
Pantau - Meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap melemahnya daya tarik aset berdenominasi dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe-haven) di tengah ketidakpastian global.
Tekanan Geopolitik dan Dampak ke Pasar Global
Para analis menilai konflik berkepanjangan dapat menggerus kepercayaan terhadap aset dolar AS melalui berbagai jalur, termasuk paparan investasi perusahaan AS di kawasan konflik dan potensi lonjakan inflasi akibat energi.
Data Emerging Portfolio Fund Research menunjukkan dana obligasi pasar emerging global mencatat arus keluar bersih sekitar 1,1 miliar dolar AS pada pekan yang berakhir 11 Juni.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun 0,13 persen ke level 99,574 pada 17 Juni, mencerminkan penguatan yang terbatas di tengah situasi krisis.
Kondisi ini diperparah oleh kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dan 2 tahun yang menyimpang dari pola krisis biasanya.
Serangan drone Iran yang merusak pusat data milik perusahaan afiliasi Amazon di Uni Emirat Arab juga menyoroti tingginya risiko terhadap aset perusahaan AS di kawasan tersebut.
“Penargetan berkelanjutan terhadap infrastruktur semacam itu dapat meningkatkan premi risiko pada aset-aset perusahaan AS di Timur Tengah dan menekan valuasi, terutama di sektor teknologi,” ungkap Kepala Ekonom QiLai Research Institute Pan Xiangdong.
Tantangan Kebijakan dan Ancaman Dedolarisasi
Ketidakpastian juga muncul dari arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi berubah jika konflik memicu lonjakan harga energi global.
Jika inflasi meningkat, The Fed diperkirakan menunda rencana penurunan suku bunga yang sebelumnya diisyaratkan.
Profesor keuangan Universitas Birmingham Hisham Farag menyebut negara-negara mulai mencari alternatif selain dolar AS.
“Negara-negara semakin memperhatikan risiko politik yang berkaitan dengan sistem dolar AS dan sedang menjajaki alternatif seperti memperluas penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal dan mendiversifikasi aset cadangan,” ujarnya.
Tekanan tambahan datang dari meningkatnya penarikan dana di pasar keuangan AS, termasuk pada perusahaan besar seperti BlackRock, Blackstone, dan Morgan Stanley.
Ekonom Guo Shengxiang memperingatkan risiko sistemik jika tren penarikan dana terus berlanjut di tengah konflik.
Pan Xiangdong menambahkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi melemahkan sistem petrodolar dan mempercepat tren dedolarisasi global.
“Konflik yang berkepanjangan dapat melemahkan kerangka kerja petrodolar, mempercepat dedolarisasi, dan memicu peninjauan ulang secara struktural terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS,” katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







