Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Ancam Tebar Ranjau Laut di Teluk Persia Jika Diserang AS dan Israel

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Iran Ancam Tebar Ranjau Laut di Teluk Persia Jika Diserang AS dan Israel
Foto: (Sumber : Arsip - Kapal milik Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) terlihat dalam sebuah upacara peringatan Hari Teluk Persia Nasional di Teluk Persia dekat Bushehr, Iran, Senin (29/4/2024). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa..)

Pantau - Iran mengancam akan menebar ranjau laut di seluruh Teluk Persia jika Amerika Serikat dan Israel menyerang pantai atau pulau-pulau milik negara tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Dewan Pertahanan Nasional Iran dalam laporan kantor berita Fars pada Senin.

Dewan itu menyebut setiap upaya “musuh” untuk menargetkan wilayah pesisir atau pulau Iran akan dibalas dengan pemasangan ranjau laut di jalur akses dan jalur komunikasi di kawasan Teluk Persia.

Langkah tersebut, menurut mereka, dapat membuat seluruh kawasan Teluk Persia menghadapi kondisi serupa dengan Selat Hormuz yang tertutup dalam waktu lama.

Dewan Pertahanan Nasional Iran menyatakan berbagai jenis ranjau laut akan digunakan dalam skenario tersebut.

Ranjau yang dimaksud termasuk ranjau terapung yang dapat diluncurkan dari wilayah pantai Iran.

Pernyataan tersebut memperingatkan bahwa pemasangan ranjau di jalur laut dapat menutup jalur pelayaran penting di kawasan tersebut.

Mereka juga menegaskan bahwa tanggung jawab atas konsekuensi tersebut akan berada pada pihak yang memulai serangan.

Dewan tersebut juga menyatakan negara-negara yang tidak terlibat konflik hanya dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman melalui koordinasi dengan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.

Gangguan terhadap jalur tersebut sejak awal Maret disebut telah meningkatkan biaya pengiriman serta mendorong kenaikan harga minyak global.

Eskalasi konflik kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara yang menampung aset militer Amerika Serikat di kawasan.

Penulis :
Ahmad Yusuf