menikmati perdamaian," ungkapnya.
Latar Belakang Ketegangan dan Dampak Serangan
Pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Iran sebelumnya melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah target militer Amerika Serikat sebagai respons atas operasi militer gabungan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Pada hari pertama operasi tersebut dilaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas akibat serangan.
Serangan itu juga dilaporkan mengenai sebuah sekolah perempuan di wilayah Iran selatan.
Menurut laporan dari pihak Iran, rangkaian serangan tersebut menyebabkan korban tewas diperkirakan lebih dari 1.200 orang.
Situasi tersebut semakin meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
- Penulis :
- Gerry Eka







