Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Konflik Timur Tengah Rusak Puluhan Aset Energi, IEA Peringatkan Krisis Global Berkepanjangan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Konflik Timur Tengah Rusak Puluhan Aset Energi, IEA Peringatkan Krisis Global Berkepanjangan
Foto: Ilustrasic - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah, termasuk di antara kapal pertama yang mencapai India setelah krisis Timur Tengah, terlihat di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi (sumber: Anadolu)

Pantau - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) melaporkan lebih dari 40 aset energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu dan mengganggu rantai pasokan energi global.

Kerusakan Aset dan Gangguan Pasokan Energi

Kerusakan tersebut mencakup ladang minyak, kilang, dan jaringan pipa yang menjadi komponen vital dalam produksi serta distribusi energi dunia.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan dampak kerusakan ini berpotensi berlangsung lama bahkan setelah konflik berakhir.

Ia mengatakan, "Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi."

Gangguan besar juga terjadi pada jalur distribusi utama, termasuk hampir terhentinya pengiriman energi melalui Selat Hormuz sejak awal Maret.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari yang biasanya melewati jalur tersebut terdampak, sehingga memicu kenaikan biaya pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia.

Birol membandingkan dampak krisis ini dengan gabungan dua krisis energi besar sebelumnya.

Ia mengatakan, "Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global… perdagangan mereka semua terganggu."

Dampak Global dan Upaya Penanganan

Dampak gangguan ini sangat dirasakan negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

IEA berencana melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat guna menstabilkan pasokan global.

Langkah tambahan berupa pelepasan cadangan lanjutan akan dilakukan jika gangguan terus berlanjut.

Birol juga menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi krisis energi ini.

Ia mengatakan, "Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi… pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus."

Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai menjadi kunci utama dalam memulihkan aliran energi global.

Konflik yang dipicu serangan sejak 28 Februari tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.

Penulis :
Arian Mesa